Senin, 10 November 2008

Shalat di Mall, Why Not..?

Pengalaman shalat di mall sudah barang tentu pernah dialami oleh banyak orang. Di era dimana konsumtifisme sedemikian telah merasuki banyak orang, sehingga produsen yang menciptakan suatu produk tertentu akan habis-habisan untuk mengalokasikan sebagian besar biaya produksinya pada upaya bagaimana menanamkan pada pesan dan kesan di benak konsumen agar senantiasa menggunakan produk ini. Saat kita membeli produk Coca-Cola maka sebenarnya telah mengeluarkan diatas 85% diluar air minum yang kita butuhkan, yang sebagian besar berupa biaya iklan. Sehingga banyak orang yang setiap harinya menghabiskan waktu di mall-mall, untuk memuaskan dahaga berbelanja, berjalan-jalan, mengenal produk-produk baru, atau sekadar hanya untuk cuci mata.

Fokus saya bukan itu. Melainkan pengalaman saat tiba waktu shalat maka ada banyak hal yang mungkin kita lakukan. Pertama, mungkin kita mencari tempat shalat atau mushalla di mall tersebut. Ada juga yang masih bersantai ria meneruskan aktivitasnya berbelanja, dan melaksanakan shalat di waktu berikutnya kalau masih ada waktu. Ada juga yang melaksanakan dengan menjamak atau menyatukan shalat, tentu saja dengan tingkat keyakinan tertentu untuk meyakinkan diri bahwa itu boleh dilakukan, dan ini yang di masa lalu sering aku lakukan. Alasannya, Jakarta yang macet dan crowded, di jaman Nabi kan tidak pernah terjadi, sehingga diperbolehkan untuk menjamak. Ide ini, kalau benar pahalnya dua, kalau ternyata di kemudian hari ternyata salah, maka pahalanya hanya satu, begitu aku selalu bilang untuk memperkuat keyakinanku di masa lalu.

Tidak banyak orang yang mengalami pengalaman yang menyenangkan mengenai tempat shalat di mushalla di mall. Ada banyak persoalan. Misalnya lokasi mushalla yang terpencil, di basement yang cukup jauh untuk dijangkau, informasi yang kurang jelas, mushalla yang kurang representative, tempat wudhu yang kurang memadai, mushalla yang terkesan kurang terawatt dan lain- sebagainya.

Pengalaman yang paling menyenangkan untuk shalat di mall, terkait dengan hal diatas, barangkali aku temukan saat shalat di sebuah mall yang berlokasi di kawasan paling elit di Jakarta, yakni di kawasan niaga Sudirman. One Pasific Place, dimana di tempat itu juga ada hotel Ritz Carlton. Tempat ini sangat memadai untuk shalat, dilihat dari lokasinya yang berada di tengah mall, tempat wudhu yang sangat bersih, tempat shalat yang sangat nyaman. Belum lagi saat kita masuk ke ruangan hall mushalla maka kita akan disambut oleh pasangan laki-laki dan perempuan, dengan pakaian melayu dan dengan sangat santunnya menerima tas atau sepatu kita untuk ditempatkan di tempat yang telah ditentukan. Dengan sapaannya, Assalamu’alaikum dengan tangan yang ditangkupkan di depan dada, saat kita masuk ke area mushalla ataupun saat kita meninggalkan mushalla.

Tempat yang nyaman untuk shalat memang tidak sangat terkait dengan kemegahan, akan tetapi apabila kemegahan digunakan untuk mendukung kenyamanan dalam beribadah maka tentu saja akan membuat ibadah menjadi pengalaman yang menyenangkan. Namun perlu digarisbawahi bahwa ukuran ibadah tentu saja bukanlah kemegahan, melainkan kebersihan dan kenyamanan. Dan tentu saja itu memerlukan tingkat kejelian dan concern yang pada tingkat tertentu masih cukup rendah pada pengelola manajemen buiding mall-mall di Indonesia. Ini berbeda dengan One Pasific Place, atau di dalamnya ada hotel Ritz Carlton yang dimiliki oleh Singapore, sebuah Negara yang jauh dari religiusitas namun ternyata justru sangat peduli dengan kebutuhan religiusitas pengunjung mall, dan mengalokasikan dana untuk memenuhi kebutuhan spiritual pengunjung mall yang sebagian besar membutuhkan hal ini.

Menemukan Relevansi Asmaul Husna

Hari ini aku mengalokasikan waktu satu hari dan terpaksa bolos kerja untuk memulai menghapal nama-nama indah yang bila dilantunkan melalui dzikir dengan sangat syahdu akan membawa kita lebih mengenal diri dan mengenal siapa di balik penciptaan kita dan alam semesta ini. Asmaul Husna. Tentu bukan suatu yang mengada-ada saat dalam suatu hadits disebutkan bahwa barang siapa yang hapal dengan 99nama Allah maka akan dijamin masuk surga. Dan ajaib, setelah mengalokasikan waktu seharian untuk concern dengan upaya menghapal asmaul husna, saat ini aku telah hapal! Tapi tentu tidak sesimple itu untuk masuk surge, karena orang akan mudah sekali masuk surge dengan hanya menghapal asmaul husna, yang upaya seharipun rasanya sudah cukup, sebagaimana yang aku alami. Tentu saja maksudnya bukan sekadar hapal saja, namun menghayati makna dan mengamalkannya. Karena tiap-tiap nama memiliki makna dan implikasi yang sangat jauh terhadap character seseorang. Misalnya saat kita memahami makna Ar Rahman, Maha Pemurah, maka akan memberikan implikasi agar kita selalu mengasihi dan menyaangi sesama dengan tulus, jauh dari rasa pelit dan menghamba pada materi. Al Quddus akan memberikan inspirasi agar kita selalu menjaga kesucian diri, kesucian badan dan kesucian jiwa, berpikir, dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Al Mutakabbir Yang Maha Megah akan menginspirasi kita untuk tidak bersikap sombong, takabbur, karena sebagai hamba memang sama sekali tidak pantas untuk berperilaku itu. Seorang hamba yang dari tiada, hina dan tak berdaya menjadi ada di dunia sehingga tak pantas untuk berjalan di muka bumi dengan bersombong ria. Al Fattah Maha Menyingkap akan memberikan inspirasi kepada kita untuk selalu membuka hati untuk kebaikan.

Hari itu aku memulai untuk menghapal 99Asmaul Husna, dalam suatu pelatihan yang bertajuk GeMAH, Gerakan Moral Asmaul Husna, yang diakan oleh esq leadership center. Ada beberapa metode yang digunakan untuk menghapalkan. Metode pertama adalah melalui irama dzikir. Pertama kali aku mendengar lantunan dzikir ini adalah saat I’tikaf di medjid Sunda Kelapa, yang lirik dan iramanya persis seperti yang dipakai di esq maupun majelis dzikirnya AA Gym. Terasa begitu menyentuh dan syahdu. Metode kedua adalah visualisasi ruangan. Sedangkan metode ketiga adalah untuk menghapal artinya dengan metode 25 nabi Rasul, sebuah jembatan keledai yang didesain untuk membangun dan mengaktifkan otak kanan kita sehingga imaginasi bisa dioptimalkan.

Alhamdulillah, dengan metode lagu aku bisa menuntaskan untuk sekadar menghapalkan 99 asmaul husna. Betapapu 99Asmaul Husna adalah bilangan yang menunjukkan angka kebesaran Allah yang disebut dalam Al Qur’an, yang itu adalah simbol saja, dimana asma Allah ada 99. Kebesaran Allah sendiri sesungguhnya tidak terhingga (unlimited names), sebanyak dan seluas kekuasaan dan kebesaranNya. Kita diciptakan dengan penuh kesempurnaan dan diberikan kenikmatan dan anugrah yang luar biasa banyaknya, misalnya proses kelahiran kita dari tiada menjadi ada di dunia. Al Khaliqu yang berarti Pencipta, Al Bari’u yang berarti yang mengadakan. Al Mushawwiru yang berarti pembentuk rupa. Dari setetes air sperma yang dibuahi dalam rahim seorang ibu, lalu ditiupkan ruh olehNya. Kemudian dibentuk dengan diberikan mata, hidung, telinga, lidah, kaki, otak yang terdiri dari jutaan syaraf, jantung, paru, usus, ginjal empedu. Lalu diberikan tulang, daging, kulit, rambut, pori-pori, dan masing-masing berfungsi sesuai kodratnya. Jantung mulai berdetak, anggota tubuh lain mulai bergerak dari saat itu sampai akhir hayat. Dari kecil saat tidak berdaya, lalu dengan mekanisme yang sangat sempurna Allah menurunkan sifat Pemurah melalui orangtua yang memelihara kita dengan penuh kasih sayang hingga bisa mandiri.

Kebesaran Allah lainnya adalah ciptaannya berupa makrokosmos. Bumi, bulan, matahari, planet, bintang, tatasurya yang bertebaran di malam maia yang tidak terhitung jumlah dan luasnya. Seorang astronomer dari Australia Simon Driver mengatakan bahwa jumlah bintang lebih dari 70 sixtillion, 70 pangkat 7. Katanya, seandainya manusia bisa menciptakan bintang dengan kapasitas produksi satu bintang permenit maka manusia baru bisa menciptakan bintang-bintang itu selama 2.220 milyar tahun. Itulah salah satu contoh keberasan Allah, asmaul husna, selama ini sering tidak kita sadari. Kesadaran pentingnya mengenal diri dan mengenal Allah akan membawa kita untuk mengenal nama-namaNya, yang dalam Al Qur’an disebut sebanyak 99 nama.

Setelah hapal, tentu saja berikutnya adalah bagaimana menghayati dan mengamalkannya. Dan ini tentu jauh lebih sulit. Menghapal adalah satu hal, sedangkan menghayati adalah hal lain. Demikian pula, mengamalkannya adalah hal yang jauh berada di atas kedua hal sebelumnya. Saat ini mungkin aku baru saja bisa menghapalkannya. Namun siapa tahu dengan menghapalkannya maka setiap saat hati ini akan terjaga dengan apa yang kita ucapkan, kita affirmasikan dan kita lantunkan melalui dzikir yang syahdu secara terus-menerus.

Dua Memecah Rekor

Apa yang terjadi pada weekend kemaren, tanggal 25 Oktober, barangkali telah memecahkan rekor acara syawalan/ reuni yang pernah kuikuti dalam beberapa tahun terakhir. Kenapa? Demikian banyak yang hadir, sekitar seribuan orang, yang terdiri dari teman-teman dalam satu komunitas f7 Jogja dan jaringannya di kota-kota sekitarnya seperti Semarang dan Purwokerto. Emang pernah aku menghadiri sebuah acara reuni, misalnya yang diadakan oleh Kagama Pusat beberapa tahun lalu, di Balai Sudirman Tebet, yang dihadiri oleh lebih dari seribu orang dari berbagai fakultas dan angkatan yang pernah kuliah di ugm jogja. Namun betapapun acara itu terlalu besar range usianya sehingga tidak terlalu cair. Jadi rekor yang kumaksud pada acara weekend itu, pertama adalah jumlah peserta syawalan terbesar yang pernah kuikuti, yakni menembus angka empat digit. Penyebutan angka ini sebenarnya juga agak absurd, semacam jumlah peserta pada demonstasi mahasiswa yang diklaim oleh mereka sendiri sebagai pelaku versus pihak lain seperti media massa atau aparat sebagai pengamat. Biasanya menurut versi pelaku, jumlah yang hadir pasti lebih banyak dibanding menurut pihak lain, yang entah bagaimana tingkat validitas dan metode perhitungannya. Namun berapapun jumlah pastinya, yang jelas peserta syawalan kemaren menurutku telah memecahkan rekor jumlah peserta syawalan terbesar yang pernah kuikuti. Lalu, rekor kedua apa? Masih ada kaitannya dengan acara ini, yakni waktu terlama aku menjalani syawalan dimana aku berada di tengah-tengah teman-teman Jogja selama 35 jam tuk berdiskusi, bercanda dan bernostalgia bersama.

Acara resmi syawalan itu sendiri mungkin terkesan agak politis, --dan sempat menghiasi setengah halaman harian Republika keesokan harinya--, dimana mengundang beberapa nama calon presiden yang banyak menghiasi media massa saat ini, namun ternyata hanya ada satu orang calon presiden yang datang. Seorang yang sebenarnya cukup dikenal punya kapabilitas dari kalangan akademisi dan mungkin cukup punya komitmen, namun kenyataannya itu tidak cukup sebagai modal untuk menjadi calon presiden, karena tidak punya massa pendukung, yakni Dr. RR. Pernah menjadi menko perekonomian di era Gus Dur namun ternyata prestasinya juga tidak terlalu mentereng. Kalo gak salah punya andil dalam cuci gudang jual asset bumn yang dilanjutkan secara besar-besaran di era mbok Megawati dengan Laksamana Sukardi sebagai brokernya. RR secara solo tampil berorasi sebagai calon presiden, yang dilanjutkan dengan beberapa kalangan untuk menyampaikan aspirasinya seperti AR sebagai ketua panitia, ES, KAR, dan LHH. Ada beberapa politisi yang hadir, misalnya Bang ZH dari PAN. Juga ada yang disebut-sebut di beberapa media massa sebagai calon presiden beberapa tahun ke depan, dan satu-satunya orang Indonesia yang masuk dalam 100 most of top intellectual in the world, yakni ARB, namun sayangnya tidak diberikan kesempatan untuk berbicara di forum itu. Emang seperti yang dibilang mas AR, pada acara ini sebenarnya berkumpul banyak orang yang layak untuk berorasi, namun betapapun waktunya sangat terbatas sehingga hanya diwakili orang-orang yang telah memiliki cetak biru sebagai leader komunitas f7 di masa lalu, dan Anies tidak masuk kriteria ini. Waktu makan aku sempat ngobrol sama Anies, soal kesibukannya begitu nampe ke Indonesia. Salah satunya, kata dia, belum bisa memanage kartu ucapan lebaran. Aku juga sempat complain, dalam dua tahun sms lebaranku dibalas oleh ARB, tapi dibalas dengan forward inboxnya. “Wah, itu berarti terkirim secara automatic Fiq..”, kata dia dengan senyumnya. Adikku, Amin dari Jogja juga datang, dan tanpa telponnya tadi malam mungkin aku lupa dengan acara ini.

Dalam acara-acara seperti ini biasanya ada dua kelompok yang muncul secara alamiah. Yang pertama adalah orang-orang yang istiqomah dengan topic acara dan memiliki concern yang tinggi terhadap setiap pembicara pada acara ini. Yang kedua adalah orang-orang yang tidak peduli dengan topic acaranya. Aku termasuk yang masih memiliki sedikit rasa peduli namun sayangnya tidak sempat memperhatikan topic acara maupun pembicara yang tampil karena membentuk jamaah sendiri, bernostalgia dengabn beberapa teman yang sudah lama tidak ketemu. Di barisan belakang aku ngumpul bersama SG, IG, ANB, DF, AM. Kalo ada SG seperti biasa maka pembicaraan akan didominasi tentang topic trading di capital market yang kata Sugeng sudah menjadi jalan hidupnya. Dalam kondisi pasar yang volatile dan turbulens saat inipun, saat aku tahu banyak trader yang merugi dalam jumlah besar, diantaranya juga Sugeng, namun ternyata hal itu tidak menyurutkannya untuk tetap concern dengan dunia ini. Sekilas aku tahu bahwa dari wajahnya yang tampak capek, mungkin ada hubungannya dengan kondisi pasar yang telah menggerus keuntungan atau bahkan modal bertahun-tahun, sebagaimana yang dia katakan bahwa besarnya size trading dan kapasitas serta pengalamanan main di pasar berbanding lurus dengan tingkat kerugian yang dideritanya.

Krisis finansial yang melanda Paman Sam ternyata berdampak ke semua capital market seluruh dunia, entah nantinya bisa semakin serius atau tidak. Serius tidaknya dampak krisis finansial ke negara lain, menurutku tergantung apakah dampaknya hanya akan terbatas pada capital market dan beberapa finansial institution atau bahkan sampai ke sektor riil. Kalau hanya sampai pada turunnya harga saham, menurutku itu hanya dampak karena investor asing, para investment bankers menarik dananya pada capital market di seluruh dunia, termasuk Indonesia, karena dananya tergerus oleh subprime mortgage. Sehingga wajar kalo penarikan dana mendadak ini akan mendrive sentimen investor lokal sehingga harga saham semakin hancur. Dampak serius akan terjadi manakala krisis akan merambah ke sektor riil, misalnya para pengusaha akan kehilangan peluang mendapatkan dana dari bank, akibat banknya juga terbelit krisis likuiditas. Sejauh ini, ada beberapa bank yang memang mengalami kesulitan likuiditas, tapi harus dikaji lebih lanjut berapa share dari dampak krisis finansial dari luar, penyebab krisis likuiditas dari eksternal dan global ataukah internal. Awal dari krisis di Paman Sam sendiri pada awalnya dari bank, mirip krisis di Indonesia tahun 1997. Saat the Fed menurunkan tingkat suku bunga, Fed fund rate sampai sebesar 1%, maka banyak bank yang mengucurkan kredit perumahan, mirip kpr di Indonesia. Karena bunga rendah maka banyak yang mengajukan kredit secara besar-besaran, apapun profesinya. Bank juga mengalami moral hazzard dan mengabaikan prinsip-prinsip prudential banking. Lalu, karena bank ingin secepatnya ekspansi maka portfolio mortgage dibundle dan dijual ke investor, melalui proses sekuritisasi aset. Investment Bank selanjutnya membuat bond/ notes yang berbasis kredit perumahan dan menjual bond/ motes tersebut ke capital market, yang sering disebut sebagai mortgage back securities, atau surat utang yang berbasis pada kredit perumahan/ mortgage. Investment Bank yang mendapatkan dana dari investor menanamkan dananya ke berbagai instrumen saham di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Adapun surat utang yang berbasis pada mortgage yang berpenghasilan rendah dan rentan pada volatilitas tingkat suku bunga disebut subprime mortgage. Krisis ini terjadi ketika terjadi the Fed menaikkan bunga dan berdampak pada debitur berpenghasilan rendah, maka subprime mortgage mengalami kejatuhan harga. Investment Bank mengalami default, sehingga menarik dananya dari capital market di seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia. Selanjutnya mereka menukar dananya ke US sehingga mengakibatkan nilai tukar mata uang lokal terdepresiasi. Dampaknya, harga saham melorot, dan para investor lokal, seperti Sugeng dan aku pun menggigit jari.

Dia bilang ada satu stock bank swasta yang menjanjikan potensial gain pada tanggal 1 Desember 2008 karena telah deal tender offer dengan investor baru dengan nilai yang lebih tinggi dari market value saat ini. Banyak teman-teman yang comment, namun aku yakin tidak ada yang memiliki keberanian untuk menjadi trader. Emang kebanyakan teman seneng diskusi, memiliki kapasitas teori yang lumayan karena beberapa diantaranya berprofesi sebagai dosen, namun tidak memiliki feeling dan keberanian untuk terjun langsung kayak Sugeng. Aku tahu, berdasarkan feeling, saat-saat volatile seperti ini, harga saham bisa anjlog ke titik yang makin rendah, tapi bisa juga tiba-tiba melonjak drastis karena kejatuhan sudah sangat dalam sehingga berpotensi technical rebound. Aku sendiri, yang sempat belajar 2,5 tahun di dunia capital market, namun kondisi pasar yang lagi volatile dan turbulenc seperti ini ini, juga modal yang telah tergerus habis, maka tidak lain hanya memilih untuk menjadi pengamat saja. Kenapa? Pertama, modal udah habis. Kedua, perlu waktu untuk memperkuat mental. Ketiga, perlu mempertajam analisis teknis.

Sempat ngobrol juga sama mas Ridho, pewaris pondok pesantren Gontor yang ternyata lebih concern dengan pengembangan bisnisnya di bidang perkayuan, kontraktor, penerbitan dan lainnya. Juga sempat ngobrol sama Anies Baswedan saat antri makan. Berbincang dengannya, emang seperti yang dikatakan banyak orang, ada semacam aura leadership pada dirinya, yang jauh lebih menonjol dibanding saat kami dulu bersama-sama dalam satu training tingkat dasar di komunitas f7. Aura leadership yang muncul dari personality, yang kurasakan berbeda saat bertemu dengan CEO suatu perusahaan atau pemimpin partai politik atau ormas sekalipun. Aura kepemimpinannya emang sudah terasa saat aku kenalan dengannya di sebuah training tingkat dasar di komunitas f7 tahun 1990an. Saat itu dia dikenal sebagai leader kelompok mahasiswa yang cukup elitis di Jogja, yakni Tanah Merdeka, berapa kali tampil di teve local. Betapapun setelah itu waktu telah membentuk jiwa leadership Anies, setelah teruji kemampuannya di saat krisis sebagai seorang leader mahasiswa di senat mahasiswa ugm yang telah menempatkan dia sebagai salah satu leader mahasiswa yang disegani dalam level nasional. Saat beberapa temannya mengambil peluang dimana kondisi politis sangat memungkinkan untuk melakukan lompatan karir, baik jabatan politis, birokrasi maupun bisnis, saat banyak yang mempertanyakan dimana gerangan seorang Anies, yang tampak tidak tertarik dengan hal-hal jangka pendek sebagaimana yang didapatkan teman-teman lainnya. Saat ada beberapa teman yang karena perubahan situasi politik, bisa menempatkannya menjadi komisaris di sebuah bumn, atau seorang menteri, ataupun seorang anggota legislative, maka dia justru menghabiskan waktu untuk ambil kuliah s2 dan s3 di Maryland University, Amrik. Dan saat ini, ketika kembali ke tanah air maka seorang Anies telah memiliki justifikasi yang cukup mentereng sebagai seorang intelektual, satu2nya yang masuk dalam 100 most intellectual in the world versi Amrik, maka ARB pun tidak sulit untuk menemukan posisinya yang pas. Apalagi dengan jabatan barunya sebagai rector di universitas Paramadina, dalam usianya yang masih sangat muda, 38 tahun.

Acara berakhir jam 1400, dan secara resmi telah ditutup, namun masih banyak yang menghabiskan waktu di tempat itu sampai beberap jam setelahnya, maklum acara ini adalah syawalan. Amien adikku langsung pulang ke Jogja.

Sedangkan banyak teman-teman Jogja yang masih bertahan disini karena malam harinya masih ada acara diskusi. Aku ikut rombongan ke Tebet, dimana teman-teman menempati salah satu kantornya mas NM dan Mas AR, yakni Bright Institute, di Kuningan sebagai base camp. Aku semobil bersama dengan Lukman, seorang teman yang sekaligus mentor kami saat kuliah, sekarang hijrah dari dosen di Jakarta ke Solo, DDM, seorang teman yang kuliah di salah satu universitas swasta di Jogja, juga melakukan hijrah akademis sehingga mencapai level doctor syariah, tinggal di kota Malang, dia adalah suaminya Inti, temanku sekampung saat smp. Lalu Ahmad Niam teman dari ftp ugm. Rombongan teman lain menggunakan bis, menuju lokasi yang sama. Ngobrol dengan teman2 seperti ini selalu menginspirasi. Bertemu dan ngobrol dengan mantan mentor saat mahasiswa seperti Lukman misalnya, tentu tidak setiap saat bisa terjadi. Sempat ngobrol sama Lukman soal film Laskar Pelangi, tentang pesan-pesan moral yang kami tangkap dari film itu.

Berada di suatu tempat dimana berkumpul sekitar 40an orang, yang masa lalunya memiliki tingkat concern yang sama dalam wadah perjuangan yang sama, selama beberapa jam, aku menemukan suasana yang mengembalikan memoriku beberapa tahun lalu saat di Jogja. Di masa lalu, saat-saat kumpul dengan teman-teman ini, saat berkumpul, entah dalam jumlah berapapun, pasti ada saja hal penting yang dibicarakan. Aku membayangkan bahwa sampai saat inipun kalo teman-teman sering berkumpul seperti ini maka pasti akan menghasilkan banyak output, kalau tidak berupa hal kongkrit, ya minimal sesuatu yang ada di awang-awang pun tetap kita anggap sebagai sesuatu bentuk abstraksi yang kongkrit, meski abstrak tetap saja dianggap kongkrit. Seperti kali ini, yang ngumpul di rumah ini mungkin ada sekitar 40 an orang, terdiri dari teman2 dari Jogja, Semarang dan Purwokerto. Di setiap ruangan ada forum diskusi yang kesemuanya asyik membahas sesuatu hal yang entah apa itu. Di salah kamar atas, aku masuk ke ruang diskursus yang disitu ada Harjono, seorang Caleg dpr ri dari partai golkar, mantan ketua jamaah shalahuddin ugm, Ahmad Syafiq, yang dimasa mahasiswa dikenal tangan kanannya pak Amien Rais, mas Faried ketua jaringan wartawan dari Jogja, dan Defiyan Cori yang di masanya saat ini masih tampak masih kondisten dan idealis dengan dunianya. Kami mendiskusikan tentang situasi politik kontemporer dan Teori-teori demokrasi, soal krisis energy global, soal korupsi dan lain sebagainya. Agak lucu juga, Harjono yang mantan pemimpin jamaah shalahuddin, saat ini menjadi seorang caleg partai yang dulu sama-sama kita tentang habis-habisan, sudah tampak memposisikan diri benar-benar sebagai seorang caleg. Tampak tangkas mempresentasikan teori-teori dan pemahamannya tentang angka-angka dalam apbn, yang pemahamannya tampak meningkat pesat setelah dia menjadi caleg. Mas Faried dan Syafiq, apalagi Defi, seperti yang kukenal selama ini, masih tampak kritis dengan situasi yang ada.

Menjelang sore hari 40 orang yang ada dikumpulkan oleh mas Awalil untuk saling share dalam satu forum. Agak kaget juga ternyata yang hadir saat ini adalah mereka para saksi sejarah penting dalam terbentuknya jaringan f7, seperti mas Khaeron AR dan teman-teman seangkatannya. Acara yang awalnya hanya untuk saling mengenal, tapi ternyata banyak mengungkap sejarah terbentuknya komunitas ini, yang tidak banyak orang mengetahui detil peristiwanya.

Malam hari kami melanjutkan diskusi ke Kuningan, yang malam ini dihadiri oleh sekitar 70an orang. Bang ZH, seorang anggota dpr dari fraksi PAN menyebut bahwa sejak siang hari tadi sudah berkumpul banyak orang, sekitar 1000an dan dilanjutkan malam ini, maka satu-satunya actor adalah AR. “Kalau di jaman Pak Harto, gampang saja membubarkan acara seperti ini. Culik saja AR, maka acara sejak tadi siang sampai malam ini gak akan ada”, katanya. “Tapi jaman sekarang, siapa yang akan nangkap AR, biaya untuk nangkap aja lebih besar dari hasilnya, malah bikin repot yang nangkap aja”, tambahnya, disambut ger oleh hadirin. Fahmi Radhy, dosen feugm, masih saja konsisten menyampaikan keprihatinan pada kondisi ekonomi Indonesia dewasa ini. Dan sebagian besar yang berbicara pada forum ini memang lebih banyak menyampaikan pesan keprihatinan. Sayang, seorang alumni yang selama ini kita kenal vokal dan konsisten seperti mas Revrisond Baswir tidak hadir malam ini.

Malam habis acara aku ngumpul bersama dengan teman-teman dari Jogja, yakni FW yang saat ini aktif di sebuah lsm di Jogja, IS anggota dprd Jogja dari fraksi PAN, Rimbananto ketua KPUD Jogja, juga ANB dan beberapa teman lain. Kami menginap di wisma diy, diantara dari kami adalah pejabat daerah. Malam hari berlanjut diskusi sampai larut malam. Lalu keesokan harinya kami menelepon salah satu teman, ARM, yang asli di sebuah desa di lereng Gunung Merapi. Kami bersama-sama melanjutkan kebersamaan ke rumah Bukhari, salah satu teman, di Depok, yang saat ini terjun total sebagai entrepreneur dalam bisnis gas. Dari rumah Bukhari berlanjut ke rumah Musyafak, dan terakhir ke rumah Arbain. Imam Suja’i bilang bahwa sungguh menderita orang Depok yang bekerja di Jakarta seperti Arbain, karena waktu tempuh perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan.

Selepas dari Depok tinggal kami berdua, aku dan Aris. Yang lain naik taksi ke Bandara karena harus mengejar flight jam 1700. Aku mampir sejenak di rumah ARM, yang isterinya, DT, adalah teman satu angkatanku di feugm. Dia bilang sempat melihatku waktu nonton film Laskar Pelangi di XXI, namun tidak sempat menyapa karena crowded. Kami sempat mendiskusikan tentang film ini. Sebagiamana tadi malam, aku juga sempat diskusi dengan Lukman Hakim Hassan soal film ini.

Menjelang magrib aku pulang ke rumah. Rasanya mendadak sepi, setelah menjalani kebersamaan selama 35 jam bersama teman-teman dari Jogja. Selama 35 jam, terasa berapa rasa kangen dengan suasana yang pernah kita rasakan bersama di Jogja tertumpah, dengan bercanda bersama, berekspresi bersama, dengan latar belakang saat ini yang berbeda-beda profesi, namun sama-sama merasakan kerinduan yang sama dengan masa lalu. Kebersamaan itulah yang kita rindukan. Diskusi-diskusi yang terbangun itulah yang kita rindukan. Rasa idealisme itulah yang kita rindukan. Ketulusan dan persahabatan itulah yang kita rindukan. Obrolan-obrolan yang menyenangkan itulah yang kita rindukan. Ketawa lepas itulah yang kita rindukan. Aktivitas-aktivitas perjuangan itulah yang kita rindukan.

Senin, 20 Oktober 2008

Pelajaran Moral dari Film Laskar Pelangi

Sedikit mereview perjalanan setelah selama sepuluh hari berada di kampung, emang telah membawa perubahan suasana dan kebiasaan. Pertama, tentu saja soal makan, dan mungkin dampaknya. Ini hal yang biasa setiap tahun, saat pulang berlebaran maka salah satu concernku adalah menyusun schedul makan, dalam sehari entah berapa kali, yang jelas sudah diluar ambang batas normal. Kadang siang hari udah makan tiga kali. Tapi itulah, namanya juga perayaan ritual setahun sekali, rasanya teramat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Ternyata memori nikmatnya aroma dan cita rasa masakan kampung yang telah terekam dalam otak kita demikian kuatnya, sehingga saat sekarang pun masih merasa nikmat. Dan emang, diluar soal memori yang terekam secara subjektif dalam otak, soal cita rasa sepotong daging ayam kampung, seporsi mie ayam atau bakso ternyata emang sungguh-sungguh berbeda dengan yang biasa aku rasakan di Jakarta. Sampai-sampai aku harus agak menebalkan telinga saat orang tua komplain bahwa aku nyaris tidak pernah makan di rumah. Dampaknya? Mungkin soal berat badan, aku sengaja tidak terlalu memusingkan hal ini. Biasanya, berat badanku tidak mungkin dibawah 60 dan tidak mungkin melampaui 65. Saat ini, setelah selama 10 hari di kampung, sejujurnya aku tidak tahu apakah aku udah melampaui angka 65 kg. Biarkanlah, kupikir soal remeh-temeh seperti ini kan terlalu urgen buatku, setidaknya saat ini.

Kebiasaan kedua yang telah berubah, barangkali aku telah kehilangan jamaah yang bersamanya biasanya kita melakukan shalat shubuh bersama di sebuah musholla kecil di kampung, ngobrol bersama dan menikmati beberapa orang yang sedang tadarusan di musholla itu. Juga schedul rutinku yang selama ini telah terstruktur entah dengan mekanisme seperti apa, dimana setiap jam tertentu dan menit tertentu di malam hari seolah aku selalu dibangunkan oleh semacam the Invisible Hand untuk sholat dan sahur. Mungkin karena suasana kemaren adalah suasana ramadhan dan banyak malaikat-malaikat yang membantu umatnya agar memanfaatkan bulan diskon ini dengan merenung, membaca, tilawah dan shalat di malam hari. Pasca ramadhan, selama di kampung, hal ini tidak kurasakan lagi, seringkali bangun pagi, eh bangun siang dengan waktu yang cukup memalukan, terkadang saat matahari sudah cukup tinggi, dan aku belum shalat shubuh, meski di depan rumah ada musholla namun jarang dipakai berjamaah. Dan, waktu dua mingguan telah memporak-porandakan kebiasaan rutin yang telah terstruktur dengan rapi dan untuk mengembalikan kepada kebiasaan semula, sejujurnya, bukan perkara mudah. Saat ini hampir seminggu aku kembali ke duniaku di Jakarta, dan masih gamang dengan perubahan-perubahan tadi. Emang ternyata konsistensi dan sikap istiqomah secara terus-menerus.

Begitu sampai di Jakarta, hal yang ingin kulakukan adalah nonton film Laskar Pelangi, mumpung masih beredar di pasaran. Dan seminggu disini, aku sudah nonton dua kali. Pertama, nonton film sebelum baca novelnya Andrea Hirata. Yang kedua, nonton filmnya setelah aku membaca novelnya. Selama ini aku berpendapat, dan kebanyakan orang pada umumnya juga begitu, bahwa nonton film-film yang diangkat dari novel sukses semestinya haruslah baca novelnya terlebih dahulu, baru kemudian nonton filmnya. Sebut saja film Harry Potter, trilogi Lord of The Rings, The Da Vinci Dode's, The Bourne to Supremacy dan kawan2nya, film2 dari novel John Grisham, juga beberapa film lokal seperti Ayat-Ayat Cinta dan yang sebentar lagi akan beredar yakni Ketika Cinta Bertasbih. Selama ini, biasanya aku telah khatam baca novelnya, yang pastinya best seller, karena kalo enggak, tidak akan diangkat ke layar lebar. Dan biasanya, nyaris selalu terjadi, ada semacam kekecewaan bahwa kualitas film tidak sebagus novelnya. Kenapa? Karena ternyata otak kita telah terindoktrinasi oleh alur dan kronologi cerita yang telah kita tangkap dan kita rekam dalam memori kita saat membaca bukunya. Alur itu telah memenuhi memori kita, sehingga seringkali ada kekecewaan saat ada momentum-momentum tertentu yang ingin kita saksikan di film ternyata tidak ditampilkan sebagaimana yang ada pada novelnya. Padahal film dan novel adalah media yang tidak selalu berjalan dengan linear, dimana masing-masing memiliki keterbatasan untuk menyampaikan pesan kepada pembaca atau penontonnya, dan memiliki stressing yang berbeda pula, sehingga yang ada adalah kekecewaan saat memori yang telah kita bangun sejak membaca buku ternyata mengalami pengalaman yang berbeda dengan saat melihat filmnya. Kalau buku, nyaris tidak ada batasan waktu untuk mengeksplor imaginasi penulis maupun pembaca secara detil dan habis-habisan di setiap momentum, sedangkan film sangat dibatasi oleh waktu untuk menyampaikan pesan penting dan alur cerita yang terkadang mengandung simplifikasi dari alur cerita pada novelnya. Simplifikasi itu mungkin hal yang penting, atau juga mungkin tidak penting, menurut aku tergantung bagaimana kemampuan film ini sendiri menerjemahkan pesan moral yang ingin disampaikan kepada penontonnya, sebagaimana yang telah ditangkap oleh pembaca bukunya. Kenapa pesan moral? Sejujurnya, pesan-pesan moral inilah yang urgen pada film ini. Dan ternyata, aku baru saja mengalami pengalaman dimana menonton film tanpa terlebih dahulu membacanya ternyata lebih mengasyikkan daripada terlebih dahulu harus membaca novelnya. Karena saat kita duduk di bangku film, maka pikiran dan konsentrasi kita dalam keadaan zero, untuk menikmati sekuel demi sekuel alur cerita tanpa mengalami indoktrinasi alur cerita yang kita ketahui dari novel sebelumnya. Indoktrinasi itu akan lebih menjadi faktor pengganggu dalam menikmati film. Namun, tentu saja ini tidak mutlah, tergantung dari kualitas dan penghayatan filmnya juga. Kalau filmnya dikemas dengan kualitas tinggi maka penonton akan memperoleh pengalaman yang akan tertanam dalam memorinya dalam waktu yang lama. Seperti film Harry Potter misalnya, yang didukung oleh karakter yang kuat, animasi dan teknologi yang canggih dan alur cerita yang simpel maka seorang penonton yang tidak membaca bukunya pun akan mampu menikmati dan menghayatinya. Apalagi yang pernah membaca novelnya. Dan sejujurnya, film yang disutradarai oleh Riri, entah siapa nama panjangnya, ini sangat bagus, terutama dalam penciptaan karakter dan penyampaian pesan moral kepada penontonnya. Juga dalam menampilkan alam dan suasana kota di tahun 1974, budaya Melayu yang saat itu bagai terjajah oleh korporasi yang dikuasai oleh orang-orang Jawa.

Pengambilan karakter seorang bu mus yang dengan penuh komitmen tinggi, kasih sayang, perhatian, setia membimbing anak muridnya yang berjumlah 10 orang, yang disebutnya sebagai laskar pelangi, menjadikan beliau sangat mengagumkan dan bersahaja. Seorang guru muda yang cantik, yang memilih menjadi guru dibandingkan dengan menjadi isteri seorang saudagar. Dengarkan kata-katanya,"Saya tidak pernah bercita-cita menjadi isteri saudara Pak Cik. Saya ingin menjadi seorang guru, dan Pak Cik adalah orang yang pertama kali mengatakan bahwa saya bisa menjadi seorang guru," kata bu mus dengan senyumnya dan makeup tepung berasnya yang membuatnya tampak sederhana namun cantik. Kapasitas yang dimiliki oleh seorang bu mus, yang memberikan ruang yang luas bagi murid-muridnya untuk mengeksplor pengetahuannya, dan sedikit mengabaikan apa yang oleh guru lainnya disebut sebagai etika di kelas, misalnya mendebat pendapat gurunya, memotong pembicaraan dan lainnya. Bagi bu mus hal-hal remeh-temeh itu tidak penting dibandingkan dengan keinginan untuk mengembangkan suasana belajar mengajar yang kondusif bagi para anak siswanya. Sedangkan pak Arfan, yang dengan petuah dan pesannya yang sangat luar biasa kepada para siswanya, agar memiliki cita-cita dan memperjuangkan semaksimal mungkin dan sikap hidup lainnya, menjadikan beliau sebagai seorang kepala sekolah yang sangat konsisten, komitmen dan istiqomah. Saat banyak orang pesimis tentang keberlangsungan sekolah ini maka beliau mengatakan bahwa sekolah ini harus tetap ada, karena inilah satu-satunya sekolah yang mendasarkan nilai kecerdasan tidaklah diukur dari nilai-nilai pada rapor dan ujian melainkan dinilai dari hati. Inilah spiritual dan emotional quotient yang diterjemahkan dalam persepsinya saat sekolah dan masyarakat justru mempergunakan intelectual quotient berupa nilai rapor dan ujian sebagai satu-satunya parameter. Simak juga pesan beliau jadikanlah hidup dengan memberikan sebanyak-banyaknya dan bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya. Kata-kata yang simpel, namun inilah makna kebahagiaan yang hakiki, saat bisa memberikan sesuatu kepada orang lain dengan tingkat keikhlasan yang tinggi. Inilah spiritual happiness, yakni saat kita memberikan sesuatu kepada orang lain karena itu akan sangat menyentuh hati nurani kita, atau dalam bahasa lain God Spot, unconscious mind, soul, jiwo, atau etos kita. Sedangkan kebahagiaan yang sering dianggap sebagai perasaan bahagia sesungguhnya ada pada level yang lebih rendah, yakni physical happiness dan emotional happiness, yakni saat kita menerima sesuatu yang menyenangkan dari orang lain, bisa berbentuk penghargaan, perasaan atau fisik. Itulah makanya seorang seperti pak arfan dan bu mus tampak selalu bahagia dengan dunianya sebagai kepala sekolah dan guru pada sekolah yang paling miskin.

Menikmati film ini, memori ingatanku mau tidak mau terbawa ke masa kecilku, yang rentang waktu kejadiannya nyaris sama dengan yang diceritakan oleh Andrea Hirata. Andainya film ini bercerita tentang kisah nyata yang dialami oleh penulisnya maka mungkin usiaku hampir sama dengan usia Andrea Hirata, yakni masa sd di tahun-tahun 1975-an. Bukannya aku bermaksud untuk menyama-nyamain kejadian, background dan alur cerita di film ini namun sejujurnya saat aku nonton film ini, penghayatan terbesarku adalah saat aku mereview kembali perjalanan yang aku alami saat-saat itu, yang mungkin karena nyaris tak pernah aku lakukan review dan kontemplasi atas hikmah dari perjalananku sejak kecil maka saat nonton film ini aku sangat menghayati kembalinya masa kecilku saat itu. Aku agak tertawa malu saat aku sempat seolah menganggap bahwa aku di masa kecilku mirip dengan Ikal, yang mungkin merepresentasikan penulisnya, yakni Andrea Hirata. Padahal tentu saja, adanya beberapa kesamaan maka perbedaannya pun tentunya jauh lebih banyak, hahaha.

SD yang aku tempat menuntut ilmu, saat aku mulai belajar bersosialisasi dan mengenal teman saat itu adalah juga sd muhammadiyah, semacam sd muhammadiyah Gandong. Sebuah sd yang di awal-awal aku masuk, secara fisik sangat memprihatinkan apabila dibandingkan dengan sd lainnya. Padahal rumahku persis bersebelahan dengan sebuah sd yang waktu itu sangat favorit, dimana dengan satu lompatan dari pekaranganku saja maka aku sudah nyampai di sekolah tersebut. Di masa itu, kami bersaudara sering membanding-bandingkan antara sd favorit itu dengan sd muhammadiyah kami. Karena di kalangan keluarga besar kami saat itu sebagian ada yang menyekolahkan anak-anaknya ke sd muhammadiyah dan sebagiannya ke sd tersebut. Maklum, background keluarganya yang lumayan kental dengan tradisi keislamannya, pada kalangan tua rata-rata adalah tradisi nu karena mereka berasal dari pesantren-pesantren yang kebanyakan adalah berbasis tradisi nu. Sedangkan yang lebih muda rata-rata sudah mengenal tradisi muhammadiyah yang lebih modern. Untuk generasi keluarga ayahku termasuk yang lebih modern, dimana kebanyakan aktif di muhammadiyah. Upaya membandingkan kedua sekolah itu pada akhirnya seringkali membuat kami menjadi malu, rendah diri dan minder, karena begitu jauh perbedaan fasilitas dan prestasi kedua sekolah itu. SD negeri yang kumaksud itu telah dikenal sebagai sd favorit yang level akademisnya waktu itu telah dikenal tidak hanya di kota kami, melainkan juga sampai ke level kotamadya bahkan propinsi. Tidak lain dan tidak bukan adalah karena beberapa prestasi yang telah ditorehkan oleh beberapa murid, yang kebanyakan juga masih kerabat/ sepupuku. Misalnya, waktu itu, mas amien dan mas hono, yang mereka waktu itu adalah dua serangkai yang prestasinya mengangkat gengsi sd sampai ke level propinsi. mas amien ini kuliahnya satu universitas denganku, tentu saja di engineer, sebagaimana kebanyakan kakak-kakaknya, dan nyaris tidak lulus. Sedangkan mas hono yang dibawahnya, saat ini berkarir di telkom setelah s1 dan s2nya mendapatkan beasiswa dari telkom. Juga generasi di bawahku, aziz, sepupuku yang yatim, yang saat masuk kuliah di terima dimana-mana, ugm, itb, stan namun memilih beasiswa ke Jepang karena tanpa biaya, ditanggung oleh beasiswa sebuah bumn, ternyata programnya diputus di tengah jalan. Peminat untuk masuk ke sd favorit ini selalu membludag, namun ayahku lebih suka memasukkan kami semua, ke-7 anaknya ke sebuah sd yang waktu itu nyaris roboh, dan bocor disana-sini. Setiap kelasnya berisi 10-20 orang siswa. Kebanyakan yang masuk adalah, pertama tentu saja yang orangtuanya memiliki kesadaran untuk memberikan basic agama di tingkat dasar kepada anak-anaknya agar tidak sesat oleh pengaruh buruk syetan. Kedua, mereka yang orangtuanya adalah muhammadiyah. Ketiga, mereka yang relatif miskin karena sekolah ini meski swasta pasti lebih murah daripada sd negeri. Keempat, mungkin mereka yang lokasi rumahnya berdekatan dengan sekolah yang tidak ingin merepotkan anak-anaknya mencari sekolah yang jauh. Kami dari tujuh bersaudara kesemuanya bersekolah di tempat ini. Dan kebanyakan diantara kami adalah bintang kelas, kecuali aku tentunya. Entah saudara-saudaraku ini waktu itu bisa menjadi bintang kelas yang selalu bersinar dari kelas 1 sampai kelas 6 itu karena emang kelasnya tidak kompetitif, siswanya yang terlalu sedikit atau mungkin juga karena para gurunya terlampau segan dengan ayahku yang menjadi ketua muhammadiyah di kotaku. Tapi yang jelas, beberapa diantara saudaraku emang konsisten untuk menjaga potensi kecerdasan akademiknya, seperti kakakku yang paling besar, yang ternyata masih selalu the best setelah lulus dari sd, yang melanjutkan ke smp dan sma favorit di kotaku, dan mendapatkan beasiswa di perguruan tinggi teknologi paling favorit di negeri ini. Namun saat lulus dia tidak terlalu berambisi untuk menjadi engineer sebagaimana teman-temannya, yang mungkin mempengaruhi kehidupannya secara materi, namun toh dia tetap menikmati kehidupannya sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi swasta di kota bandung. Mungkin itu adalah cita-cita dan idealismenya, aku gak tahu. Lalu adikku yang perempuan, yang juga selalu the best, bahkan sejak sd sampai ke universitas yang termasuk terbesar di negeri ini, dengan jurusan yang paling susah, yakni kedokteran, dimana dia lulus cum laude, dan saat ini menjadi kepala puskesmas di kota kami dan mendapkan beasiswa untuk melanjutkan spesialis di universitas yang sama. Dia juga selalu the best di kelasnya, bahkan saat dia nyaris tidak lulus karena selama 4 bulan tergolek sakit sakit parah oleh penyakit yang tidak begitu jelas waktu itu, ternyata tetap saja sulit dikejar kompetitornya. Adikku yang satunya, amien, juga lumayan konsisten dalam prestasinya, dimana meski sempat kuliah di semarang, namun dia telah mengambil keputusan yang jitu saat pindah ke universitas yang sama denganku, beda jurusan. Dia juga cum laude, dan saat ini menjadi dosen muda yang telah lulus M.Scnya dari sebuah universitas di Eropa. Saudaraku yang lainnya mungkin tidak begitu mampu untuk menjaga konsistensi untuk selalu berada di puncak prestasinya. Aku sendiri yang paling tidak berprestasi di sdku, teteup saja, alhamdulillah, mungkin ada sedikit keberuntungan saat bisa masuk ke universitas tujuanku di kota pelajar. Mengingat sd sampai sma aku sangat dikenal bukan karena prestasi tapi karena saking badungnya.
Kembali ke sd muhammadiyah tadi, bukannya menyamakan kondisi yang ada di film, namun memang aku benar-benar merasakan bahwa sdku itu ibarat satu-satunya sd islam yang ada di kota kami waktu itu, dan tidak banyak guru yang mengajar kami, namun kesemuanya luar biasa. Bu MR, sang kepala sekolahku yang keras dan sering memanggilku karena berbagai kenakalan yang kubuat seperti mengendarai sepeda ke kelas dan mutar-mutar di dalam ruangan. Lalu Pak KM, adiknya bu MR. Beliau saat ini menjadi kepala sekolah yang kudengar paling sukses di kota kami. Mereke berdua yang paling lama mendampingi kami, mengajarkan tidak hanya materi-materi kurikulum yang terkadang dikemas sendiri oleh beliau, melainkan juga mengajarkan tentang sikap hidup. Salah satu keahlian beliau adalah mendongeng, pelajaran favorit kami, saat kami mendengarkan dengan seksama setiap kata yang beliau sampaikan.

Pada adegan di film, saat setelah hujan lebat dan banyak kambing yang masuk di kelas, aku juga teringat pada ruang kelasku yang setiap kali hujan maka tetesan-tetesan air dari langit akan sampai di meja kami karena banyaknya genteng yang bocor. Sekolah kami adalah sekolah yang berusia tua, beberapa ruang yang tidak bisa terpakai karena kerusakannya demikian parah, memaksa setiap anak untuk membayangan sesuatu suasana yang angker. Kelas kami terdiri dari belasan orang, tidak lebih dari 15 orang. Dalam acara reuni smp kemaren, beberapa diantaranya ternyata bisa masuk ke smp favorit, diantaranya aku, ning, tenza, ina, rahayu dan teguh. Tiga orang pertama saat ini tinggal di Jakarta. NG, temanku yang paling sering bersama karena teman sekelas dari sd sampai sma, saat ini adalah salah satu caleg dpr ri dari fraksi pks, dan kami tekradang mendiskusikan tentang sesuatu hal. TZ menjadi ahli pertanahan di ibukota. Yang lainnya mungkin masih ada di kota kami, entah apa kesibukan mereka. Jumlah teman kami sekelas mungkin sedikit lebih banyak dibandingkan dengan laskar pelangi, namun berbagai pengalaman kami juga cukup mengasyikkan diantaranya berenang sepulang dari sekolah, masuk ke hutan, naik gunung, menyusuri lembah dan lain sebagainya.
Adegan saat sekolah ini akhirnya bisa menyihir masyarakat saat menampilkan kesenian yang merupakan mahakarya tingkat tinggi salah seorang siswanya yang menampilkan kesenian khas afrika yang sangat mistis. Belum lagi saat team cerdas cermat dari sd ini mempresentasikan kemampuan yang sangat mengagumkan saat siswa jenius terbaik didikan alam di sd muhammadiyah ini selalu dengan tangkas menyambar habis pertanyaan yang diajukan oleh team juri. Ini sekali lagi menunjukkan bahwa prestasi tidak bisa diukur semata-mata dari materi yang digelontorkan tak ada habis-habisnya sebagaimana yang dilakukan oleh sd pn t imah yang sangat favorit, namun mendadak tidak berdaya melawan dominasi sd muhammadiyah yang melarat. Ehm, akupun sempat mengingat bahwa sdku, dalam suatu kesempatan pertama yang kami ikuti, yakni lomba gerak jalan tingkat kabupaten dan cerdas-cermat, ternyata kami bisa juara. tentu saja suasana emosional yang kami rasakan tidak seperti pada film ini.

Pendeknya, film ini sangat mengagumkan, dan memberikan pesan moral yang sangat penting. Film ini berhasil mempresentasikan kondisi realitas masyarakat di Indonesia. masyarakat yang selama ini senantiasa mendudukkan nilai-nilai, outcome, hasil ujian sebagai satu-satunya parameter, dengan tidak peduli apapun cara yang ditempuh untuk mendapatkan yang nilai yang terbaik. Film ini juga memberikan pesan kepada para siswa untuk memiliki cita-cita yang tinggi, dan memperjuangkan cita-cita itu. Ada plan A dan plan B, katanya. Plan A adalah mencitrakan diri sesuai dengan potensi dan bakat yang dimilikinya, lantas berusaha mencapai citra tersebut. Kalau tidak berhasil, kemungkinan yang dianggap potensi atau bakat tersebut sesungguhnya bukan disitu, sehingga harus lupakan, buang dan cari potensi dan bakat lainnya, alias plan B. Lalu dimulai lagi untuk memperjuangkannya. Demikian siklusnya. Apapun hasilnya, maka yang menjadi concern kita adalah upaya dan ikhtiar untuk mencapai hasil. Apapun hasilnya, bukanlah urusan manusia.

Pesan moral lain, oragn miskin yang ada di Indonesia, dimana kebanyakan adalah miskin apabila digunakan parameter yang objektif, haruslah memiliki kesadaran akan hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Akhirnya, film ini benar-benar layak untuk ditonton. Dan ternyata, lebih asyik nonton film dulu, baru kemudian baca novelnya, sungguh..

Minggu, 05 Oktober 2008

Diam-diam Aku Alumni SMP-One Wonogiri

Begitulah judul spanduk dan background yang dibuat oleh teman-teman alumni smp pada hari pelaksanaan alumni smp one, tanggal 4 Oktober 2008. Malam sebelum reuni, aku sempat menyambangi smp, yang ternyata teman-teman sudah pada ngumpul untuk gradi bersih semenjak siang hingga tengah malam. Begitu tinggi tingkat antusiasisme teman-teman, mungkin karena sudah begitu lama, lebih dari 20 tahun kita belum pernah mengadakan reuni dengan nuansa seperti ini, dengan bertempat di lokasi dimana 22 tahun yang lalu kita memulai untuk saling mengenal, saling berinteraksi di ruangan kelas smp ini. Kenangan 22 tahun tersebut emang terasa mengharukan, bahkan mungkin apabila dibandingkan dengan suasana sma atau perguruan tinggi di feugm, lebih mengharukan. Karena masa smp adalah masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa remaja dengan segala variasinya. Mungkin waktu itu ada yang dewasa lebih cepat dibanding teman-teman, dan sudah mulai berpacaran, atau belajar berpacaran. Aku sendiri waktu itu dikenal agak terlambat dewasa dibanding yang lain, belum tahu apa itu pacaran, masih suka menangis, dan secara fisik emang paling kecil dibanding 250 siswa lainnya. Banyak yang agak surprise bahwa ternyata aku sekarang tidak kecil-kecil amat.
Aku bersyukur bahwa malam itu aku menyempatkan diri datang ke lokasi reuni, untuk gladi bersih sekaligus ajang kangen antarteman, khususnya teman-teman panitia yang telah mempersiapkan acara ini dengan demikian seriusnya. Banyak diantara teman-teman yang awalnya agak lupa-lupa ingat, terutama yang tidak pernah mengalami satu kelas. Aku sendiri mungkin termasuk yang dikenal diantara teman-teman, namun bukan karena prestasi, melainkan karena beberapa pengalaman yang konyol. Saat masih kelas 1, aku secara fisik paling kecil sehingga kurang percaya diri, yang berangkat dari SD semacam Laskar Pelangi, dengan jumlah murid 10 orang plus beberapa orang lagi, tepatnya aku lupa, dan 40 persennya masuk ke smp favorit ini, diantaranya Aku, NG yang sekarang jadi caleg dpr pusat dari fraksi pks, TZ, RH, IN dan TG. Saat kelas 2 mungkin aku udah mulai percaya diri, saat dikenal sebagai juara tenis meja bersama Dwi Hartono, si kecil juga, seorang Chinese. Di kelas ini aku juga sempat dikenal saat jariku masuk ke bangku dan nyaris tidak bisa dicabut lagi. Di kelas 3 aku udah mulai berani untuk bolos dan tidak mengerjakan pr, dan saat ditanya kenapa aku tidak bikin pr, dengan ringannya aku bilang sudah bisa.
Malam ini, aku baru tahu susunan acaranya, ternyata aku diberi tugas untuk berdoa. Awalnya yang bertugas adalah AH, sepupuku, namun dia belum memberikan konfirmasi kehadiran, sehingga secara aklamani teman-teman panitia menunjukku untuk memimpin doa. Waduh, terus terang saja, baru kali ini aku diminta berdoa, dalam suatu acara yang dipersiapkan dengan persiapan yang matang seperti ini, sehingga kupikir aku harus prepare juga. Akhirnya, malam menjelang pagi, aku sempatkan membuat konsep doa. Agak grogi juga mengingat acara ini dihadiri oleh teman-teman lama, sehingga perlu persiapan yang matang, begitu kupikir.
Akhirnya, reuni terlaksana pada tanggal 4 Oktober 2008 kemaren. Sesuai dengan target panitia, acara ini dihadiri oleh lebih dari 100 alumni. Dengan dipimpin oleh master mc, AR yang kabarnya bekerja jadi evnt organizer, acara sangat meriah. Kepala Sekolah, ternyata adalah Pak KS, guruku sewaktu di SD Muhammadiyah, dengan kelas semacam Laskar Pelangi. Melihat Pak KS, kontak aku melihat beberapa teman SD ku, yakni NG, Caleg DPR Pusat saat ini dari PKS dan TZ, bintang kelas SDku, alumni geodesi UGM. Mereka ternyata juga agak kaget bahwa Pak Kusman jadi kepala sekolah, suatu lompatan karir yang cukup hebat, mengingat beliau sebelumnya hanyalah guru SD swasta, dan hanya sempat menjadi kepala sekolah kecil di lingkungan perguruan Muhammadiyah. Baru sesaat kemudian tampak betapa profesionalitas beliau sebagai kepala sekolah diketahui, saat dengan sigapnya memaparkan konsep pengembangan sekolah. Dan baru aku ketahui juga bahwa ternyata beliau menjadi leader bagi semacam asosiasi para kepala sekolah, tidak hanya untuk level smp saja melainkan juga sma, karena keberhasilannya untuk mengangkat prestasi sekolah yang dipimpinnya. Beliau sempat berkaca-kaca saat salah satu perwakilan dari kami, YP mengatakan siap untuk mendanai semaksimal yang bisa angkatan kami berikan kepada sekolah kami, untuk membangun bangsal kenangan, maupun untuk keperluan lainnya. Ada sejumlah dana yang kami sumbangkan kepada para siswa yang membutuhkan dan ada dua buah lcd yang kami sumbangkan, tepatnya bukan kami, melainkan salah seorang diantara kami, DM, yang tak lain pada acara ini pasti menjadi raising star, sebagaimana juga dulu waktu kami masih sekolah. Dengan prestasi akademik dia yang telah mencapai puncaknya, S3 Akuntansi, ketua jurusan salah satu universitas terkemuka di negeri ini, tentunya concern dia di bidang pendidikan lebih dibanding yang lainnya, dia menyumbangkan 2 buah lcd. Beberapa hari sebelum reuni dia sempat menawarkan aku untuk menyumbang 1 buah lcd untuk melengkapi sumbangan dari dia, namun dengan halus, mengingat kondisiku saat ini yang lagi porak-poranda kehilangan asset yang secara nominal cukup besar, Rp. 1,2 miliar, aku undur diri dari penyumbang lcd. Apalagi ada agenda lain dari komunitas alumni f7 juga yang baru saja right issue saham untuk pengembangan bpr syariah di Cirebon beberapa waktu yang lalu. Acara kesan pesan, sudah barang tentu kami berikan kepada dia untuk menyampaikannya, dan terasa berapa apa yang disampaikan sangat merepresentasi angkatan kami, dengan banyolan2 khas seorang akademisi.
Cukup banyak teman-teman yang hadir. Beberapa diantara mereka yang aku sempat intens ngobrol. Unggul, yang biasa aku panggil dengan panggilan SDnya NG, sempat mendatangiku dan menanyakan soal serius, "Kudengar kamu mau nikah lagi, Fiq?". Aku agak kaget dengan pertanyaan itu, karena seolah, dan diperjelas olehnya, seolah aku masih married dan pengin menikah lagi. Aku sungguh kaget, karena aku tidak penah cerita soal ini, kecuali hanya kepada satu orang teman smpku. Aku tidak tahu darimana dia tahu, dan sempat aku bertanya dalam hati, jangan-jangan banyak diantara teman yang tahu. Dia berseloroh menganggapi keherananku,"Aku kan banyak mata-mata,Fiq". Dia sempat mau tanya detil soal itu, yang tentu saja tidak mungkin aku ceritakan hal dalam kondisi seperti ini. Kubilang secara singkat bahwa aku divorce, benar. Tapi soal married, sampai saat ini belum ada rencana yang fixed waktunya. Secara berseloroh, dia sempat bilang kalo aku belum ada calon maka dia bersedia untuk mencarikanku. Tentu saja aku percaya, dengan status dia yang dipercaya sebagai caleg dpr ri, dari fraksi pks, tentu memiliki komunitas besar yang solid. Dan melihat background masa lalu dia yang sangat kuketahui, yah, pendeknya aku percaya. Lalu, temanku yang lain, Inti. Dia teman smp, dan ketemu lagi di universitas yang sama denganku, beda fakultas. Kita aktif dalam komunitas yang sama, semacam F7. Aku agak kaget mendengar dia tidak lulus. Dalam obrolan kemaren, dia bilang saat ini meneruskan studi di Malang. "Malu kan Fiq, aku ngurusin lembaga pendidikan, sementara kuliah S1 gak lulu", katanya. Apalagi suami dia, Dedi Mulawarman, juga temanku saat di Jogja, kudengar baru saja lulus S3 akuntansi syariah. Teman lain, Martani, yang dikenal sebagai si jenius, dari dulu hingga sekarang, sempat tanya,"Gimana Fiq, udah ketemu sama anakmu belum, Hdsf?". Aku agak tersentak dengan pertanyaan ini. Karena emang kondisi hubunganku dengan orang-orang yang ada di sekeliling anak-anakku dalam situasi yang tidak sesimpel itu untuk sekadar aku bisa ketemu dengan anak-anakku. Aku makin sedih dengan hal ini. Aku hanya bisa berdoa dalam hati, atas kondisi ini.

Juga banyak teman-teman lain yang sungguh surprise. AR yang sangat konyol menjadi mc. YM yang masih top tampil di panggung. MT yang saat ini menjadi ibu kapolres di kota kecilku. WT yang dulu setahuku agak badung, saat ini jadi dosen di sebuah perguruan tinggi islam di Solo, dia bilang,"Aku sungguh kebetulan saja jadi dosen, Fiq". YP yang hanya setahun di Wonogiri, tapi statemennya membuat kita terharu, saat mengatakan dalam setahun dia merasakan banyak kenangan, dan saat ini tampaknya dia telah menjadi seorang enterpreneur yang tangguh. SM, yang rumahnya tak jauh dari rumahku, eksis di kota kecilku dengan membuka counter handphone, cucian mobil dan bisnis lain. Dia bilang,"Yang penting dalam mengembangkan usaha, buang jauh-jauh rasa malu kan, Fiq". Aku dukung statemen dia. Ketua panitia, AH, disebut oleh Pak KS dengan banyolannya sebagai direktur BPD yang belum mendapat SK. Agux, tampaknya juga bergelut di bisnis ekspor impor, entah komoditas apa, sempat menanyakan soal kemungkinan mendapatkan fasilitas trade financing dari kantorku. Temanku lain, EN, sungguh tak terduga, dia sekarang pake jilbab. Kudengar dia muallaf, saat married. Entah bagaimana dengan bapaknya, Pak MR, guru pmp kami yang lucu, yang dalam acara ini turut memberikan sambutan sebagai mantan guru yang cukup favorit waktu itu. Tenza, temanku sepasukan waktu sd, semacam laskar pelangi. Dia bintang kelas di sd, saat ini menjadi ahli pertanahan di Jakarta. Lalu, ON, temanku karibku di smp dan sma, yang dia dulu sempat main ke kosku di Jogja, lalu ketemu lagi di Jakarta, secara tidak terlalu sengaja. Ada lagi, AP, temanku sekelas di kelas 1. Dia waktu itu kurasa sangat mengayomiku, dengan posisinya sebagai ketua kelas dan sering kita panggil pak polisi karena di pagi hari bertugas membantu teman-temannya menyeberang jalan raya. Dia seUniversitas denganku, dan seperti dugaanku bahwa dia pasti aktif di Menwa atau Pramuka. Ternyata benar, dia berkarir sebagai aktifis Menwa. Andi Unug, temenku di fakultas ekonomi, saat ini dia berkarir sebagai KB menampilkan diri sebagai sosok antagonis kritis, dengan kritik-kritik tajamnya kepada teman-teman, mengingatkan agar acara reuni jangan sampai menjadi ajang pameran kekayaan, materi, jabatan yang semakin membuat jurang pemisah antarteman. Gara-gara kritikan tajam ini, tentu saja banyak yang tersungging berat karena acara dalam benak banyak teman, tentu saja acara reuni bukan untuk itu. Reuni adalah reuni, untuk mereview kembali kenangan masa lalu kita, untuk menaptilasi, dan menemukan jawaban atas kerinduan terhadap masa lalu, saat kita memulai di tempat ini, smp satu. Ada lagi, AG, temanku sekampung, yang aku tidak menyangka juga ternyata dia muallaf, dan sempat belajar ngaji di musholla depan rumahku. DP, yang dalam benak dan memoriku, sering mengingatkanku pada sosok artis pasangannya si Doel Anak Sekolahan. Tentu saja dia ketawa ngakak saat aku bilang itu, karena ternyata kondisi saat ini benar-benar tidak mirip, sekali lagi ini hanya masalah memori yang terbawa hingga kini, sesaat sebelum ketemu. Dan, soal kecantikan, kayaknya yang paling menonjol saat itu adalah Maya Kartika. Selulus sd dia langsung married, dan saat ini anaknya mungkin udah kuliah. Dan sungguh tidak kuduga, dan dia juga sempat kaget, ternyata dia adalah sahabatnya hani saat sd, karena dia pindahan dari Jogja. Lalu, tentu saja, Manonsih, sempat intens sms dan chatting menjelang reunian. Dengannya, bersama dengan teman lain seperti NG, TT, dan lainnya, kami sempat bersama di sebuah komunitas saat sma. Lalu AR, sorang ipb-ean, yang married dengan temanku aktivis kopma ikopin.
Beberapa guru juga hadir, yang dalam ingatan kami dulu sangat enerjik dan hebat dalam profesionalitas dan dedikasinya, saat ini beliau sudah pada usia lanjut. Hanya Pak DD seorang yang masih aktif dan nyaris pensiun juga. Ingin sebenarnya kami ngobrol lama dengan beliau, dalam suasana yang lebih privacy, untuk menyampaikan terima kasih atas bimbingan mereka yang tentu sangat berguna dalam membentuk kami sampai saat ini. Namun sungguh tidak memungkinkan dalam acara seperti ini. Ingin kita merangkul mereka, menyatakan kerinduan kami, dalam usia mereka yang rata-rata sudah sulit untuk mengingat kami satu persatu, kecuali murid-murid yang menonjol, entah karena kenakalannya, kepintarannya, atau kekonyolannya. Mudah-mudahan mereka diberikan keberkahan dalam penghujung masa produktivitas mereka, yang berproses dan berevolusi secara sunnatullah.
Dan ternyata acaranya benar-benar heboh.
Aku sendiri pada acara ini kebagian tugas untuk memimpin doa. Sebenarnya ini jatahnya AH, sepupuku yang biasanya emang spesialis untuk memimpin doa. Karena dia tidak hadir, maka secara aklamani teman-teman menunjukku. Inilah doa yang aku sampaikan:
Assalammu'alaikum Wr.Wb.
Bapak kepala sekolah dan bapak/ibu guru yang kami hormati dan kami sayangi, serta saudara-saudaraku sekalian. Marilah kita menundukkan muka dan kepala kita sejenak, marilah kita lupakan sejenak kesibukan dan suka cita yang baru saja kita lakukan, untuk merenungkan makna reuni kita kali ini, untuk mereview kembali perjalanan kita selama 20 tahun terakhir ini, semenjak kita memulainya dari tempat ini. Saat kita saling mengenal di tempat ini, saat kita saling memahami, saat kita saling bertransformasi dan menginternalisasi nilai-nilai dalam proses pembelajaran di sekolah kita ini. Saudara-saudaraku, marilah kita lakukan refleksi sejenak apa-apa yang telah kita lakukan untuk diri kita, untuk lingkungan kita, untuk teman-teman kita dan untuk sekolah kita, dan kita proyeksikan apa kiranya peran yang bisa kita lakukan dalam konteks kekinian maupun masa depan.

Bapak/Ibu dan Saudaraku sekalian, perkenankan dan ikhlaskan saya pada siang hari ini untuk memimpin doa. Tanpa mengurangi rasa hormat kami kepada Saudara-saudara yang beragama lain, mohon maaf doa akan saya bawakan dalam keyakinan muslim. Untuk itu bagi Saudara-saudara kami yang beragama Kristen Protestan, Katolik, Hindu dan Budha, mohon kiranya kiranya agar dapat disesuaikan dengan keyakinannya masing-masing. Karena tujuan dan maksud kita dalam doa tentunya sama, yakni proses interaksi dan komunikasi kita sebagai hambaNya dengan Tuhan kita sebagai Pencipta segala sesuatu yang kita bergantung padaNya.
Aúudzu billaahi minasy-syaitthoonir-rojim. Bismillahir-rahmannir-rahhim. Allahumma shalli alla sayiidina Muhammad waa alla ali sayyidina Muhammad. Alhamdullillahi robbil alamin, washolatu wassalamu ’alaa asrofil ambiyaai wal mursaliim. Wa alaa alihi washohbihi ajma’in. Hamdan syakirin, hamdan naimin, hamdan yuwafi ni’amahu wayukafi’u mazidah.Yaa Rabbana lakal hamdu kamaa yambagi liljalalii wajhika wa’aadzimi sultonik. Subhaana kau'lloohumma wa bihamdika asyhadu allaa illaaha illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik.
Segala Pudji bagi-Mu Ya Allah atas nikmat kesempatan & Karunia-Mu yang Kau berikan kepada kami, sehingga pada hari ini kami semua dapat berkumpul di ruangan sekolah kami ini, untuk mengadakan reuni smp kami yang tercinta ini, untuk merefleksikan kembali perjalanan yang telah kami lalui bersama, untuk mengingatkan dan mengevaluasi kembali apa-apa yang telah kami lakukan, dan untuk memproyeksikan kembali apa-apa yang akan bisa kami lakukan ke depan, untuk itu kami mengharap petunjuk dan bimbingan-Mu....
Ya Allah, hari ini kami berkumpul kembali setelah 20 tahun lebih kami tidak pernah bertemu, berikanlah kekuatan dan tekad pada kami untuk membangun dan mempertahankan kembali komitmen bersama kami, agar nilai-nilai yang telah kami bangun 20 tahun yang lalu, saat kami bersekolah di tempat ini, kiranya nilai-nilai itu bisa kami wujudkan kembali dalam proses interaksi dan komunikasi kami. Nilai-nilai yang kami peroleh, saat kami menjalani proses pembelajaran di sekolah ini, saaat kami belajar bersosialisasi dengan teman-teman kami, saat kami bersama ingin menampilkan kelas kami sebagai kelas yang terbaik dalam bidang kebersihan setiap minggunya, saat itulah sebenarnya kami belajar tentang nilai-nilai kejujuran, kekompakan, tanggungjawab, responsibilities, kepedulian sosial, kerjasama, kesetiakawanan dan juga nilai-nilai lainnya. Kami berharap kepadaMu ya Allah, agar nilai-nilai tersebut dapat kami hadirkan kembali dalam konteks kekinian dan keakanan. Agar waktu yang berlalu tidak menghilangkan nilai-nilai tersebut dari kami. Kami berharap agar komunikasi, silaturrahmi dan relationship diantara kami dapat berjalan dengan baik dan dapat kami wujudkan persahabatan diantara kami dengan nilai-nilai tersebut yang sama-sama kami rindukan. Kami rindukan persahabatan diantara kami, adalah persahabatan yang jujur, yang kompak, yang setia kawan, yang bertanggungjawab, yang peduli dengan sesama, yang selalu bekerjasama dan juga dengan nilai-nilai luhur lainnya yang telah kami peroleh dari tempat ini. Karena seungguhnya kami sadari bahwa nilai-nilai tersebut merupakan sifat dari nama-Mu Ya Mutakabbir Yang Maha Memiliki Kebesaran dan Mulia adalah nama indah dari-Mu Ya Karim Yang Maha Mulia.
Ya Allah, sungguh kami hari ini berkumpul, setelah 20 tahun lebih kami tidak bertemu. Begitu banyak nikmat-nikmat yang telah kami terima dariMu sejak saat itu, bahkan jauh sebelum itu, sampai saat ini, dan sampai entah kapan kami menerima nikmat-nikmat dariMu, untuk itu Ya Allah berikanlah kepada kami kemampuan untuk tetap dapat mensyukuri nikmatMu, nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepada kami. Masukkan kami semua kedalam golongan orang-orang yang bisa mensyukuri nikmat-nikmat yang telah Engkau berikan kepada kami.
Ya Allah, beberapa diantara teman kami telah Engkau panggil mendahului kami. Rini Soemirat, dan beberapa diantaranya yang lain, untuk itu ampunilah atas segala dosa-dosanya dan tempatkanlah ia di tempat yang nyaman di sisiMu Ya Allah. Sedangkan kepada kami semua, berikanlah pelajaran kepada kami untuk senantiasa mengingatMu, bahwa kami pun setiap saat akan Engkau panggil sebagaimana teman kami yang telah terlebih dahulu menghadapMu.
Ya Allah, sungguh pada hari ini, kami merasakan betapa besar kontribusi yang telah diberikan sekolah ini kepada kami untuk membentuk pribadi-pribadi kami, untuk membangun karakter dan culture bangsa ini. Untuk itu Ya Allah, berikanlah kemampuan dan kapasitas sekolah ini agar dapat mengoptimalkan peran, tugas, tanggungjawab dan kontribusinya kepada bangsa ini. Berikanlah kesehatan dan kemampuan para Bapak Ibu Guru kami disini agar senantiasa dapat menjaga amanah dan tugas yang telah Engkau berikan kepadanya. Sungguh kami rasakan betapa besarnya amanah yang Engkau berikan kepada para Bapak Ibu Guru kami, yang dikenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa itu. Untuk itu berikanlah kesehatan kepada beliau sebagaimana orang-orang yang telah Engkau berikan kesehatan, berikanlah perlindungan kepada beliau sebagaimana telah Engkau berikan kepada orang-orang yang Engkau berikan perlindungan, berikanlah kepada Bapak/Ibu Guru kami kemuliaan dan kesejahteraan lahir batin sebagaimana telah engkau berikan kepada orang-orang yang engkau berikan kemuliaan dan kesejahteraan lahir batin, agar beliau senantiasa dapat menjalankan amanahMu dari waktu ke waktu.
Ya Ghaffar --- Ya Tawwab --- Engkaulah yang Maha Pengampun dan Maha Penerima Taubat --- Ampunilah dosa kami, dosa orang tua kami, dosa istri/suami dan anak2 kami, serta dosa adik dan kakak kami, teman-teman baik yang masih hidup maupun yang telah Engkau panggil Ya Allah, lapangkan makam mereka, terimalah Amal Ibadah mereka.
Ya Muhaimin - Ya Haafizh - Engkau Maha Pemelihara dan Maha Menjaga --- Pelihara hati kami agar senantiasa kami semua dapat saling mensupport, saling mendukung, saling menyemangati, saling menasehati dalam kebaikan, dalam proses interaksi dan komunikasi sesama alumni smp negeri satu wonogiri yang kami cintai ini.
Ya Sami'i --- Ya Quddus --- Engkau Maha Mengetahui dnn Maha Suci Ya Allah --- Engkau tahu apa yang ada di hati kami, Engkau mengetahui apa yang tidak kami tahu, (bersihkan dan sucikan hati kami Ya Allah dari belenggu-belenggu yang akan mengganggu kami dalam berinteraksi dan berkomunikasi. Belenggu negatif thinking, belenggu suka membandingkan atribut, dan lain sebagainya.
Ya Rahman, Ya Rahhim --- Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang --- Ya Allah kami memohon cinta dari-Mu Ya Allah --- Cinta orang2 yang mencintai-Mu --- Ya Allah antarkan kami pada amalan yang mendapat cinta dari-Mu Ya Allah --- Ya Allah kami memohon cinta dari-Mu melebihi cinta terhadap diriku sendiri, keluarga, dan apapun yang kami miliki --- Kumpulkan kami semua dan keluarga kami didalam surga-Mu Ya Jaami --- kumpulkan kami bersama saudara-2 kami kaum muslimin dan muslimah di Taman Firdaus-Mu Ya Allah.
Ya Hadii --- Engkau yang Maha Pemberi Petunjuk --- Berikan kami petunjuk-Mu, bimbing kami ke jalan yang Engkau Ridhoi, tuntun kami ke dalam Cahaya-Mu Ya Nurr --- masukkanlah kami secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) kami secara keluar yang benar dan berikanlah kepada kami dari Engkau kekuasaaan yang menolong.
Ya Shoobur ---- Engkau Yang Maha Sabar --- Ya Allah kami yang hadir semua diruangan ini sedang Engkau berikan ujian atau cobaan, berikan kepada kami kesabaran dan kekuatan untuk menjalani hidup dan cobaan ini --- Ya Allah, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. --- Ya Allah janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, rahmatilah kami, Engkaulah penolong kami.
Ya Syakur --- Engkau yang Maha Penerima Syukur --- Ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang pandai bersyukur Ya Allah --- Ya Allah jangan Kau jadikan kami manusia yang sombong --- Nikmat-Mu begitu banyak yang Engkau berikan pada kami Ya Allah, nikmat kesehatan dan nikmat rizki yang Engkau karuniakan, namun kami masih saja lalai menjalankan perintah serta suruhan-Mu Ya Allah, kami masih saja mengejar kenikmatan dunia yang justru membelenggu kami kedalam kenistaan dihadap-Mu Ya Allah --- Ampuni kelalaian dan kenistaan kami Ya Allah.
Ya Rabb --- Engkau tahu hati-hati ini berhimpun dalam cinta pada-Mu Ya Allah --- telah berjumpa dalam taat pada-Mu, telah bersatu dalam keinginan yang luhur, telah berpadu dalam membangun nilai-nilai yang Engkau ridhoi, teguhkanlah Ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cinta kasihnya, Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tidak pernah hilang Ya Nurr. Lapangkanlah dada-dada kami dengan kelimpahan iman kepada-Mu. Hidupkanlah hati ini dengan ma'rifat kepada-Mu. Sungguh engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.
Rabbana atina fid'dunnia hasanah waa'fil aakhirati hasanah waa'qina aaza banñar. Subhaana Robbika Robbil 'izzati' ammaa yashifuun, wa salamun 'alal'-mursalin, wal-hamdulillahirobbil-alamin.Wassaalammuallaikum Wr. Wb
Sekitar pukul 14.00 acara usai, dan dilanjutkan dengan kunjungan ke salah seorang teman kami yang saat ini sedang melangsungkan pernikahan, GR, yang tinggal di sekitar rumah AN, temanku kuliah saat di feugm, saat ini kerja di Ernst and Young. Aku ingat, GR ini sempat datang waktu aku mengadakan aqiqahnya Syifa dulu. Habis itu kita rame-rame berkunjung ke rumah salah satu guru kami yang sedang mengalami musibah, sakit stroke, yakni Pak SY. Masih kuingat dengan jelas 24 tahun yang lalu, bahwa beliau ini adalah salah satu guru yang paling ditakuti, guru olahraga. Seorang guru yang sedikit bicara, tegas, dan tampak garis-garis mukanya yang keras dan powerful, namun selalu menekankan soal kejujuran kepada kami. Setiap kali mengadakan ulangan, beliau memberikan jawaban dari nomor ke nomor, sehingga seorang siswa yang tidak jujur bisa sangat mengakui bahwa nilainya lebih bagus daripada yang seharusnya. Namun, karena meningat betapa powerfulnya beliau, kukira tak ada diantara kami yang melakukan markup atas nilai ujiannya. Kondisi beliau saat ini, ternyata sungguh jauh dari bayanganku tentang profil Pak SY yang tertanam kuat dalam memoriku. Beliau tampak sangat lemah, duduk di kursi, dan tampak keletihan untuk sekadar mengingat siapa murid yang ada di depannya. Tampak betapa memori beliau banyak yang telah hilang, dan untuk sekadar mengeluarkan satu dau kata pun sangat susah. Sesekali tampak beliau hanya bisa menitikkan air mata saat mungkin dalam benaknya ingat bahwa sekitar 15 orang yang bertamu ini adalah murid-muridnya dulu. Anaknya bilang, bahwa dalam beberapa kali Pak SY diajak ke Masjid, beliau tampak ingin sekali menggerakkan anggota tubuhnya untuk melakukan sholat, rukuk sujud dan sebagainnya, namun kondisi beliau yang tidak mempunyai kapasitas untuk itu. Sekali lagi, inilah pelajaran buatku, bahwasanya nikmat dan karunia Allah yang diberikan kepada kita sangatlah besar. Kesehatan, kesadaran untuk melaksanakan ibadah, kapasitas dan kemampuan untuk menerima kebenaran, akal dan logika yang bisa diajak kompromi untuk belajar mengenai ilmu keIllahian. Jantung yang setiap saat, setiap detik berthawaf dan berdetak tanpa harus kita kendalikan. Semoga segenap potensi yang kita miliki, sepenuhnya kita berdayakan dan kita optimalkan untuk sesuatu yang bernilai untuk masa depan, dengan orientasi yang jauh ke depan. Bayangkan, seorang Pak Suyudi yang saat smp begitu ditakuti dan disegani, ternyata saat ini beliau tak berdaya, saat beberapa syarafnya tidak berfungsi normal. Itulah, dan bagaimanapun harus disadari bahwa setiap orang akan mengalaminya, saat kondisi fisik mengalami penurunan sesuai dengan siklus yang normal dan sunnatullah, saat kondisi fisik tidak berdaya untuk melakukan segala sesuatu. Dan ingatlah masa itu, saat kita masih bisa melakukan segala sesuatu dengan ijin dan perkenanNya.

Syawalan ditengah Keluarga dan Sahabat

Ini adalah pertamakali syawalan tanpa anak-anak, Hdsf. Rasanya ada yang sangat kurang menikmati syawalan tanpa ada mereka. Selama ini, sejak kami tinggal di Jakarta, sejak tahun 2000an, kita selalu menikmati perjalanan berlebaran, naik mobil dari Jakarta menuju kampong dengan berbagai tingkat kesulitan, stress menghadapi kemacetan, waktu cuti yang terbatas dan lain-lain, namun toh kami selalu sangat menikmati perjalanan. Terkadang di suatu tempat kami berhenti untuk sekadar melepas lelah atau menikmati suasana tempat wisata. Dan pada tahun-tahun terakhir ini aku semakin menikmati kebersamaan dengan anak-anak.
Namun mulai tahun ini, kayaknya, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus mengkondisikan dan membiasakan diri keberadaan mereka bersamaku bagaimanapun sudah diluar kapasitasku. Perkembangan dalam satu bulan terakhir ini, sesuatu yang benar-benar bukan kehendakku, ternyata telah memaksaku untuk berada pada situasi yang sangat menyulitkanku untuk berhubungan dengan anak kandungku sendiri. Sedih, pasti sangat kurasakan. Aku sulit membayangkan, dalam kondisi seperti ini, apa yang dirasakan oleh anak-anakku. Namun sekali lagi, aku coba ambil hikmahnya. Bahwa keinginan dan kondisi ini benar-benar diluar kompetensi dan kewenanganku, dan ini sama sekali tidak aku kehendaki. Namun bagaimanapun, saat ini terjadi, aku harus mengikhlaskannya. Dia adalah assetku, titipan dan amanah dariNya untuk aku besarkan, untuk aku didik dengan sebaik-baiknya. Namun ada irisan kepentingan antarpihak yang yang dititipi bukan hanya aku, sehingga dalam kondisi apapun, saat asset itu lepas dari tanganku, aku harus mengikhlaskannya. Bahkan pada essensinya, bicara soal asset, kesemuanya bukanlah milikku, apapun hanyalah titipan dariNya yang Maha Memiliki dan Maha Berkuasa untuk menarik kembali atas titipanNya. Dan tak ada yang kita miliki. Sehingga kalau kita sadari seperti ini maka kehilangan apapun yang pernah kumiliki, rasanya tak ada hal yang memberatkan hati ini. Dialah tempat bergantung, Allahus Shomad. Dialah yang Maha Kaya dan Maha Memiliki atas segala sesuatu. Dan masihkah kita mendamba dan mengagungkan beberapa lembar sertifikat tanah, rumah, ruko, selembar bukti atas kepemilikan mobil? Mestikah hidup ini dihabiskan untuk mendapatkan hal itu, dan membanggakan hal itu? Sedikit klarifikasi dan untuk meluruskan perspektif apa yang aku lakukan dan akan aku lakukan berhubungan dengan ketidakadilan yang aku alami dalam persidangan pembagian harta bersama di akhir ramadhan kemaren. Bahwa yang aku lakukan, pertimbangan yang aku gunakan saat melakukan banding atas keputusan yang sangat-sangat bertentangan dengan prinsip keadilan itu, adalah bukan soal selembar sertifikat dan bpkb atau beberapa meter tanah atau ruko. Bukan semata soal materi. Yang aku lakukan adalah, ya, sesuatu yang emang harus aku lakukan dalam proses perjuangan menegakkan keadilan. Yah, kalo dipikir dengan memakai logika manapun, emang tampak jelas betapa tidak adilnya, dengan nilai aset sebesar Rp. 1,2 miliar, terdiri dari rumah di kompleks bji (masih ada), ruko di bekasi plaza (masih ada), dan beberapa aset yang telah dilikuidasinya saat proses cerai terdiri dari rumah di kompleks graha harapan, rumah di kompleks satwika telkom jatiasih, mobil baleno dan sejumlah uangku, nyaris dari semua total asset jatuh ke tangan dia. Dan aku hanya mendapat 2,5% dari total aset Rp. 1,2 miliar tadi, senilai dengan zakat mal setahun. Kudengar 30 juta itu disebut oleh hakim pa bekasi sebagai nilai ekuivalen 30 persen dari asset tersisa, sehingga menimbulkan keheranan yang amat sangat soal valuasi aset ini. Aku sempat setengah becanda mengirimkan sms ke hakim yang memutus perkara, emangnya bapak sendiri yang mau beli aset itu, kok semurah banget, hehe. Yah, prinsipnya, inilah yang harus aku lakukan, upaya hukum untuk mencari keadilan atas hak, sesuatu yang termotivasi untuk mencari keadilan dan dilakukan melalui jalan yang harus diridhoiNya. Banding adalah upaya hukum yang emang harus kulakukan, bahkan kalau perlu nanti Kasasi, atau Peninjauan Kembali. Tak masalah kalaupun itu harus aku tempuh. Dan saat ternyata pada suatu titik, sudah tidak ada lagi yang bisa kulakukan, maka sudah selesailah kewajibanku di dunia ini. Karena emang itulah kewajibanku saat ini, yakni upaya, ikhtiar dan usaha. Soal hasil bukanlah urusanku. Dan harus aku sadari bahwa hasil keadilan di dunia, tidak selalu selaras dengan pengadilannya yang super adil nanti di akhirat. Dengan pemahaman seperti ini, niscaya hati ini akan selalu diliputi dengan kenyamanan dan keikhlasan yang tinggi. Saat nanti sampai pada titik terakhir tidak ada lagi upaya dan ikhtiar yang kulakukan, karena telah selesai dan mentok, maka aku telah siap untuk mengatakan bahwa masih akan ada keadilan yang hakiki di akhirat, suatu kehidupan yang jauh lebih kekal dan abadi.
Diluar ketidakhadiran anak-anak bersamaku, syawalan di rumah kali ini kami kehilangan sedikit kebersamaan, yakni adikku, AM, yang tahun ini tidak bersama kami karena harus syawalan di keluarga isterinya, MA di Palembang. Bukan di Palembang tepatnya, masih harus ditempuh 8 jam perjalanan dari Palembang maupun Lampung. Tempat yang sering disebut sebagai Dusun, karena emang lokasinya yang jauh, dan mungkin sangat jauh dari peradaban. Di hari pernikahannya yang heroik dulu kami rame-rame kesana. Kampung yang sungguh melewati perjuangan berat untuk sampai kesana, harus ditempuh dalam perjalanan panjang, melewati hutan belantara, gunung, jalan setapak, bahkan jembatan yang hanya dibuat dari dua batang kayu. Saat tiba di kampungnya, kebanyakan rumah cukup unik. Yang membuatku kagum tentu saja keluarga isteri adikku tersebut, ternyata meski di tengah-tengah kampong di tengah hutan yang jauh dari peradaban, ternyata memiliki kesadaran pendidikan yang relative tinggi. Dengan keluarga besar, kalau tidak salah anaknya lebih dari cukup untuk bikin team kesebelasan sepak bola, ternyata hampir kesemuanya kuliah di dua perguruan tinggi paling terkemuka di negeri ini, yakni di itb bandung dan ugm jogja. Ternyata permata yang berada di hutan tetaplah pertama, eh permata, itu barangkali istilah yang tepat.
Aku nyampe di Wonogiri, siang hari, tanggal 30 September 2008, H minus 1. Suasana semarak idul fitri sudah terasa begitu nyampai di kampong halaman. Malamnya aku ke masjid Taqwa, untuk nostalgia sekaligus membayar zakat, sempat ketemu dengan beberapa teman dan bapak-bapak takmir. Salah satu yang membuatku terkesan adalah saat ngobrol dengan Pak SP. Beliau segenerasi dengan almarhum ayahandaku, juga dengan almarhum Paklik RD, mereka bertiga bahu membahu dalam dunia dakwah di kota kami, sebagai muballigh, di Muhammadiyah, masing-masing sebagai Ketua Majelis Tabligh, Ketua Majlis Tarjih dan Sekretaris Umum, serta sama-sama bekerja pada instansi yang sama. Mereka bertiga juga aktif di PAN, saat angin politik di Indonesia berubah dengan memberikan kebebasan untuk beraspirasi politik. Ada obrolan yang nyambung kemaren, saat beliau tiba-tiba menyarankanku untuk pindah pekerjaan di bank syariah. "Karena sekarang sudah ada yang syar'i. Sehingga mas akan lebih nyaman dan tenang dalam bekerja", begitu katanya. Aku mengiyakan dan setuju dengan statemen ini. “Aku juga diamanati oleh Mbahmu, Mbah ZB, menggantikan beliau jadi ketua Takmir di masjid Taqwa ini, mas”, kata beliau. Disamping itu dalam usianya ini, beliau juga masih aktif di Muhammadiyah, menjadi ketua Sholat Khusyu’ Wonogiri, ketua Sholat untuk kesehatan Wonogiri, dan coordinator Metode dan Struktur Format Al Qur’an. Dengan tingkat usia, dimana teman-teman segenerasinya sudah pada undur diri dari aktivitas dakwah, dan sebagian sudah dipanggil menghadapNya, mungkin beliau sedikit dari yang tersisa, yang masih konsisten dalam dakwahnya. Kiprah beliau yang senantiasa menjaga semangat, konsisten dan istiqomah sejak muda sampai pada usia senja ini, tampaknya juga diwariskan kepada dua anaknya, yang satu dua tahun di bawahku, yakni MM, yang nama panjangnya sama denganku, seorang dosen UMY, yang semasa pelajar aktif jadi ketua umum PP IRM, dan saat ini aktif di PP Muhammadiyah, dan adiknya Aniq, yang total terjun dalam dunia pendidikan Islam di Bekasi, banting stir dari background akademisnya yang lulusan Teknik Kelautan Undip.

Hal-hal lainnya, lebaran kita kali ini tidak begitu berbeda dengan lebaran-lebaran yang lalu. Pertemuan Bani MH, pertemuan Bani MS, Bani NM dan lainnya. Keluarga kami emang terdiri dari keluarga besar, yang sangat tinggi silaturrahmi dan ketekaitan antarkeluarga. Demikian rumitnya keterkaitan keluarga besar, dan demikian luasnya sehingga kami sering tidak hapal hubungan antarkeluarga besar kami.
Hari pertama dan kedua ini kami habiskan untuk berkumpul bersama keluarga inti, minus keluarga adikku, AM, karena dia giliran mengunjungi keluarga besar isterinya di Palembang. Salah satu acara intiku saat di kampong seperti ini adalah acara makan. Sungguh sulit untuk menahan agar berat badan tidak naik, karena sangat banyak makanan enak dan murah, dari pagi sampai malam hari. Hari kedua kami bersama-sama ke Solo untuk sekadar makan lesehan di Gladag, yang dibangun lokasi khusus untuk wisata kuliner. Banyak sekali variasi dan menu yang tersaji, dengan harga yang sangat-sangat murah. Aku membayangkan, seandainya aku kerja di Solo, tiap malam mungkin makan di tempat ini.
Pertemuan keluarga besar kami, Bani Mukhtar, tahun ini diadakan di Ngawi, Jawa Timur. Diantara 10 putera dan puteri Eyang MH, saat ini tinggal ada 2 orang Paklik, Pak Drs. H. RM Sukoharjo dan Pakn SA, BA serta 2 orang bulik, yakni bulik RS dan Bulik MR. Banyak yang bilang bahwa beliau harus dijaga dan dilestarikan, karena hanya tinggal beliau berempat seletelah beberapa tahun terakhir satu persatu dipanggil menghadapNya. Yang terakhir, kalau tidak salah 2 tahun yang lalu adalah Pakde Drs. H. IM, dosen IAIN Semarang, yang selama ini dikenal cukup bugar dan relative menjaga kebugaran dengan olahraga, setidaknya treadmill tiap hari. Sedangkan dua orang Pak lik, yakni Paklik Drs. H. RM, mantan ketua umum Muhammadiyah dan wakil ketua DPRD dari fraksi PAN Sukoharjo, serta Pak SA, BA, juga tampak makin sepuh. Emang begitulah, tidak terasa waktu demi waktu yang habiskan di dunia ini, berputar, berproses dalam siklus sunnatullah, dari generasi ke generasi.
Di acara pertemuan tahunan Bani MH kali ini, atau dalam beberapa tahun terakhir ini, nuansa regenerasi menjadi topic yang actual. Pertemuan seperti ini mungkin merupakan salah satu warisan yang berharga dari Eyang, yang dimulai entah kapan, semaksimal mungkin daya ingatku, tradisi ini telah ada. Dulu sekali, saat masih kanak-kanak, masih kuingat bahwa pertemuan tahunan selalu di rumah Eyang, di Balepanjang, sebuah desa yang terletak 40 km sebelah selatan Wonogiri. Semenjak tahun 1980-an, warga desa itu tergusur oleh pembangunan waduk Gajah Mungkur. Semenjak itu, pertemuan diadakan di rumah putera-putera Eyang secara bergiliran. Kini, dalam perkembangannya, pertemuan tetap dilakukan tidak hanya sekadar sebagai sebuah tradisi belaka, melainkan juga sebagai sarana dan media silaturrahmi, yang tentunya sangat penting sebagai media untuk membahas berbagai agenda keluarga besar.

Syawalan keluarga di generasi yang lebih tinggi diatas Bani Muchtar adalah Bani Musthofa, yang kali ini diadakan di rumah Mbah KH. SY. Beliau adalah Pakliknya ayahandaku atau adiknya Mbah SM, jadi bisa dibayangkan tingkat usianya. Di generasi ayahandaku saja sudah banyak yang dipanggil menghadapNya, sedangkan generasi diatas ayahku masih ada beberapa yang masih bisa menemani anak cucunya, diantaranya Mbah KH. SY ini dan juga adiknya, Mbah KH. ZB. Kedua tetua ini juga telah membentuk keluarga besar, sebagaimana Bani MH, dimana memiliki diatas 10 anak, sehingga sudah sulit untuk menghitung dan menghapalkan berapa cucu dan cicitnya. Di acara ini aku terlambat datang, namun masih sempat ngobrol dengan beberapa kerabat. Sempat aku ngobrol dengan Mas AM, putera Mbah KH. ZB, sedikit di bawah usiaku. Dia dulu saat SD di Wonogiri, SMP dan SMA di Solo, dikenal seorang yang berotak cemerlang, khususnya di bidang matematika dan fisika, raising star, memiliki tingkat intelegensia yang tinggi, juara cerdas cermat, bahkan kabarnya sampai ke level juara nasional. Kuliah di teknik ugm namun nyaris tidak lulus karena terlibat dalam aktivitas dakwah dan pemahaman yang frontal berbeda dengan kalangan konvensional. Akhirnya dengan pendekatan yang intens dengan keluarga, dia sempat menyelesaikan studinya. Dia saat ini di Tangerang, dan kudengar isterinya adalah seorang wanita asal dari Makassar. Aku udah minta nomor hapenya, siapa tahu nanti akan ada banyak hal yang perlu aku mintakan advis darinya.
Disamping kesibukan syawalan bersama keluarga, hari-hari ini aku juga dalam kondisi persiapan menjelang reuni dengan teman-teman smp kami. Komunitas teman-temanku smp ini barangkali cukup kompak, mesti tidak sekompak dibandingkan dengan teman-teman alumni universitas di ugm, komunitas F7 yang telah berjalan dengan tradisi dan dibangun dalam kurun waktu yang lama. Emang beda tentu, kalau komunitas F7 Jogja kita udah punya bisnis syariah, dari alumni sepuh sampai alumni fresh graduate telah terbangun struktur dan tradisi yang turun temurun. Sedangkan untuk alumni smp ini, kita baru pada tahap awal membangun struktur kohesifitas ikatan diantara kita, oleh kita, untuk kita, untuk lingkungan kita, untuk sekolah kita dan untuk kota kita, Wongiri. Variasi background teman-teman cukup beragam. Kekompakan kami, rasanya menjadi modal yang berharga untuk membangun komunitas yang saling support antaranggota alumni. Dalam acara besok, Aku mendapatkan tugas untuk mengisi penutupan acara. Kata YP, aku mendapat tugas mengisi penutupan, sedang seorang sepupuku, AH, mendapatkan tugas membaca doa. Awalnya aku masih gamang dengan acara penutupan ini, mau diisi dengan acara apa. YP, seorang teman panitia bilang bahwa aku harus siap untuk menyajikan acara perenungan yang intinya adalah untuk membangun komitmen kebersamaan. Hari ini aku sekadar mempersiapkan materi itu. Akhirnya materi inilah yang akan aku tawarkan nantinya kepada teman-teman smpku:
Assalamu’alaikum
Bp kepala sekolah yang kami hormati. Bp/Ibu Guru yang kami hormati dan kami sayangi.
Perkenankan kami menyampaikan penghargaan kepada Bp/ Ibu Guru, bahwa saat ini dari lubuk hati kami yang terdalam, kami benar-benar menemukan relevansi makna Pahlawan Tanpa Tanda Jasa pada diri Bp/ Ibu. Sebuah peran, tugas dan tanggungjawab serta kontribusi yang luar biasa telah diberikan kepada Bp/ Ibu sekalian dalam membangun karakter bangsa ini, dan culture bangsa ini. Ketika dari sekolah ini terus-menerus menelurkan produknya, katakanlah 20 tahun yang lalu, sampai sekarang sudah tidak terhitun orang-orang yang telah memberikan kontribusi bagi bangsa ini
. Itu semua tidak terlepas dari peran dari Bapak/Ibu Guru sekalian. Perkenankan kami ingin memberikan doa dan penghargaan dari lubuk hati yang terdalam kepada Bp/ Ibu Guru sekalian, semoga yang dilakukan Bapak Ibu guru sekalian untuk membangun human capital, sdm bangsa ini, akan mendapatkan balasan dari Yang Maha Kuasa kelak, amien.
Teman-teman sekalian. Setelah kita menjalani acara dari pagi sampai siang ini, perkenankan saya untuk mengajak teman2 sekalian untuk merenungkan kembali, apa makna pertemuan kita, reuni kita kali ini, dan apa relevansi peran yang bisa kita lakukan pada masa kini dan masa mendatang. Namun demikian, sebelum kita menjawab pertanyaan mendasar diatas tentang makna pertemuan kita, setidaknya ada dua hal yang perlu kita lakukan; Pertama, kita lepaskan dulu terompah kita,yakni segala predikat, pangkat, posisi, jabatan, materi, harta dan apa yang telah kita miliki saat ini, agar kita kemballi pada fithrah kita 20 tahun yang lalu, saat kita memulainya dari tempat ini, saat kita belum memiliki apa-apa. Karena apa yang kita miliki saat ini hanyalah hiasan dan accessories belaka. Kedua, marilah kita lepaskan diri kita dari belenggu pikiran-pikiran yang mengganggu kita, seperti negative thinking, prasangka, membanding-bandingkan, atribut, dan lain sebagainya. Kedua hal itu penting agar kita bisa kembali kepada fithrah untuk menemukan relevansi makna pertemua kita kali ini.
Saya ingin bertanya kepada teman2 sekalian, atau marilah kita bertanya pada diri kita sendiri, apa yang kita rasakan saat pertama kita ingin mengadakan acara reuni kita kali ini? Apa yang kita rasakan teman-teman? Marilah kita bertanya dan menjawab secara jujur. Kita rindu dengan teman-teman smp kita, setelah sekian lama kita tidak bertemu. Yah, itulah yang kita rasakan. Kerinduan. Rasa haru, setelah sekian lama tidak ketemu. Kangen dengan berbagai memori yang ada, yang tidak semuanya bisa tersampaikan dengan lisan dan hanya bisa dirasakan oleh perasaan. Apa yangkita rasakan? Satu kata, kerinduan. Yah, kerinduan. Inilah yang kita rasakan. Bukankah rasa rindu yang kita rasakan saat kita sudah tidak bertemu selama 20 tahun? Lalu apa yang kita rindukan? Apakah fisiknya? Apakah materinya? Saya kita tidak. Kita bicara soal nilai yang lebih esensial, yang terbangun dlaam alam bawah sadar, unscious mind kita. Lalu apakah nilai yang terlah terbangun dalam benak kita saat itu? Ingatkah kita, apa nilai2 yang terbangun saat kita masing-masing kelas tiap minggu berlomba untuk menjadi yang terbaik, menampilkan kebersihan kelas kita. Bukankah kita saat itu merepresentasikan nilai2 antara lain kekompakan, kejujuran, tanggungjawab, responsibilities, kerjasama, kepedullian sosial, social awareness. Bukankah begitu? Bukankah itu yang kita rindukan bersana teman-teman sekalian, dan rindu bahwa nilai itu masih bisa kita hadirkan saat ini, bahwa kita saling berinteraksi secara jujur, kerjasama, kompak, peduli, dan lain sebagainya. Kita rindu, bahwa kita saat itu selalu bekerjasama. Bahwa kita saling peduli.
Marilah setback sejenak ke masa 20 tahun yang lalu. Namun sebelumnya, marilah kita lepaskan berbagai kesibukan rutinitas kita, pekerjaan kita, untuk kembali mereview lagi 20 tahun yang lalu. Dari tempat inilah, 20 tahun yang lalu kita memulainya. Saat kita saling mengenal, saling berinteraksi, saling memahami, dengan berbagai latar belakang kita. Kita menjumpai teman2 baru, dari segala pelosok kampung di Wonogiri. Saya dari sebuah SD kecil yang berasal dari desa, kalau teman2 ingat gambaran sebuah SD ni novel Laskar Pelanginya Andrea Hirata, maka SD saya semacam itulah, bukan terdiri dari 10 orang melainkan lebih sedikit dari itu. Sekitar 5 orang diantaranya hadir disini juga. Dan ternyata disini saya menemukan teman2 yang ternyata lebih kampong dari saya. Ada yang jaraknya dari ini hanya bisa ditempuh, waktu itu harus membawa dua ekor kuda, karena separo perjalanan, salah satu kudanya bisa mati kecapekan. Kita sama-sama naik sepeda waktu itu ya Marno.
Kenapa saya katakana kita rindu pada nilai2 yang kita bangun tadi? Ini terus terang saya simpulkan saat saya melihat betapa tinggi tingkat antusiasisme teman-teman saat menjelang reuni, saya yakin kita semua merindukan nilai-nilai tersebut. Kita ingin nilai itu masih ada pada kita. Tidak luntur oleh waktu, meski sudah 20 tahun kita lalui. Kita masih yang seperti dulu, tanpa ada jarak. Bahwa seorang Martani masih seperti yang dulu, yang selalu peduli pada kita dan mau share jawaban ujian kepada kita, karena rasa kepeduliannya yang tinggi kepada sesame. Meski seorang Martani sekarang telah menjadi Doktor dan memegang jabatan structural di salah satu kampus terkemuka di negeri ini. Kita masih sama seperti yang dulu. Dan bukankah perbedaan-perbedaan yang sebenarnya hanyalah perbadaan peran, tugas dan tanggungjawab sebagiamana yang kita rasakan saat itu, saat kita membersihkan kelas, ada yang bertugas mengepel, menyapu, mengelap, dan lain sebagainya. Yang terpenting adalah, bahwa nilai-nilai diatas, yakni kekompakan, kerjasama, kedisiplinan, tanggungjawab, kepedulian masih tetap ada pada kita.
Saudara-saudaraku sekalian. Itulah sekelumit renungan, refleksi atas apa yang kita lakukan saat ini. Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada saudara-saudara yang beragama lain, yang saya kita memiliki tingkat toleransi yang tinggi, dalam milis banyak berbicara soal hikmah ramadhan karena memang kita dalam suasana ramadhan, dan saat ini idul fitri. Semoga momentum ini bisa kita jadikan sebagai tonggak awal bagi kita untuk berbuat dimasa yang akan datang. Saat kita menyadari bahwa ada banyak hal yang terlupakan dari kita, karena kesibukan dan hal-hal lainnya, semoga bisa kita perbaiki di masa yang akan datang.
Harapan saya, pertemuan kita kali ini akan memiliki dampak yang positip dalam interaksi, komunikasi dan silaturrahmi kita. Entah dalam bentuk apa, saya melihat media dan fenomena blog kemarin benar-benar telah memberikan kita pelajaran bahwa media itu adalah tools yang akan kita gunakan untuk bersosialisasi seperti kita 20 tahun yang lalu.
Terima kasih. Wassalam.

Grogi juga aku harus mempersiapkan materi dan teks ini kepada teman-teman yang saat itu mengenalku sebagai sebagai seorang yang paling kecil secara fisik. Di tengah aku menyusun konsep renungan itu, tiba-tiba handphone berteriak nyaring. Ternyata YP, seorang teman yang dikenal sebagai bos ayam, entrepreneur, yang mengingatkanku bahwa malam menjelang reuni diharapkan kumpul untuk gladi resik di smp kami. Malam kemaren, teman yang lain, DM, teman smpku lainnya, yang saat ini jadi pejabat structural di feui, kalo tidak salah ketua jurusan akuntansi atau sekretaris jurusan, juga mengirim sms bahwa dua hari menjelang reuni ada acara makan-makan di karamba. Betapa menyenangkan kembali bersama dalam kebersamaan dengan teman-teman lama yang sudah lebih dari 20 tahun tidak berjumpa.

Hikmah di Akhir Ramadhan; Ketemu Sahabat Lama

Sedikit mereview kembali target ramadhan 1429 H kali ini, yakni tilawah plus tafsirnya. Tafsir yang kubaca adalah tafsir dari Madinah, aku lupa namanya. Simpel, up to date, dan gampang sekali dipahami. Menurutku inilah mushaf yang relative efektif, dimana tafsirnya cukup dalam satu kitab dan tidak terpisah-pisah layaknya Al Azhar, tafsirnya Quraish Shihab atau yang lain. Ini sangat simple namun menurutku cukup padat, bahkan ada semacam yang pernah kupelajari dulu, kitab Mu’jam Al Mufaharrosy, semacam kitab pencari ayat Fathurrahman.
Bagaimana realisasi target tersebut? Ternyata dalam kondisi tiap hari bekerja, sungguh tidak mudah untuk merealisirnya. Apalagi dalam bulan ramadhan ini sering sekali aku mengagendakan buka bersama, dan kalaupun tidak ada acara buka bersama, hari-hari pulang sampai rumah pun juga sudah cukup larut, sehingga agenda pribadi ini agak keteteran. Dalam kondisi ini, seandainya weekend bisa aku gunakan sih mestinya masih bisa mengcover penyelesaian target dengan cepat. Ternyata kenyataannya tiap weekend justru aku ada acara yang padat juga. Weekend pertama dan kedua kalau tidak salah aku ikut training esq, sedangkan weekend ketiga ikut training shalat khusyu’. Dampaknya ya itu tadi, penyelesaian tilawah sangat lambat, dan banyak keteteran dalam pembacaan tafsirnya. Aku seperti diingatkan saat lailatul qadar malam kedua, yang waktu itu shalat tarwih di masjid kompleks perumahanku Bekasi Jaya Indah, saat aku diingatkan, sudah berapa kalli khatam, berapa juz, bagaimana tingkat pemahaman makna Al Qur’an dan lain sebagainya, sontak saat itulah aku kaget dengan pencapaianku saat itu yang masih di bawah 10 juz. Aku masih beralasan itu karena aku mengejar maknanya. Sehingga, mulai saat itu aku harus memilih mana yang lebih prioritas, antara tilawah ataukah tafsirnya. Aku memilih yang pertama. Sedangkan soal tasir, mungkin nanti bisaa aku pahami pelan-pelan diluar ramadhan. Sekarang, prioritas adalah menyelesaikan, menuntaskan bacaan tiap huruf, tiap ayat, tiap juz, tiap surat, sampai tuntas firman-firman Illahi yang telah diturunkan kepada umat manusia. Firman-firmanNya, yang merupakan hadiah terbesar bagi umat manusia, hudan linnas, petunjuk, pembeda antara yang haq dan yang bathil.
Untuk menyelesaikan target tersebut, aku juga harus toleran terhadap jadual kepulangan kampong. Awalnya aku mau pulang sekitar tanggal 26 September 2008. Namun demikian, demi menyelesaikan target ini, maka aku switch jadual pulang ke tanggal 30 Sptember 2008, H minus 1. Sangat mepet, dan Alhamdulillah aku dapat tiket Air Asia pada tanggal tersebut, flight pagi jam 06.00 via Jogja.
Hari libur mulai Sabtu tanggal 27 September 2008 lalu, yang langsung aku gunakan untuk ngebut baca tilawah. Seharian itu, sejak shubuh aku di kamar, mengurung diri, menyepi untuk lebih dekat dengan bacaan tilawah, sampai maghrib. Siangnya beli baju sejenak di mall, lalu sorenya aku lanjutkan. Entah sudah berapa juz aku selesaikan, mungkin setidaknya 5 atau 6 juz. Sekitar maghrib, kembali tantangan menghadang, kali ini dari FB, teman S2, entrepreneur, yang salah satu ketua Hipmi Pusat itu. “Pak, hari ini kami undang untuk I’tikaf. Tentu saja tidak. Menu utamanya adalah main play station. “Isteri saya sudah dievakuasi karena dua orang pembantu sudah pulang kampong pak”, katanya. Waduh, seperti inilah tantangan yang sungguh sulit untuk dihadapi. Kupikir tadinya, aku bisa baca tilawah di sela-sela kompetisi play station. Ternyata sulit. Bahkan saat aku bilang sama Feb, aku masih harus selesaikan tilawah karena baru setelah dari Al Qur’an yang kucapai saat ini sedangkan waktu tinggal 2 atau tiga hari, dia kontan ketawa,”Waduh, nyerah ajalah pak, gak mungkin bisa selesai. Aku udah juz 27 pak, jadi hari ini agak nyantai kita bisa main Playstation”, katanya. Ternyata, dengan kesibukan dia sebagai salah satu ketua di Hipmi Pusat yang nyaris tiap hari buka bersama, progress dia lebih cepat dari aku. Bedanya, kemana-mana dia pakai sopir dan bisa baca Qur’an di mobil. Dan kantor dia adalah kantor pribadi sehingga lebih fleksible untuk mengatur waktu penyelesaian target pribadi.
Semalaman itu aku kompetisi Playstation. Seperti biasa, aku menjuarai dua kali putaran kompetisi.
Dan malam itu, sungguh tidak kuduga, di tengah-tengah kompetisi, tanpa sengaja aku bersms secara intens dengan seorang sahabat lama, yakni DM, yang awalnya kami saling bersapa menjelang acara reuni di kampung besok. Seorang teman lama yang selama ini dia dikenal sebagai seorang wanita yang sangat cerdas dan bersahaja, semenjak dahulu sampai sekarang, yang selalu konsisten dalam kecerdasan dan kesajahaannya. Kami sudah 22 tahun lebih tidak pernah ketemu. Meski begitu, kabar tentang dia, siapapun dari kami sebagai teman-temannya tentu tahu. Karena dialah the best diantara kami, dalam potensi kecerdasan dan kecermelangannya, dalam konsistensi mengelola potensi dirinya, dan saat ini mungkin dia telah berada di puncak karir akademis pekerjaan dia sebagai seorang lecturer di sebuah perguruan tinggi terkemuka di negeri ini. Seorang yang siapapun yang mengenalnya tentu akan mengaguminya. Apalagi seorang yang mengetahui dan mengenal masa kecil dan masa lalunya. Seorang yang ternyata masih memiliki kepedulian tinggi, komitmen persahabatan yang tinggi yang setidaknya tampak dari comment-comment dia di milis dan blog yang kami bangun menjelang acara reuni. Aku senang bahwa dia yang kukenal 22 tahun yang lalu, waktu itu sempat aku duduk tepat di belakang bangkunya dan sering mendapatkan berkah dari posisi tempat dudukku terutama saat ujian, dan ternyata dalam perkembangan dalam kurun waktu 22 tahun tidak terlalu merubahnya. Dia masih care dan peduli dengan teman-temannya, sebagaimana dulu dia juga peduli bahkan saat ujian aku sering tanya jawabannya, dan dia tidak pernah menolak untuk share jawaban ujiannya.
Malam itu, sampai malam keesokan harinya, bahkan akhirnya dalam beberapa hari ke depan, seolah aku menemukan frekuensi yang sama dalam perbincangan dengannya. Aku merasa bahwa inilah perbicangan yang sangat mengharukan, saat sudah begitu lama tidak bertemu dan berbincang intens dengan seorang sahabat, ternyata dari sms2 yang beruntun ini telah berbicara banyak. Ada semacam pemahaman yang serupa tentang review perjalanan kehidupan kami, meski tidak mirip banget. Kesamaan dalam memandang masa lalu, masa sekarang dan masa depan, serta upaya untuk menemukan hikmah kehidupan, dan itulah yang membuat kita sama-sama concern. Apalagi dengan tingkat religusitas, personality dan profesionalitas dia, dia banyak ngasih advice terhadap persoalanku, yang membuatku merasa betapa inilah salah satu hikmah di akhir ramadhan, saat aku dipertemukan dengan seorang sahabat lama yang telah lama hilang. Bukan hilang dalam arti sebenarnya, karena selama ini aku tahu kiprah dia di dunia akademis, namun sungguh tidak kusangka bahwa seorang sesibuk dia, ternyata masih sempat ber sms dengan intensitas yang demikian tinggi dengan kata-kata yang sangat panjang dan bermakna. Mungkin dia satu-satunya teman yang sempat menguak perjalananku dengan demikian detil, dan dia jua menyediakan dirinya sebagai seorang sahabat yang saling mensupport dan saling menyemangati. Tampak sekali betapa tulusnya uluran persahabatan darinya. Aku bersyukur dengan sms-sms dia yang sangat menggugah, penuh support dan sangat menyemangati hati ini. Setidaknya, dalam situasi seperti ini, emang terkadang kit butuh kebersamaan dengan seorang sahabat yang saling memahami dan memilik perspektif pandang yang kurang lebih sama, untuk teman discuss dan lainnya.
Emang hari-hari ke depan ini kita akan mengadakan reuni smp di kampong kami. SMP yang cukup favorit di kota kami. Saat kami masih sekolah dulu, masih teringat waktu itu ada reuni yang dihadiri oleh tiga orang menteri pada cabinet saat itu, sekitar tahun 1986-an. Milis dan blog yang dibangun oleh teman-teman sekitar 3 bulan menjelang reuni juga sangat dinamis dengan tingkat hits yang sangat tinggi, dalam topic-topik diskusi yangserius maupun sekadar say hello yang mengindikasikan tingginya antusiasisme teman-teman untuk menghadapi reuni. Teman yang bersms denganku tadi tentunya adalah salah satu magnit dalam reuni ini, yang dalam comment-comment yang sering di posting, menggambarkan betapa seorang wanita seperti dia ternyata masih sama seperti yang kukenal dulu, seorang yang peduli, berintelektual tinggi, bijak dan memiliki religiusitas yang tinggi, dan selalu bersahaja. Dialah, tak lain dan tak bukan, kukira dalam reuni kita nantinya pasti akan menjadi raising star diantara kami.
Di tengah-tengah bersms ria dengannya, tentu saja aku masih harus menyelesaikan tugas pokok, yakni tilawah sampai khatam.Tadinya, menjelang 3-4 hari menjelang lebaran, masih ada kegamangan apakah target khatam ini bisa terselesaikan, mengingat ternyata ada banyak kendala2 teknis dan nonteknis, sementara progress juz masih sangat minim. Alhamdulillah, dengan intensitas dan konsentrasi untuk menyediakan waktu minimum perhari selama masa-masa injury time ini, akhirnya terselesaikan juga target pribadi ini.
Senin sore itu, aku sudah sampai pada juz 28, sehingga sore itu aku memutuskan untuk beristirahat sejenak untuk menikmati suasana di akhir ramadhan. Awalnya ingin nonton film Laskar Pelanginya Andrea Hirata. Namun sampai di mall ternyata banyak hal yang harus aku prioritaskan, belanja beberapa barang, dan juga, tentu saja ada agenda untuk mengkondisikan fisik ini agar sedikit nyaman, setidaknya dengan overhaul semacam totok wajah, ear candle, refleksi, hairspa, dan lain sebagainya. Aku merasa, ternyata sudah lama sekali aku tidak berbelanja ke mall. Dan dengan beberapa bawaan belanjaan itu, sempat kerepotan sangat, saat barang-barang belanjaan ternyata sangat susah untuk dinaikkan ke motor. Biasanya, semenjak dulu, sudah cukup lama, semenjak aku di Jakarta selalu bawa mobil dan tak pernah repot dengan berapapun barang belanjaan yang aku beli. Sempat aku berhenti sejenak, saat trolly yang aku bawa sampai parkiran di depan motor, dan berpikir agak lama soal bagaimana teknis membawa barang belanjaan. Dada ini sempat berdenyut saat teringat betapa mestinya aku tidak layak mengalami hal seperti ini. Betapa tidak seharusnya aku mengalami kesusahan teknis seperti ini, karena kehilangan uang dan kenikmatan materi yang nilai nominalnya ternyata relative tinggi untuk ukuran employee sepertiku. Tidak semestinya dengan kepemilikan nilai total asset yang senilai Rp. 1,2 milyar ternyata aku hanya mendapatkan share di bawah 50 juta, atau senilai dibawah 3% dalam pembagian harta bersama oleh Pengadilan Negeri Bekasi, oleh seorang hakim yang jelas-jelas mempresentasikan dirinya sebagai hakim yang mempunyai agenda-agenda pribadi. Soal ini nantinya akan aku ulas tersendiri dalam blog ini. Sejenak, dalam tingkat usia dan masa kerjaku selama ini, aku merasa betapa tidak semestinya aku mengalami ini. Namun sesegera mungkin, aku tersenyum dengan apa yang terlintas sekilas dalam benakku tersebut. Inilah, jelas-jelas bisikan syetan, atau belenggu hati, yang akan mengganggu proses pembelajaran dan hikmah yang telah aku dapatkan dalam perjalananku akhir-akhir ini. Hikmah yang hanya bisa dirasakan dan tak perlu diungkapkan dalam banyak kata. Seperti kata Po dalam film Kungfu Panda bahwa Yesterday is yesterday, The day is a Gift and Tomorrow is a mystery. Seketika aku membisikkan dalam hatiku bahwa aku tak boleh cengeng dengan kondisi ini. Ingatlah bahwa ini bukan apa-apa, ini sangat kecil, dibandingkan dengan perspektif perjalanan makrokosmos yang telah aku jalani. Tuhan Maha Kaya, dan apa yang pernah kumiliki, sangat mudah bagiNya untuk menariknya kembali karena semua yang kita miliki adalah sekadar titipan saja. Hilang dengan cara apapun dan dengan mekanisme seperti apapun. Tentu saja aku tak munafik soal kehilangan asset yang bagiku bernilai tinggi dan tentunya itu bisa aku gunakan untuk banyak hal.
Namun sekali lagi, betapa ruginya kalau aku menganggap asset itu adalah segala-galanya yang akan menentukan kebahagiaan hidup seseorang. Tidak, sama sekali tidak. Aku toh masih bisa tersenyum saat dia sms ke orangtuanya dan diforward ke aku soal kemenangan dia di Pengadilan Tingkat Pertama Bekasi. Mungkin saja dia sedang mengadakan syukuran. Dia dan keluarganya di Jogja, sebagaimana saat adikku Anies, sempat melihatnya berbelanja dalam jumlah super besar di sebuah mall di Jogja. Saat dia menyaksikan pemandangan yang lumayan langka, dimana anak yang selama ini demikian jauh bahkan sering dianggap durhaka oleh orrangtuanya, ternyata mereka sedang berbelanja bersama dalam jumlah yang besar. Aku bersikap positif melihat perkembangan itu. Soal kalah menang dalam hal perolehan harta bersama, aku telah menetapkan dan memantapkan diri, bahwa bukan soal harta yang aku lakukan, melainkan essensi keadilanlah yang aku perjuangkan. Saat keadilan masih belum proporsional, maka di situlah peluangku untuk berjuang masih tetap terbuka, sampai pada titik tertentu ketika ternyata tidak ada lagi yang bisa kulakukan untuk memperjuangkan keadilan di dunia. Soal hasil, bukan concernku. Yang menjadi concernku adalah upaya dan ikhtiar untuk memperjuangkan hak dan keadilan, dengan cara-cara yang elegan, titik.
Malam itu ak packing untuk persiapan pulang esok hari berlebaran di kampong. Habis packing, lalu baca tilawah tuk menuntaskan khatam di akhir ramadhan. Masih 2 juz saat ini. Ternyata meski malam ini aku tidak tidur, masih belum tuntas juga. Saat deadline malam, ternyata masih ada sekitar juz terakhir masih belum tuntas juga. Finally, misi menuntaskanbaca tilawah, akhirnya berhasil aku tuntaskan di Bandara Soekarno Hatta, Terminal IC, tepatnya di musholla Gate 4, saat masih ada waktu sekitar detengah jam sebelum boarding. Alhamdulillah, meski target untuk membaca tafsir tidak terpenuhi, bagaimanapun aku bersyukur bahwa aku bisa menuntaskan ayat-ayatNya, yang meski separo mushaff tanpa tafsir, namun saat membaca ayat-ayatNya, dari huruf demi huruf, dari rukuk demi rukuk, dari juz demi juz, dari surat demi surat, aku merasa betapa agungnya ayat-ayatNya.