Rabu, 18 Juni 2008

Condet, I'm coming...

Pagi ini, Senin 16 Juni 2008, bagi kebanyakan teman di kantor kami dihadapi dengan tidak terlalu semangat. I hate Monday, katanya. Setelah menjalani akhir pekan, biasanya emang malas-malasan datang ke kantor. Ada jokes yang bilang, Senin dan Selasa masih malas ke kantor. Rabu baru adaptasi, Kamis baru mulai bekerja, lalu Jum’at udah gak concern lagi karena mau libur. Wow, lalu dimanakah implementasi ayat (atau hadits sih ya), “Bertebaranlah kamu di muka bumi... dst...dst...”

Pagi ini, saat membuka outlook, membaca email dari dia, dan sedang memulai untuk reply, tiba-tiba handphone berteriak. Ku tersenyum melihat nama yang tertera di screen. Hari ini dia mengajakku untuk ketemu dengan kedua orangtuanya. Waow! rasanya demikian lancar proses dan progressku dengannya sejak smsan dan rencana untuk ketemuan, lalu ketemu, smsan lagi, ketemu lagi, kirim2an email, telepon, penyamaan frekuensi dan persepsi, resonansi ide, menyatukan langkah, dan saat ini langkah berikutnya adalah melakukan pendekatan dengan keluarga, dan ini semua harus kusyukuri. Begitu meletakkan telepon, di satu sisi aku bersyukur, alhamdulillah, sementara di sisi lain, terus terang aja, ada yang muncul dari dalam hati, entah perasaan khawatir, deg-degan, sedikit cemas, dan pastilah akan ada dua kemungkinan dalam hasil pertemuanku dengan kedua orangtuanya, happy or unhappy. Aku sadar diri, mengingat bagaimana kondisiku saat ini dan juga mengingat seperti apa statusku saat ini.

Beberapa menit kemudian aku terima email dari dia:

aniwe, deg deg an nih..
a bit scarry if things happen not as expected...
astagfirullah.. kok aku gitu yaaa... kembali pada Allah lah...
bismillah..

Wah, ternyata dia juga mengalami hal yang sama. Ku sedikit menenangkan dirinya yang sebenarnya lebih kutujukan buat diriku sendiri.

Kalo dirimu deg-degan..., sama dong sayang, aku juga nih, mungkin jauh lebih deg-degan dibanding dirimu. Wajar, mungkin tiap orang yang berada dalam momentum seperti ini akan merasa khawatir seandainya terjadi sesuatu yang diluar ekspektasi dia. Wajar, alamiah dan manusiawi.

Siang itu menjelang waktu lunch, aku meluncur dengan taxi menuju ke Condet, setelah mendapatkan petunjuk alamat rumah beliau melalui sms. Aku masih agak tegang, namun kucoba menenangkan diri dengan mengajak ngobrol pengemudi taxi, yang kebetulan usianya udah cukup tua. Kubilang padanya bahwa siang ini aku mau menghadap calon mertua untuk minta ijin dan restu agar putrinya diperkenankan kelak menjadi isteriku. “Doakan ya pak, semoga acara siang ini lancar ya”, begitu setulusnya kuharapkan doa dari pengemudi taxi itu.

... to be continued...

Senin, 02 Juni 2008

Cukuplah Allah Penolong kami...

2 Juni 2008, semalam Pak SG, lawyer, meneleponku, minta waktu untuk ketemu. Awalnya beliau yang akan ke rumah, tapi seketika jadi ingat, rumah yang mana? Meningat rumah telah kami kosongkan dan rumah kontrakanku tentu denahnya cukup sulit dicari. Akhirnya aku kesana, ditemani anakku SF.

Saat aku kesana, mungkin saat itu praktis aku udah menjalani 35 jam tidak istirahat atau tidur, setalah mengikuti I’tikaf di daerah Menteng Jakarta kemaren. Bukan waktu yang pendek untuk ukuran yang normal, yang mestinya aku harus segera istirahat. Tapi anehnya aku masih merasa fresh. Mungkin energi yang berlipat, kejernihan pikiran dan ketenteraman hati ini telah mengalahkan kekuatan fisik. Tentu saja tetap ada batasnya, dan tidak tiba-tiba saja aku ambruk ya.

Sejujurnya, materi-materi pembicaraan itu aku sangatlah tidak membuat hatiku enjoy, dan sungguh tidak kusangka akan berkembang seperti ini. Ku masih teringat, pada awalnya, beberapa hari yang lalu, Pak SG ini menghubungiku, untuk keperluan meminta advice problem loan salah seorang kliennya. Di akhir pembicaraan, hanya sesaat aku curhat dan minta pendapat tentang masalahku dengan HN yang masih ngambang, yakni soal harta gono gini. Beliau menawarkan diri untuk memediasi, mengingat beliau adalah lawyer pertama HN yang dulu dihire HN untuk proses divorce denganku. Sekedar mengingatkanku, seandainya waktu itu kita jadi divorce, tentu kejadiannya akan jauh lebih baik daripada perkembangan saat ini. Seandainya saat itu ada satu becak yang lewat atau satu buah ojek saja, tentu kita sudah divorce dengan formula yang paling fair dan paling jujur, baik itu masalah hak asuh atas anak, pembagian harta maupun kesepakatan untuk sama-sama memberikan ruang kasih sayang kepada buah hati kami. Kesepakatannya saat itu, hak asuh anak pada dia, dengan aku share biaya kesehatan dan pendidikan, saling memberikan perhatian kepada anak-anak, sedangkan pembagian harta gono-gini adalah dibagi dua setelah dikurangi outstanding hutang kita masing-masing di kantor. Sangat fair. Awalnya dia terlihat sulit untuk menerima, tapi oleh lawyernya dijelaskan mengenai aturan-aturan hukum yang berlaku. Beberapa aset yang akan dibagi adalah 3 rumah, 1 ruko, mobil, motor dan uang cash. Total aset mungkin ada sekitar Rp. 1,3 miliar. Karena gak ada kendaraan bagi dia untuk pulang, entah mendapatkan bisikan dan ide dari mana aku berbaik hati menawarkan untuk mengantarkan dia pulang, karena dia tadi berangkat naik becak dan aku naik motor. Dan dalam perjalanan pulang yang hanya makan waktu 5 menit itulah, entah siapa yang memulai pembicaraan, kita rujuk lagi. Dan dalam perkembangan berikutnya rupanya masa rujuk itu dipersiapkan dan dimanfaatkan olehnya untuk menguasai aset-aset yang ada. Dua buah rumah dia likuidasi dengan sangat cepat dan dijual murah, termasuk mobil, dan juga uang cashku hasil dari pencairan kredit di kantor yang sedianya akan kugunakan untuk membeli mobil. Dan saat dia memegang uang sejumlah besar, sekitar Rp. 500-an juta, saat dia sudah merasa pada tingkat percaya diri untuk menghadapi kemungkinan terburuk untuk divorce, diatambah perilaku dia makin menjadi, makin semaunya sendiri, sehingga akhirnya konflik demi konflik terjadi, dan saat akhirnya kita sepakat untuk divorce, diapun tersenyum penuh kemenangan karena merasa telah memegang cash yang akan dialokasikan sebagian untuk memenuhi ambisi, nafsu dan dendamnya kepadaku yang kian menggebu, waktu itu. Dia lakukan apapun, secara hukum, secara premam, bahkan secara paranormal, untuk merealisir ide-idenya. Proses panjang yang kelalui pada masa berikutnya ibarat mendaki bukit. Kedzaliman yang dia lakukan dengan melakukan berbagai skenario dan rekayasa secara hukum telah mendudukkanku pada posisi yang sulit dan tertekan, namun ternyata banyak sekali aku mendapatkan hikmah. Gaya-gaya premanisme yang dilakukannya melalui pihak ketiga, paranormal, dan lain sebagainya telah mempresentasikan separti apa dan bagaimana tingkat perasaan kebencian telah menggantikan perasaan cinta dan kasih sayang yang selama ini kita rajut dalam kebersamaan.

Hasbunallah wa ni’mal wakiil, hanya Allah jua penolong kami, seolah menjadi senjataku untuk mengcounter berbagai hal yang dilakukannya. Termasuk yang terakhir, ide dia untuk mempergunakan JM agar melakukan “sesuatu” terhadapku. Dalam hal ini aku sempat menyampaikannya ke pak SG.

“Pak, saya sungguh geregetan untuk memberikan dia pelajaran hidup yang berharga”, kata Pak SG malam ini. Menurutnya, ada beberapa hal yang akan dilakukannya apabila aku mempercayakannya menjadi lawyernya. Pertama, menggugat penjualan secara tidak sah atas mobil pada saat kita dalam proses divorce. Itu layak untuk kita gugat secara perdata!, kata Pak SG. Juga penjualan dua buah rumah dan tindakan lainnya akan diungkap. Kedua, rencana yang sempat disampaikan kepada beberapa orang untuk melakukan “sesuatu” terhadapku, lengkap dengan bukti-bukti rekaman dan saksi, menurut dia adalah senjata untuk memberikannya pelajaran. Ini kejahatan serius, lagi-lagi kata Pak SG. Ketiga, Pak SG menawarkan diri untuk melakukan gugatan secara perdata atas aset yang tersisa, dengan mempertimbangkan perbuatan-perbuatan HN yang telah menguasai harta lainnya sebelumnya. Informasi penting dari Pak SG adalah saat HN mengirimkan pesan singkat melalui SMS, “Saya sudah mendaftarkan gugatan soal aset kepada Pengadilan. Acara sidang minggu depan. Saya tidak mau bicara soal harta dengannya, karena kami cerai karena akibat harta. Seandainya bukan karena harta, mungkin kami tidak cerai”. Ohya, aku sempat berpikir, betulkan soal harta menjadi sebab perceraian kita? Mungkin saja itu yang ada dalam benaknya, saat telah melikuidasi dan menguasai aset, saat itu yang ada dalam benaknya sebagai momen pas untuk divorce. Wallahu alam.

Sungguh aku tidak ingin lagi terlibat dalam pertikaian, konflik, permusuhan dan sebangsanya, yang hanya akan menjadi faktor mudharat mengotori jiwa dan hati ini. Aku tidak mau terjebak dalam skenario lawyer, siapapun dia. Pak SG secara pribadi baik, namun tetap saja itu adalah profesinya, dan tentu saja, uang sebagai bentuk perwujudan dan penghargaan dari profesi yang dilakukannya itu, tentu saja tidak memiliki teman kan? Ideku sebenarnya sederhana saja, ingin menuntaskan urusanku dengannya, kalau bisa tanpa melalui pengadilan. Mediasi yang ditawarkan Pak SG aku harapkan tadinya bisa berujung pada keadaan dimana kita bisa duduk bersama, bisa saling menyapa lagi, bisa saling menasehati atas pelajaran dan hikmah yang telah terjadi, bisa saling support, sebagai seorang yang pernah mengalami waktu-waktu kebersamaan dalam tempo yang cukup lama dan menghasilkan buah hati dan amanah dariNYA untuk menjadikannya sebagai anak sholeh. Apa lagi? Mestinya dia yang telah memegang dan menguasai likuiditas aset bersama kita sebesar Rp. 500 juta, kuharap terbuka untuk membicarakan tentang bagaimana dengan aset yang tersisa, yakni rumah dan ruko? Apa lagikah yang dia harapkan? Bukankah aku tidak berlebihan seandainya berharap agar kita cepat selesai, tuntas tas tas, dan soal sisa aset, formula pembagiannya bisa kita bikin se simpel-simpelnya. Apa lagi? Buat apa saling gontok-gontokan di pengadilan yang tentu berbiaya tidak sedikit dan tentu hanya akan membuatmu berpikir untuk memenangkan secara total dengan melakukan apapun cara dan prosesnya. Buat apa, HN?

Jadi, menurut pak SG, saat ini HN telah mendaftarkan gugatan perdata. Menurut Pak SG, “kita harus gerak cepat pak, melakukan counter secara pidana maupun perdata”, katanya. Pidana yang akan diajukan Pak SG, katanya adalah penggelapan aset, penjualan secara tidak sah, dan percobaan melakukan tindakan kejahatan serius melalui pihak ketiga.

Duh, stop-stop dulu pak. Saya saat ini tidak dalam kapasitas untuk membiarkan ide-ide seperti itu memasuki pikiran saya. Please, aku saat ini dalam orientasi dan konsentrasi yang bukan berada disitu lagi. Kalau aku mengiyakan apa maunya lawyer, apa bedanya aku dengannya? Bukankah akhlaq yang paling baik adalah, antara lain, memaafkan orang yang telah berbuat dzalim kepada kita? Bahkan disaat dia masih ingin berbuat dzalim kepada kita? Soal HN yang udah mendaftarkan gugatan perdata yang kata pak SG telah menang satu langkah, bagiku tidak masalah. Yang penting cepat selesai. Soal bagaimana nanti hasilnya, soal kemungkinan seperti biasanya dia akan menggunakan segala daya upaya dan resources untuk melakukan apapun agar maksud dan keinginannya tercapai, hanya satu yang kuyakini, hasbunallah wa ni’mal wakiil. Peristiwa demi peristiwa saat saat dengan sumberdaya dan sumberdana dilakukannya, apapun untuk menyeretku di dalam kursi pengadilan yang penuh rekayasa, atau melalui jalur premanisme dan juga paranormal, ternyata gagal. Bahkan saat dia kehilangan Rp. 550 juta dibandingkan dengan yang dia dapatkan dari menguasai aset secara tidak fair sebesar Rp. 500 juta, bukankah sudah menjadi pelajaran berharga. Bahwa Allah itu kun fayakun. Bahwa harta sangatlah kecil dan tidak kekal dan buat apa dirinya habiskan energi untuk mengejarnya, dengan segala daya upaya tidak tidak benar? Ihklaskan dan maafkan apa yang dilakukannya. Toh, Allah tidak tidur untuk sekedar bercanda dan mengingatkan hambaNYA. Hari ini aku belum memberikan statemen apa-apa terhadap Pak SG. Dia masih mengungguku untuk acc dan memberikan kuasa hukum kepadanya, tapi dalam hatiku, keputusanku sudah jelas, no thanks, Sir…

Nikmatnya I'tikaaf

Minggu, 1 Juni 2008, Semalam aku mengikuti kegiatan I’tikaf di MASK. Tahun lalu biasanya aku mengikuti pengajian mingguan di tempat ini, bersama BY dan FB, teman satu team kuliah investment banking. Dengan mereka sampai saat ini kita masih saling kontak, dan terkadang kita sempatkan untuk bertemu. Kali ini aku sendirian mengikuti kegiatan ini, dan emang ku ingin sendirian menikmati kegiatan ini. Momentum yang kupikir sangat pas bagiku untuk beristighfar, memohon ampun atas dosa-dosa yang selama hidup kulakukan, taubatan nasuha, berdzikir, mendekat padaNYA, berdoa, melakukan orientasi, evaluasi dan refleksi hidup selama ini dan positioning untuk proyeksi hidup mendatang. Pengakuan dosa, yah pengakuan atas dosa besar yang telah kulakukan, janji untuk tidak mengulanginya lagi, juga janji untuk menggantikannya dengan amal dan ibadah yang baik, betul-betul terasa sampai lubuk hatiku terdalam saat melakukan sholat taubatan nasuha. Kebesaran Allah sangat kurasakan saat membaca dzikir asmaul husna. Subhanallah, sejujurnya aku tidak menyangka bahwa aku mendapatkan pengalaman spiritual seperti ini. Emang kurasakan adanya perbedaan suasana apabila kita berdoa di rumah dengan di masjid. Dan tentu juga berbeda, doa di masjid biasa dengan masjidil haram atau masjidinl Aqsa. Beda, mungkin banyak malaikat yang malam itu menyertai ibadah kita. Panduan doa-doa dari sang Imam yang terekspresikan, seolah mewakili suasana hati ini. Bahkan sejak awal mengikuti acara, sekitar jam 21.00, saat aku terlambat sekitar 1 jam, ternyata saat itu sedang tadarus tepat 1 halaman sebelum juzku, juz 16, tepatnya pada surat Al Kahfi. Mudah-mudahan awal yang sangat bagus. Betul-betul aku menghayati acara ini dan mudah-mudahanan bulan depan dan juga bulan-bulan selanjutnya aku tidak akan melewatkan acara ini. Aku sangat berterima kasih pada panitia, atau imam atau pengelola acara yang telah menggelar acara ini, seolah acara ini didesain secara customize sehingga setiap orang, sejauh ku memandang, dengan pakaian putih bersih, pria wanita, tua muda, kesemuanya menampilkan wajah-wajah tenang, syahdu, damai, tenteram, ikhlas, tulus dan jauh dari kekacauan-kekacauan, kegelapan-kegelapan, kekusutan dan kompleksitas pikiran ataupun penyakit2 hati lainnya. Acara dari jam 21.00 sampai dengan jam dhuha pada hari berikutnya, seolah fisik ini tidak mengalami kelelahan. Energi yang tinggi, keinginan dan kerinduan untuk selalu merasa dekat denganNYA, motivasi untuk selalu mendapatkan ridhoNYA, seolah telah mengalahkan kelelahan fisik seperti apapun.

Topik baru?

Sabtu, 31 Mei 2008… Wow, ternyata sudah sangat lama aku tidak menyambangi diaryku ini ya. Di saat sebenarnya ada perubahan warna yang mungkin bisa terekspresikan dalam perkembangan topik yang berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Mudah2an topik ini akan berlanjut dan merupakan tahapan awal dari proses yang akan aku jalani setelah aku mengalami suatu proses yang panjang dan melelahkan, terutama semenjak divorce yang tidak berlangsung smooth. Banyak hal hikmah yang aku peroleh semenjak peristiwa tersebut. Termasuk kurasakan adanya turbulensi dan volatilitas spiritualitasku mengiringi proses ujian yang aku alami, terkadang saat tertentu aku merasa betapa aku butuh dekeet sekali denganNYA, sebagai satu-satunya kepada siapa aku bisa mengadu dan curhat, di malam2 yang sepi sedangkan pada saat lainnya aku merasa terlena dengan adanya godaan-godaan berat sebagai dampak dari ujian yang aku alami tersebut. Saat ini, detik ini aku telah bertekad untuk konsisten, komitmen, istiqomah, untuk selalu menempatkan hikmah ini dalam setiap langkah ke depan, dan membuka lembaran baru dengan warna yang mudah2an jauh lebih baik dari waktu-waktu sebelumnya. Insya Allah, semoga tekad, janji dan niat ini akan aku jaga sampai saat aku tidak mampu lagi melaksanakannya. Beri kekuatan kepada hambamu yang lemah ini Ya Allah..

Ku ingin mengguratkan sedikit saja tentang topik aktual proses yang kulakukan untuk mencari jodoh pasca divorce. Terhitung semenjak aku join ke sebuah milis yang beranggotakan para pejomblo mania, muslim dan muslimah, aku langsung tersibukkan dengan berbagai kegiatan, entah itu sekadar chit-chat, sms, janjian ketemuan, ada yang minta cv, taaruf, dan lain sebagainya. Beberapa diantaranya kita sempat ketemuan sekadar ngobrol lunch atau dinner sepulang kantor.

Sampai pada akhirnya, ajaib, mudah-mudahan yang terjadi ini adalah jawaban atas doaku selama ini. Entah melalui mekanisme seperti apa dan bagaimana, tiba-tiba seorang muslimah yang awalnya melalui sebuah sms memperkenalkan, dan mengajakku untuk ketemu. “Get your mobile number from friend in milis..assalamu’alaikum .. I’m IS, would like to know you as friend first.. May I? Wassalam..”. Yang mengagetkanku adalah saat dia melalui sms mengirimkan pesan, “Aku dah baca my diary mas.. Salut ama hidup mas, feel sorry also about your life recently.. Semoga tetap sabar dan tawadhu ya”. Deggg… apaaa…, oh tidaakkk…!!!. Kaget bukan kepalang diriku. Bagaimana mungkin bisa terjadi, seingatku aku hanya memberikan dia blog multiplyku aja, dan tidak ada link ke blogger. Bagaimana bisa? Ku hampir tak percaya ada seseorang yang bisa membuka diaryku yang tersimpan rapi di dunia maia, kecuali apabila seseorang emang aku berikan alamat blognya. Sungguh malu karena catatan pribadinya diketahuinya, dan dengan penasaran akupun tanya darimana dirinya tahu alamat blog diaryku. Dia bilang, “Kemarin mas ngasih multiply, nggak apa2 mas, tidak ada yang kebetulan lah, Allah semua yang berkehendak bukan? Termasuk tentang diary itu.. Ketemuan yuk.. Di starbuck buncit aja, mau? Bisa? Just want to know you better..”. Begitulah awalnya, hari itu juga kita langsung janjian untuk ketemuan di sebuah kafe steak di bilangan Buncit, dan proses perkenalan saat itu dan selanjutnya sampai saat ini masih sangat terpatri dengan pada benakku. Jujur, aku sangat terkesan dengan dirinya, dan aku sangat berharap bahwa dia --atau setidaknya orang seperti dia--, akan menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Seorang wanita muslimah yang Insya Allah memenuhi kriteria yang aku harapkan (dan bagaimana denganku, apakah aku juga memenuhi kriteria yang diharapkannya? Aku tidak tahu, semoga). Yang jelas, pertemuan pertama dengannya adalah tanggal 16 Mei 2008, berarti sampai saat ini baru setengah bulan kita kenalan bukan? Sungguh rentang waktu yang sangat-sangat pendek untuk memutuskan baik pada diriku maupun pada dirinya, apakah sosok yang baru kita kenal ini adalah sosok yang telah kita telah haqqul yakin untuk menjadikannya sebagai pasangan hidup kita kelak. Setuju? Sebentar, menurutku waktu memang bukan segalanya untuk sebuah parameter yang menentukan apakah kita sudah saling mengenal atau belum. Ada pasangan yang kenal sesaat, dan memutuskan langsung menikah ternyata dalam kenyataannya mereka oke dan happy saja dalam menjalaninya. Sebaliknya ada yang melalui proses taaruf (bahkan pacaran) dalam waktu lama, ternyata energinya akhirnya habis dicurahkan saat pacaran, dan setelah married mereka kehabisan energi untuk saling menjaga, melindungi, menghormati, menyayangi, sehingga akhirnya kapalnya karam di tengah jalan. Ini emang debatable, mungkin tergantung dan lebih tepat untuk dikembalikan ke masing-masing pribadi yang menjalaninya. Yang jelas, dalam usia saat ini, aku 37 dan dia 34, kupikir emang bukan masanya lagi bagi kita untuk berpacaran, saling menemukan frekuensi yang cocok, ketemuan tiap hari, ngobrol mencari topik yang membuat kita makin menyatu, dan lain sebagainya. Mungkin dalam hal ini kita emang sudah sedemikian sepakat, --istilah yang ingin kupake sebenarnya sedemikian berjodoh, hiks-- dan oleh karenanya dengan cepat topik pembicaraan kita langsung nyambung. Jujur, saat pertama aku ketemu fisik, melihat senyum manis dan kehangatannya untuk masuk ke kafe dan memperkenalkannya dengan saudara dan ponakannya, hatiku seketika berdesir dan feelingku berkata seolah dia telah lama kukenal. YA Allah, mungkinkah emang dia pernah kukenal saat kita telah sama-sama tertulis di lauh mahfudz ya. Pertemuan pertama sangatlah akrab dan hangat. Dia sangat humoris, pintar, religius dan… tentu cantik. Dia bekerja di sebuah perusahaan mining coal yang berkantor pusat di satu deret dengan kantorku. Aku sedikit heran kok ada ya, seorang wanita yang cantik, pinter, mapan, dan humoris seperti dia yang dalam tingkat usia seperti itu masih sendirian. Dalam bayanganku, mestinya dia atau orang-orang sepertinya, tentu sudah punya beberapa anak, sudah married atau minimal sudah punya tunangan untuk menikah. Duh, capek deh, mikirin hal-hal kemungkinan itu, sudahlah, aku tidak perlu berpikir soal itu, mungkin saja dia selama ini terlalu lama bersibuk ria bekerja di lokasi tambang sehingga lupa memikirkan kepentingan diri dan masa depan. Yang penting, saat ini dia masih sendiri dan ternyata dirinya juga membuka peluang dan jalan bagiku untuk membicarakan kemungkinan kita untuk melangkah ke tahapan selanjutnya yakni married. Lalu bagaimanakah proses selanjutnya? Sampai disini aku stop dulu, mungkin perlu bab tersendiri untuk membahasnya.

Kamis, 22 Mei 2008

Renungan Kalbu..

Manusia seringkali mengejar kemuliaan. Sebagian orang menyangka orang yang patut disebut mulia ialah orang yang memiliki harta yang banyak, mobilnya ditukar setiap enam bulan menurut model yang terbaru, bertumpuk-tumpuk harta dan banyak menyimpan uang dalam Bank. Tetapi orang ini tidak segan melakukan kecurangan, korupsi, kecabulan yang orang lain tidak tahu atau seakan-akan tidak tahu karena takut akan menyinggung kemuliaan beliau itu. Begitu juga kata sebagian orang, kemuliaan ialah mendapat gelar dan pangkat kehormatan. Terhias pula bintang di dada. Orang ini pun belum tentu mulia karena kadang-kadang kehormatan dan pangkat diperoleh melalui cara-cara yang tidak terpuji.
Orang yang layak disebut mulia ialah orang yang menang melawan menghadapi nafsunya yang jahat, menegakkan budi pekerti yang mulia untuk kemaslahatan ummat, bangsa dan agama serta manusia keseluruhannya. Ia berusaha memperbaiki dan memperhaluskan budi.
Yang bernama kemuliaan ialah kemuliaan jiwa. Jiwa yang melepaskan diri dari kerendahan dan perhambaan.
Kemuliaan ialah membangunkan umat yang binasa, membuka selubung kebodohan, menuntut hak yang terampas, memberi ingat kemuliaan yang hilang, membangunkan yang lalai dan menyedarkan dari lengah, mempersatukan suara dan meningkatkan semangat. Orang yang sanggup bekerja demikian, itulah orang yang mulia.
Meskipun tempat tinggalnya hanya sebuah pondok buruk, dan pakaian yang sederhana. Walaupun dia hanya makan seadanya, tidur di atas tikar karena miskinnya, mengembara ke hilir ke mudik, ke lurah dan ke bukit.
Jiwa yang demikian cukup untuk menjadi perhiasannya dan cukup menjadi tanda kesempurnaannya.
Itulah hidup yang tenteram dalam hati.
Itulah jasa yang tertulis sepanjang zaman yang selamanya tiadakan pupus.
Ke sanalah kita sekalian harus berlomba "
(Buya Hamka, Falsafah Hidup)

Kamis, 17 April 2008

Dilema empirik hari ini...

Hari ini Jum'at 18 April 2008. Tadi malem Bapak Jogja menelpon dan sms kepadaku bahwa Ibu Jogja akan berkunjung ke Jakarta, khususnya untuk menengok kabar dan keberadaan anak-anakku HDSF, cucu-cucu mereka. Melalui telpon kita telah sepakat bahwa Ibu Jogja sore hari ini akan dijemput oleh Encik dan SF di stasiun Bekasi. Beliau naik kereta Fajar Utama Jogja, berangkat pagi dan sore hari ini akan tiba di stasiun Bekasi. Beliau aku sarankan untuk naik Kereta Eksekutif Taksaka, namun beliau lebih memilih naik kereta bisnis. Alasannya karena kereta itu turun langsung di stasiun Bekasi, sedangkan Kereta Taksaka harus turun di stasiun Gambir atau stasiun Jatinegara. Tadinya aku juga ingin menyarankan beliau agar naik kereta sorenya, agar aku bisa menjemput beliau pada hari Sabtu pagi, dimana hari itu libur, namun ternyata beliau sudah mendapatkan tiket kereta.

Ini adalah kunjungan mereka yang pertama di rumah kontrakanku. Rumah kontrakanku yang kondisinya masih apa adanya. Suasana yang sempit, tidak ada asesories selengkap sebagaimana di rumah sendiri, tidak ada AC, tidak ada kulkas, mesin cuci, tidak ada kursi tamu, ruangan yang sempit, ketersediaan peralatan yang masih ala kadarnya. Ini adalah masa dimana aku mengajak anak-anak dengan untuk menghadapi kondisi apa adanya. Dan sejauh ini, aku melihat tidak ada perubahan psikologis pada diri anak-anak. Beberapa kali saat aku bersama mereka mengunjungi rumah kami di kompleks Bekasi Jaya Indah yang berjarak beberapa ratus meter dari rumah kontrakan ini, aku selalu menawarkan apakah mereka ingin kembali ke rumah kami saat ini, dan mereka selalu menjawab bahwa senentara ini masih ingin tinggal di rumah kontrakan. Aku bersyukur bahwa anak-anak bisa fleksibel terhadap kondisi yang memang harus kita hadapi. Fleksibilitas mereka akan menambah kekuatan moral dan mentalku untuk memandang secara optimis terhadap masa depan. Mereka tidak pernah mengeluh karena lokasi rumah kontrakan yang berbeda dengan kompleks perumahan kami. Kondisi sekitar rumah kami dapat dikatakan adalah komunitas para urban. Sejauh mata memandang, yang ada adalah para keluarga kontraktor, yang setiap tahun harus memperbaharui dan memperpanjang kontrakan rumahnya. Sebelumnya aku tidak pernah mengira bahwa ada suatu area dimana sebagian besar diisi oleh para kontraktor, yang ternyata itu benar-benar ada dan tidak jauh dari lokasi rumahku. Kemaren malam, aku sempat mentraktir beberapa penghuni rumah kontrakan di sekitarku. Seorang ibu bilang kepadaku bahwa dia mengontrak rumah itu sejak tahun 1990. Dan yang seperti itu katanya sebagian besar penghuni rumah kontrakan di sekitar lingkungan rumah kontrakanku. Artinya, mereka adalah kontraktor permanen.

Aku sempat berpikir betapa bersyukurnya aku yang sampai saat ini masih memiliki rumah sendiri, meskipun saat ini kondisinya tidak jelas. Juga, masih ada satu buah ruko di dekat terminal Bekasi. Kondisinya saat ini masih sepi namun prospek kedepan kayaknya tidak terlalu jelek, karena disamping kompleks ruko akan dibangun stasiun kereta api Bekasi untuk jalur luar kota. Aku mestinya juga sempat beryukur pernah memiliki beberapa rumah dalam waktu yang bersamaan. Rumah di kompleks Telkom jatiasih yang asli dan dekat pintu tol juga rumah di Graha Harapan Bekasi yang areanya cukup berkembang karena dekat kompleks Grand Wisata. Anak-anak pun sudah biasa setiap weekend kita ajak jalan ke Jakarta atau setiap cuti berwisata ke luar kota. Minimal dengan mobil sendiri kita menyusuri beberapa kota di Jawa Barat dan bermalam di beberapa tempat yang udaranya dingin. Selama ini mereka juga diasuh oleh baby sitter ataupun pembantu yang kita upgrade menjadi semacam baby sitter, dan anak-anak biasa mendapatkan perlakuan dan pengawasan yang relatif intens dari mereka.

Sekarang ini kondisinya jelas-jelas berbeda. Dengan berbagai keterbatasan mereka berkembang menjadi anak-anak yang ternyata bisa fleksibel dengan keadaan. Aku bersyukur bahwa mereka tidak pernah mengeluh dengan perubahan ini. Mereka tetap ceria. Mereka tetap optimis. Mereka juga telah mengenal kebiasaan-kebiasaan yang telah sistemik pada mereka, seperti kebiasaan mengaji setiap hari ke musholla, sholat berjamaah, belajar dan lain sebagainya.

Pagi ini aku mendapatkan telepon dari seseorang yang aku tidak terlalu mengharapkannya. Seorang teman, kakak kelasku waktu kuliah di Jogja, katakan saja namanya mas Bowo. Dia bekerja di kantor pusat pada perusahaan tempatku bekerja. Level dan grade dia sudah lumayan tinggi, sebagai assistant vice president. Suatu posisi menurutku mestinya dia bisa lebih fokus pada pekerjaannya. Ternyata bagi dia tidak. Mungkin itulah kelebihannya. Dengan jabatannya, dia justru sangat aktif pada kegiatan lain yang disebutnya sebagai bisnis masa depan. Bagiku sendiri itu bukanlah bisnis, melainkan lebih pada kegiatan yang membuang-buang waktu dengan hasil yang tidak jelas. Ya, bisnis multi level marketing namanya. Bisnis yang aku sejak dulu tidak pernah tertarik. Bisnis yang menempatkan seseorang pada dua pilihan, kita dikadalin atau kita mengkadalin seseorang. Mungkin bahasa ini sarkastis, tapi aku betul-betul tidak menemukan istilah lain yang lebih tepat. Mungkin itulah refleksi marketing, dimana pekerjaanku saat inipun dan juga banyak pekerjaan lainnya adalah tidak lepas dari marketing. Yah memang kalo dipikir sebenarnya istilah marketing ini netral yang mestinya menjadi jiwa bagi setiap enterpreneur. Juga, marketing menjadi bahan kajian bagi motivator, dosen, pengamat. Marketing menjadi ilmu yang cukup mahal dan populer bagi dunia bisnis maupun akademik.

Tapi marketing pada bisnis multilevel ini menurutku sudah menjurus pada upaya objektikasi manusia. Manusia benar-benar dijadikan objek, tidak peduli sahabat, teman, kerabat, orang yang baru saja dikenal, orang yang tidak dikenal secara pribadi tapi dikenal melalui referensi, dan lain sebagainya. Pendeknya, setiap ketemu dengan seseorang, seorang marketer mlm pasti akan menjadikannya sebagai prospek dan objek pasarnya. Dia akan mengejar orang tersebut, mempresentasikan hal-hal sedemikian rupa agar yang mendengarkan tertarik dan masuk pada target bisnisnya, entah itu membeli produk atau bergabung menjadi bawahannya atau downlinenya. Dia sudah hampir satu tahun ini dengan sabar dan ketelatenan yang luar biasa, tidak pernah berhenti dan lelah mengajakku untuk bergabung. Hampir setiap saat, secara rutin dia mengirimkan sms-sms yang berisi kata-kata untuk memotivasi bisnis di mlm atau hanya sekadar say hello saja. Kata-kata pada smsnya terkadang sangat panjang. Saat ini bahkan aku tidak ingat, mlm dia itu entah amway ataukah cni namanya.

Secara administratif aku memang sudah bergabung karena telah menjadi downlinenya, tapi nyaris tidak pernah membeli produknya atau aku juga tidak pernah mencari market baru untuk menjadi downlineku yang otomatis juga menjadi downline dia. Aku juga tidak pernah tertarik membawa berbagai media yang dikirimkan oleh mlm itu ke alamat rumahku, dan juga aku tidak pernah tertarik untuk mendengarkan berbagai kaset dan cd yang dipinjamkannya kepadaku. Hanya karena aku ingin menjaga perasaan dia dan menjaga hubungan maka aku tidak secara frontal menolak setiap ajakannya. Terkadang aku berkorban, beli tiket pertemuan yang diadakannnya secara rutin, dan saat acara itu tiba aku bilang ada acara mendadak sehingga tidak dapat hadir pada acaranya.

Hari ini tentunya aku sulit untuk menolak ajakannya. Dia sudah menyediakan tiket seharga Rp. 500.000,- yang didebet dari kartu kreditnya saat malam-malam itu dia berkunjung bersama isterinya sekitar 2 bulan yang lalu ke rumah kami. Itu bukanlah uang yang kecil untuk sebuah acara yang aku tidak terlalu berminat. Lagi-lagi waktu itu aku tidak enak dia sudah jauh-jauh datang ke Bekasi, dan mempresentasikan melalui power point secara pribadi kepadaku, dan ujung-ujungnya mengajak mengikuti seminar bisnis. Katanya, ini adalah seminar regional yang diikuti oleh ribuan peserta dari seluruh wilayah Indonesia, dengan pembicara bla...bla...bla.....

Siang ini aku masih dalam dilematika. Karena seminar itu 3 hari. Padahal hari ini Ibu Jogja baru saja datang di Bekasi. Aku belum memutuskan. Aku nyaris menelepon bahwa malam ini aku tidak bisa hadir, tapi dia keburu meneleponku bahwa nanti malam dia menungguku di Senayan, karena tiket seminar masih ada di tangannya.

Duh Gusti, paringono sabar pada diriku ini untuk menghadapi hal-hal seperti ini.

Memoir 1998: Kegalauan hati di hari pertama bekerja

Beberapa peristiwa yang aku alami pada sekitar tahun-tahun 1998-1999 rasanya sulit untuk aku lupakan begitu saja. Ada beberapa peristiwa yang sebenarnya kalau disajikan secara runtut akan menjadi cerita tersendiri yang sangat memorial bagiku. Tahun itu menjadi tidak terlupakan, saat aku menyelesaikan pelatihan officer development training centre (odtp) pada sebuah bank pemerintah, dengan hasil yang cukup memuaskan. Pada saat itu ada dua tahap pelatihan yang harus kami selesaikan sebagai pegawai baru, yakni pertama keuangan di Jogja yang diadakan secara eksternal dengan pelaksana pelatihan sebuah lembaga pelatihan pada universitas di Jogjakarta selama tiga bulan, sedangkan yang kedua pelatihan internal di Jakarta selama empat bulan. Ada belasan teman kami yang tidak berhasil menyelesaikan standar nilai yang diminta perusahaan sehingga harus dikeluarkan dari kelas. Aku sendiri berhasil menyelesaikan kedua pelatihan tersebut dengan nilai yang cukup memuaskan. --untuk tidak mengatakan bahwa aku salah satu yang terbaik pada pelatihan tersebut.

Aku sendiri tidak terlalu surprised dengan nulai yang kuperoleh, dan aku tidak terlalu enjoy saat aku menerima SK penempatan sebagai pegawai baru. Malah, yang kurasakan saat itu adalah penyesalan, kegamangan dan ketidakpastian apakah aku akan melanjutkan untuk bekerja pada perusahaan tersebut. Kenapa? Karena saat itu aku begitu gamang saat mengetahui bahwa aku ditempatkan di suatu lokasi kantor cabang yang sangat jauh, tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Kalaupun buku peta terbesar yang dijual di gramedia kita letakkan diatas meja, lokasi daerah tersebut kemungkinan tidak akan tergambarkan dengan jelas pada peta tersebut. Kegamanganku itu karena terutama disebabkan aku baru saja menjalani pernikahan, sekitar 10 sebelum keberangkatanku ke lokasi tersebut. Aku ditempatkan di sebuah kota kecamatan yang di pulau Halmahera. Sebuah pulau berbentuk hurufk, mirip pulau Sulawesi dengan ukuran mini. Dari ibukota kabupaten, yakni Ternate, masih harus dicapai dengan naik feri atau speedboat selama satu jam menuju pelabuhan Sidangolo dan dilanjutkan dengan perjalanan darat selama lima jam sampai ke Tobelo. Belakangan karena dampak otonomi daerah maka nama ini dimekarkan menjadi ibukota kabupaten, sedangkan Ternate menjadi ibukota Propinsi Maluku Utara. Di propinsi ini sempat terjadi kerusuhan rasial yang cukup luas, dimana aku sempat mengabadikan diri di tengah-tengah peristiwa kerusuhan tersebut. (Di lain kesempatan aku akan mengulas kembali peristiwa yang kualami pada kerusuhan tersebut). Aku sempat membaca berita teraktual bahwa hari ini DPRD Maluku telah menetapkan pasangan Abdul Gafur-Abdurrahim Fabanyo menjadi Maluku Utara 1 dan 2. Maih kuingat bahwa di tengah-tengah kerusuhan yang terjadi pada tahun 1999 aku bersama seorang teman aktivis Muhammadiyah di Jakarta, sempat berkunjung dan berbincang cukup lama di rumah Pak Abdurrahim Fabanyo, yang saat itu menjadi ketua PAN.

Pagi-pagi Shubuh aku sudah harus berangkat ke bandara, dengan perasaan berkecamuk. Perasaan sedih harus meninggalkan Jakarta, meinggalkan pulau Jawa, dan meninggalkan keluarga. Aku merasa sangat asing dan teralienasi dengan perjalananku ini. Suatu perjalanan yang serasa menekan hatiku pada saat itu. Perjalanan dengan pesawat Garuda saat itu adalah rute terjauh yang kualami selama itu. Perjalanan dari Jakarta saat itu tidak bisa dicapai secara langsung ke lokasi terdekat, melainkan harus transit terlebih dahulu di Makassar. Setelah beberapa jam menunggu di bandara maka perjalanan dilanjutkan ke Manado. Di tempat inipun aku masih harus melakukan menginap semalam di hotel Sahid di Kawanua, karena kebetulan satu-satunya pesawat yang bisa aku tumpangi dari Manado ke Ternate sudah berangkat.

Di kota ini aku secara tidak terduga ketemu dengan salah seorang teman lama. Berhubung perjalananku adalah perjalanan dinas, maka aku dijemput oleh salah pegawai kantor cabang yang ada di kota Manado. Temanku ini, katakanlah namanya Rinto, yang ternyata telah kukenal sebagai kakak kelasku waktu kuliah di Jogjakarta. Sungguh pertemuan yang tidak terduga bahwa di daerah yang aku merasa asing, merasa teralienasi dan merasa gundah luar biasa, ternyata aku bertemu dengan seorang teman yang berasal dari kota yang sama. Dan yang kurasakan sebagai teralienasi ini ternyata tidak hanya kurasakan sendirian, melainkan diapun juga merasakannya. Bedanya, aku baru merasakannya pada hari-hari pertama di perantauan, sedangkan temanku itu terlah bertahun-tahun berada di kota Manado. “Aku sudah berulang kali mencoba mengajukan pindah, namun keinginanku itu seperti membentur tembok sebuah sistem yang sulit untuk berkomunikasi secara manusiawi denganku”, katanya dengan nada pesimis dan putus asa. Ternyata problem personal dia hampir sama denganku. Dia ditempatkan di kota ini sesaat dia mau melaksanakan pernikahan. Karena calon isterinya telah bekerja di sebuah instansi di Jakarta, sampai saat itu rencana pernikahan tersebut belum bisa dilaksanakannya. Kepesimisan dia rasa-sasanya semakin menusuk ulu hatiku, mengingat hari pertama saja sudah aku jalani dengan demikian beratnya. Aku membayangkan bahwa aku tidak akan tahan berlama-lama seperti dia. Aku berpikir, apakah memang seperti ini sebuah perusahaan besar nasional tidak mungkin untuk melihat problem personal pegawainya satu persatu? Aku tidak tahu dengan mekanisme human capital bagaimana seharusnya ini bisa diselesaikan karena memang ini bukan kompetensiku. Namun yang kurasakan, seandaninya perasaan ini dialami oleh banyak pegawai pada perusahaan ini, betapa besar nilai kerugian yang dialami perusahaan karena damapk alienasi pegawai akan membawa dampak kontraproduktif dalam bekerja. Semalam kita sempat ngobrol ngalor-ngidul. Di kemudian hari aku mendengar bahwa Rinto temanku ini pada akhirnya memutuskan mengundurkan diri dari perusahaan tempatku bekerja, karena keinginannya untuk pindah ke pulau Jawa tidak kunjung ada kepastian.
Dari Manado, esok harinya aku melanjutkan perjalanan ke kota Ternate. Perjalanan ke Ternate sungguh tidak kusangka sama sekali. Di bandara Ternate ternyata aku tidak mendapatkan tiket regular. Pada awalnya aku merasa bersyukur karena tidak ada pesawat yang bisa kunaiki. Aku sempat berharap bahwa ada keajaiban bahwa tidak ada lagi pesawat ke Ternate dan satu-satunya pesawat yang yang bisa kutumpangi adalah pesawat ke Jakarta dimana aku bisa pulang kembali. Di tengah-tengah aku duduk di ruang tunggu bandara, di tengah-tentah aku sedang berpikir untuk menentukan langkahku berikutnya, tiba-tiba ada seorang bapak setengah tua yang menghampiriku. “Bapak mau ke Ternate? Saya ada pesawat yang akan berangkat hari ini kesana”, katanya menawarkan.

Aku sempat kaget. Bagaimana mungkin seseorang bisa menawarkan untuk naik pesawat, yang tidak terdaftar pada jadual pemberangkatan pesawat. Bapak tersebut menjelaskan bahwa pesawat ini tinggal butuh satu atau dua penumpang lagi dan akan segera berangkat. Hal ini benar-benar mengingatkanku pada terminal-terminal di Jawa, dimana ada banyak omprengan pelat hitam yang bisa digunakan sebagai alternatif kendaraan resmi. Tapi pesawat, mungkinkah? Ah, memang ada-ada saja peristiwa ini.

Ternyata ini memang benar-benar terjadi. Setelah kita deal dengan harga yang ditawarkan kepadaku maka aku segera diajak menuju ke sebuah tempat yang kulihat adalah sebuah markas tni, berlokasi sekitar 3 km dari bandara. Pesawat itu sudah siap untuk berangkat, dan tinggal menungguku seorang saja. Aku betul-betul surprised. Pesawat itu adalah pesawat cassa. Pesawat kecil yang hanya berkapasitas 6 orang. Aku memutuskan untuk ikut karena ini adalah pengalaman pertama. Aku sebagai penumpang, bisa ngobrol dan minum ngopi bersama pilot. Sekalian nanti akan kubantu pilotnya mengendalikan pesawat, menekan beberapa tombol di kokpit, begitu pikirku. Ternyata benar, pengalaman naik pesawat itu benar-benar aku rasakan selah aku adalah co-pilot. Sampai di bandara pun tak kalah uniknya. Dari jauh kulihat bandara yang tidak seberapa besar itu ada beberapa hewan yang digembalakannya di sekitar pinggir bandara, dan beberapa orang tampak menggiring satwa-satwa tersebut saat melihat ada pesawat mau turun ke lapangan. Ternyata, datangnya pesawat itu juga diikuti oleh kedatangan mobil-mobil omprengan dari kota yang terletak beberapa km dari bandara, yang dari kejauhan di angkasa telah melihat bahwa ada sebuah pesawat yang akan turun di bandara.

Setiba di bandara, tidak lama kemudian aku diantarkan menuju kota. Tempat pertama yang aku tuju adalah wartel. Aku ingin mengabarkan bahwa diriku telah sampai ke Ternate dengan berbagai pengalaman yang aku alami ini kepada keluarga di Jawa. Aku diturunkan di sebuah wartel di tengah-tengah kota Ternate. Tidak jauh dari wartel tersebut adalah pantai yang tampak indah dan pelabuhan. Selesai aku menelepon keluarga, lagi–lagi terjadi sesuatu yang tidak kusangka-sangka. Di tengah aku membayar biaya telepon, tiba-tiba aku mendengar namaku dipanggil oleh seseorang. “Hei..., Taufiq”, panggilnya. Aku tidak menoleh dengan panggilan itu. Rasanya tidak mungkin ada orang yang mengenalku di tempat ini. Ada kekhhawatiranku bahwa panggilan itu adalah semacam fatamorgana ditengah kegundahanku menjalani har-hari pertama di kota yang masih asing bagiku ini. Orang yang memanggilku telah tiba di belakangku dan menepuk bahuku,”Kamu Taufiq kan. Taufiq El Rahman, dari Jogja? Kamu lupa denganku?”, seru dia. Seketika aku menoleh dan nyaris tidak percaya dengan yang kualami. “Hai Teguh”, teriakku dengan nyaris tidak percaya dengan seseorang yang ada di depanku ini. “Berapa tahun kita tidak ketemu? Enam tahun? Tujuh tahun lalu?”. Tentu saja wajah yang ada di depanku tidak asing lagi. Dia adalah Teguh, lulusan dokter gigi dari universitas yang sama denganku. Kami dulu pernah satu panitia dalam kegiatan yang diadakan oleh Senat Mahasiswa universitas kami. Bertemu dengan temanku ini, ingatanku kembali ke masa lalu pada salah salah satu teman kami, Salman Dianda Anwar dan salah satu senior kami almarhum Khoiri Umar. Mendiang Khoiri Umar –yang meninggal dunia tahun 1993 di Gresik Jawa Timur-- inilah yang mengajakku untuk aktif di kepanitiaan dan memperkenalkanku dengan Teguh dan Salman Dianda Anwar. Nama Khoiri Umar sendiri telah tercatat dalam sejarah gerakan mahasiswa Indonesia sebagai ketua pertama Senat Mahasiswa tingkat Universitas pada universitas tempat kami belajar di Jogjakarta. Sedangkan teman kami, Salman Dianda Anwar, dalam perjalanan berikutnya juga menjadi ketua senat di fakultasnya, dan sempat menjadi sekjen ikatan senat fakultas pertanian seluruh Indonesia. Beberapa tahun terakhir ini, Salman Dianda Anwar sempat menjadi salah saorang raising star karena karirnya melesat dari seorang demonstran menjadi seorang direktur pada perusahaan swasta terkemuka di Indonesia. Dia sempat menggalang alumni muda universitas kami untuk berdemo di bundaran HI saat Rezim Megawati melalui Laksamana Sukardi melego Indosat kepada swasta asing dari Singapura, Temasek Group.

Kami segera terlibat dalam pembicaraan yang ramai dan penuh dengan sendau-gurau. Benar-benar pengalaman yang tidak kusangka bahwa di daerah yang asing inipun aku masih ketemu dengan seorang sahabat lama. Di tengah-tengah keceriaan kami karena telah lama tidak bertemu, aku ceritakan betapa sedihnya aku berangkat di hari-hari pertama bekerja karena ditempatkan di suatu daerah yang sangat jauh dari peradabanku. Ternyata yang kualami ini juga dirasakan olehnya. “Aku juga mengalami kegamanagan yang sama dengan dirimu, Fiq. Selulus dari universitas, ada tawaran penerimaan dokter gigi dan diterima bekerja di lingkungan kemiliteran. Tidak kusangka ternyata aku ditempatkan di sebuah propinsi paling timur di Indonesia. Aku sudah menikah dengan puteri salah seorang bupati di Jawa. Awalnya aku mau disersi, tapi mengingat isteri dan mertuaku akhirnya aku jalani juga tugas ini”, tutur dia. Isterinya adalah seorang dokter lulusan universitas yang sama dengan kami. Sementara ini mereka berpisah karena isterinya akan mengambil spesialis di Jogjakarta, sementara sahabatku Teguh ini bekerja di Papua.

“Aku sedang menunggu transit kapal yang beberapa jam lagi akan melanjutkan jalan ke Papua”, kata dia. Artinya, tak lama lagi aku akan berpisah dengannya. Pertemuan dengan sahabat di tengah-tengah suasana sepi di daerah yang tidak kita kenal seperti ini rasanya sangat membuat kegundahan kita bisa terlupakan. Setidaknya sementara waktu. Ingatan kita kembali ke saat-saat kita masih bersama, saat beraktivitas, saat belajar bersama di sebuah universitas di Jogjakarta yang telah memberikan suasana kenangan demikian berharga bagi kita. Jogjakarta, tempatku mengenal berbagai aktivitas. Jogjakarta, tempat dimana aku mengenal banyak teman dan sahabat dari berbagai daerah. Jogjakarta telah menjadi kota kedua setalah kota kelahiranku. Jogjakarta telah demikian menyatu dengan hatiku. Dan bagaimanakah dengan kota yang akan aku datangi kali ini? Kota yang aku datangi dengan kegundahan hati? Demikianlah suasana hatiku saat itu, memori tahun 1998 akhir.