Selasa, 16 September 2008
Hari ke entahlah, Juz ke-7 Al Qur'an
Selanjutnya,”Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa rasul yang terdahulu sebelum kamu, sebagaimana kamu diperolok-olokkan dan diejek oleh kaummu wahai Rasul, maka turunlah kepada orang-orang yang telah mencemoohkan diantara mereka siksa karena mereka telah memperolok-olokkan siksa dan mempermainkannya”. Pada ayat berikutnya,”Katakanlah wahai Rasul kepada orang-orang yang mengejek dan mengolok-olok,’Berjalan-jalanlah kalian di muka bumi dan perhatikan bekas dan peninggalan orang terdahulu agar kalian tahu siksa apa yang mereka dapatkan. Dan perhatikanlah balasan yang diberikan kepada orang-orang yang mendustakan para Rasul mereka’. Dan kalian akan dihancurkan seperti mereka jika kalian mendustakan Rasul sebagaimana yang mereka lakukan.
Hari ke entahlah, Juz ke-6
Ayat diatas, dan beberapa ayat selanjutnya adalah cerita tentang perilaku kaum Bani Israil.
Hari ke entahlah, Juz ke-5 Al Qur'an
Ayat penting lainnya adalah menganai kedudukan dan pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan. Ayat ini demikian halus, lembut dan penuh dengan perasaan tentang bagaimana pembagian tugas, peran, implikasinya dan keluarga. Laki-laki menjadi pemimpin yang bertanggungjawab epada kaum wanita karena dua hal, pertama karakteristik fisik yang dimilikinya, yang kedua adala kewajiban untuk memenuhi kebutuhan dan nafkah seluruh keluarganya. Sedangkan wanita yang shalihah adalah yang patuh kepada Allah dan suaminya, memelihara diri dan anak-anaknya, membelanjakan harta dengan tidak berfoya-foya, oleh karena Allah telah memelihara dan membantu mereka, juga Allah telah memerintahkan mereka untuk dijaga,dan memerintahkan kepada suami untuk memenuhi hak-hak isteri seperti berbuat adil dan baik kepada mereka. Wanita-wanita yang tidak taat, maka agar diingatkan dengan memberikan kabar gembira tentang pahala bagi wanita yang taat dan agar diberitakan tentang siksaNya untuk perbuatan yang tidak taat. Dan agar pisah ranjang apabila tetap tidak taat juga, dan diperbolehkan memukul dengan pukulan ringan yang tidak menyakitkan apabila tetap nekad juga. Sedangkan apabila wanita itu kemudian taat maka janganlah menyusahkan mereka baik dengan perkataan maupun perbuatan, karena dzalim adalah perbuatan yang haram. Selanjutnya,”Janganlah kalian memaksa para wanita itu untuk mencintaimu karena cinta yang didapatkan dengan cara seperti itu tdaklah baik dan bukan merupakan keinginan mereka sendiri. Sesungguhnya Allah Mahatinggi yang dapat memaksa lagi Mahabesar yang berkuasa. Asbabun Nuzul ayat ini adalah saat seorang wanita mengadukan suaminya kepada Rasulullah karena telah memukul dirinya. Rasulullah memerintahkan hukuman qishas kepada suaminya, lalu turunlah ayat ini, sehingga suaminya tidak jadi diqishas.
Jumat, 05 September 2008
Hari ke-4 Ramadhan dan Juz ke-4 Al Qur'an
Membaca beberapa bagian juz ini, sejujurnya aku merasa betapa kompleksnya masalah yang aku hadapi ke depan, dan pada malam ini aku mulai merenungkan tentang paradigma tertentu dalam bekerja, yang selama ini nyaris tak pernah aku pikirkan. Di salah satu ayat, aku lupa ayat berapa, “Janganlah kalian bermuamalah dengan cara riba dan jangan makan riba dengan berlipat ganda sebagaimana yang dilakukan pada jaman jahilyah. Takutlah akan siksa Allah karena memakan riba supaya kalian mendapatkan keberuntungan di dunia dan akhirat”. Asbabun Nuzul ayat ini, saat itu orang melakukan praktik kredit. Jika waktu pembayaran mereka meminta tambahan bayaran sebagia kompensasi kerena mereka telah menenggang waktu pembayaran.
Aku bekerja di sebuah institusi perbankan, yang siapapun tahu, dalam sistem ekonomi global dan modern saat ini, tidak mungkin suatu perekonomian atau suatu negara bisa dilepaskan dari pentingnya peran bank, baik itu dalam kajian akademis maupun dalam implementasi bisnis. Perbankan telah menjadi bagian yang cukup sentral dalam ekonomi modern saat ini, dan tidak ada suatu negara pun yang terlepas dari peran institusi ini, karena bank adalah instrumen penting dalam implementasi kebijakan ekonomi dan moneter, dalam penciptaan uang giral, peredaran uang kartal, menjaga inflasi, mengedarkan uang, memperlancar transaksi bisnis, mendorong ekonomi, intermediary antara orang yang membutuhkan dana dengan orang yang kelebihan dana, perantara dalam transaksi bisnis internasional semisal letter of credit atau bank garansi, tempat orang menabung dan menarik dengan gampangnya melalui atm, transaksi ekrpor dan impor, swaps, futures, contract dan produk derivatif lainnya, berbagai jasa-jasa keuangan yang selalu berkembang dari waktu ke waktu, tempat orang menanamkan investasi, bahkan kalau di negara-negara yang baru, produk-produk derivatif dan hybrid pun ditelurkan oleh Bank. Perguruan tinggi yang terkemuka di dunia, seperti Harvard University, Stanford University, University of Pensylvania, Kellog School, beberapa diantaranya yang leading dan menjadi sekolah bisnis dunia karena berkembangnya teori-teori mutakhir dalam bisnis dan ekonominya. Demikian halnya universitas terkemuka di Indonesia, UI dan UGM misalnya menjadi leading antara lain berkat peran fakultas ekonomi, dimana telah banyak menyumbangkan pakar-pakar ekonominya menjadi arsitek pembangunan ekonomi di Indonesia sejak jaman dahulu, semenjak istilah Mafia Berkeley dari UI yang terdiri dari Sumitro, M. Sadli, JB. Sumarlin, Widjojo Nitisastro dan mungkin sampai dengan anak turunnya sekarang semacam Sri Mulyani, yang menjadi orang-orang penting dalam cetak biru pembangunan ekonomi Indonesia. Dari UGM pun, semenjak aku kuliah disana, dosen-dosen yang mengajar adalah para pakar yang tidak terlepas dari perannya menjadi penentu berbagai kebijakan ekonomi Indonesia dari dulu sampai sekarang. Aku ingat, malam pertemuan pertama sebagai mahasiswa baru kita diundang makan malam oleh Pak Gunawan Sumodiningrat dan Pak Boediono di rumahnya, yang saat ini juga menjadi orang penting di balik kebijakan ekonomi Indonesia. Yang lebih yunior misalnya Anggito Abimanyu, Tony Prasetiantono, Mudrajat Kuncoro dan lain sebagainya. Aku cukup akrab dengan beliau semasa di Jogjakarta. Entah karena trend bisnis, atau mencari solusi syariah sebagai counter bank konvensional, atau sekedar ikut-ikutan, atau untuk alasan yang lebih fundamental dari itu, aku ikut serta meski dengan kontribusi hanya sekadar ikut RUPS dari tahun ke tahun karena mirip reuni alumni, dimana para alumni mendirikan sebuah Bank yang dikelola dengan prinsip-prinsip Syariah, yang dikelola oleh orang-orang yang level kredibilitas di bidang bisnis, ekonomi dan syariahnya tidak diragukan lagi. Pak Karnaen Perwataatmadja yang mantan Direktur Islamic Developman Bank di Dubai, Pak Sjahril Sabirin mantan Gubernur BI, Pak Fuad Bawazier mantan Menteri Keuangan, Pak Marzuki Usman entah mantan menteri apa, Pak Djoko Santosa mantan Dirut BRI, Salahuddin Nya’ Kaoy mantan Dirut BankExim, Pak Rudjito mantan Dirut BRI, Pak Widigdo dan Pak Saifuddin Hassan yang mantan Dirut BNI, Mbak Hasanah yang di usianya yang sudah makin tua namun masih terlihat cantik, seorang yang mantan orang penting IBM, dan masih banyak lagi. Aku salah satu diantara yang cukup rajin ikut Rapat Pemegang Saham Bank BPR Syariah ini. Karena dikelola oleh orang-orang kredibel dan profesional, sempat beberapa tahun mendapat predikat terbaik untuk level BPRS dari Bank Indonesia.
Waduh, illustariku ini mungkin sudah terlalu melebar, intinya, dalam kajian secara akademis pun, tidak mungkin ada level ekonomi yang tidak ada peran Bank disitu, sebagai intermediary institution, sebagia salah satu instrumen penting dalam implementasi kebijakan moneter, yang berperan penting dalam penciptaan uang beredar, uang giral, berperan penting dalam transaksi keuangan modern dan bisnis. Salah satu peran penting Bank dalam mengembangkan ekonomi yang masih konvensional seperti di Indonesia adalah bisnis kredit. Dan inilah dunia yang nyaris aku tekuni semenjak aku masuk dan bekerja di Bank. Semenjak masuk, aku sudha dikenalkan dengan berbagai metode dan cara mengenal nasabah, memasarkan kredit, menganalisa aspek kelayakan kredit, mengelola portfolio kredit, restrukturisasi kredit, dan sebangsanya. Urusan2 kredit sejak jaman dahulu kala hingga sekarang dapat dikata hanya itu-itu saja, nyaris tanpa ada perkembangan yang berarti. Intinya, bagaimana meng-create interest income melalui berbagai peluang bisnis yang dilakukan oleh para pelaku bisnis.
Dan itulah salah satu ayat yang aku baca malam ini, telah ditegaskan dalam Al Qur'an yang semalam telah aku baca secara langsung, meski dengan tingkat dan intensitas yang tidak terlalu tinggi. Setidaknya, dalam suasana ramadhan ini, barangkali, Insya Allah, semoga, mata hatiku menjadi terbuka saat membaca firmanNya. Selama ini aku mungkin tidak sekadar berapologi ketika orang mengatakan bahka bunga bank adalah haram dan termasuk dalam kategori riba. Aku tidak sekadar berapologi karena aku berkeyakinan bahwa itu tidak benar, karena ya itu tadi, tidak ada sistem ekonomi global manapun saat ini yang lepas dari peran Bank, dan kalau saja bunga bank adalah haram, lalu sistem ekonomi juga haram, karena sedikit atau banyak adalah sama saja, lalu pelaku2 ekonomi juga haram, lalu siapaun yang berurusan dengan para pelaku ekonomi dan keluarganya, lalu relationship bisnis yang berkembang dalam segala derivasinya, waduh segalanya menjadi amat sangat rumit kalau dikatakan bahwa bunga bank adalah riba. Selama ini dengan tegas aku menolak, karena ada ayata, ‘tinggalkanlah yang ragu-ragu’. Sehingga akupun meninggalkan keraguan sedikitpun bahwa bunga bank bukanlah riba, karena Bank sangat penting dan salah satu pilar dalam membangun ekonomi suatu bangsa, yang tidak mungkin suatu negara bisa terbangun ekonominya, masyarakat dan pelaku bisnis bisa menjalankan bisnisnya dengan lancar tanpa peranserta dari lembaga/institusi Bank ini. Lalu secara kajian syariah, akupun selama ini menggunakan hujjah dan fatwa dari, misalnya Muhammadiyah yang menghalalkan bunga bank. Selama ini aku berkata, bukankah Muhammadiyah sangat banyak pakar, dari pakar agama, pakar kitab kuning klasik sampai kitab biru termutakhir, dari profesor di bidang syariah dan fiqh sampai profesor di bidang ekonomi dan bisnis. Dan bukankah ulama memiliki hak untuk mendapatkan pahala dua seandainya benar dalam fatwanya, sebaliknya mendapatkan hak pahala satu seandainya ternyata fatwanya salah, dan bukankah umat memiliki keleluasaan hak untuk mengikuti apa kata dan fatwa ulama. Dalam hal ini selama ini aku menggunakan Muhammadiyah yang menghalalkan bunga bank. Sehingga dengan penuh keyakinan diri aku berangkat ke kantor, bersemangat untuk belajar dan bersyukur saat disekolahkan untuk belajar investment banking suatu ilmu yang lebih complicated lagi dibanding bisnis bank yang konvensional, lalu pulan kantor dengan penuh keyakinan diri juga, saat menerima gaji juga penuh dengan keyakinan yang tinggi bahwa ini adalah hallalan thayyiban. Mulai malam ini terus terang saja, mulailah gejolak keraguan diri ini, terbukanya mata hati, bukan mata yang melihat, tapi mata batinku yang mulai mempertanyakan diri, benarkah sikapku selama ini bahwa aku bekerja di area putih, seandainya di dunia ini hanya ada area putih dan hitam. Mata hatiku mulai ragu, benarkah di area utih, dan bukan di grey area, kombinasi antara hitam dan putih.
Segalanya menjadi makin complicated saat aku memikirkan apa yang harus aku lakukan. Sebagai orang yang bekerja di perbankan apalagi bekerja di bagian kredit, salah satu fasilitas yang aku dapatkan selama ini adalah mendapatkan fasilitas kredit dari bank tempat aku bekerja, secara non komersial. Entah ini lebih dilakukan oleh Bank untuk memberikan fasilitas kepada pegawainya, atau justru untuk mengikatkan pegawai agar sulit keluar dari bank. Semenjak mulai bekerja sampai sekarang, aku sudah menikmati ratusan juta rupiah, dan saat ini pun future receivable cashflowku ke depan masih terikat oleh kewajiban untuk mengembalikan kredit ke Bank. Betapa menjadi complicated ketika seharusnya saat menjelang divorce kemaren antara aku dan dia membagi hak secara adil, sehingga hak dan bagian kita masing-masing bisa digunakan untuk melunasi kredit, untuk selanjutnya terserah pada kita, apakah mau keluar dari bank dan mencari pekerjaan baru atau langkah lainnya. Namun yang terjadi, saat itu mungkin aset yang kita miliki kutaksir berkisar pada angka Rp. 1 miliar, terdiri dari beberapa properti, rumah di kompleks Telkom Jatiasih, rumah di Graha Harapan Bekasi Timur, rumah di kompleks Bekasi Jaya Indah, ruko di Bekasi Plaza, dan mobil, juga uang cash, ternyata dalam waktu yang cepat, dikuasainya, dilikuidasinya, disembunyikannya dan digunakannya dalam alokasi yang tidak jelas. Dan saat ini hanya tinggal aset tersisa yakni ruko di Bekasi Plaza yang tidak produktif dan kurang punya nilai prosek bisnis, lalu rumah di Bekasi Jaya, itupun betapa sangat-sangat bernafsunya dia untuk menguasai, dengan menghalalkan segala cara. Yah, aku tidak munafik, saat ini aku juga memerlukan, dan kenapa menjadi relevan, karena seandainya saja hutangku di kantor bisa aku cover dari sisa pembagian harta bersama ini mungkin saja hal ini bisa menyelamatkan hidupku kelak, siapa tahu. Minimal aku bisa melangkah dengan lebih tenang, bekerja bukan lagi di area yang abu-abu.
Waduh, ekplorasi pada bagian ini mungkin sudah teralu melebar dan tidak sistimatis, karena ini hanya salah satu bagian yang aku baca dari juz ini. Okelah, juz 4 ini dibuka pada ayat ke-92 surat Ali Imran, dimana Allah telah menyampaikan kepada umatNya bahwa tidak akan mendapatkan kebaikan yakni surga, sampai saat kita menyedekahkan harta yang terbaik yang kita sukai. Infak yang paling baik dan paling mulia adalah dengan memberikan kepada keluarga dan kerabat. Apa yang kita sedekahkan maka Allah akan mengetahui dan membalasnya.
Selanjutnya, dalam beberapa ayat ke depan, lebih banyak memberitakan tentang sikap orang-orang Yahudi saat-saat Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad muncul di dunia, dan mereka menyembunyikan diri apa-apa yang sebenarnya telah mereka ketahui dari Taurat tentang kebenaran Islam. Ada segolongan Yahudi yang mengingkari kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad yang sebenarnya telah diberitakan dalam kitab-kitab mereka, lalu mereka melakukan berbagai tipu muslihat dan Dia akan membalasnya yang kepada mereka sebenarnya telah diberitakan kebenaran Nabi Muhammad. Namun ada pula sebagian diantaranya mereka yang beriman, membaca ayat-ayat Al Qur'an d tengah malam dan mereka melakukan shalat. Mereka melakukan shalat karena Allah semata dan mereka jua bersujud dengan khusyu dan khidmad, mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh yang ma'ruf dan mencegah yang mungkar, dan bersegera melakukan kebajikan. Mereka itu bersama dengan orang-orang shalih, yaitu para sahabat. Kepada mereka telah disampaikan,"Benar apa yang telah difirmankan Allah dan ikutilah ajakan Nabi terakhir, Muhammad yang mana dia aalah pengikut agama Ibrahaim yang hanif, yaitu orang yang berpaling dari batil menuju kebenaran dan berpaling dari akidah syirik menuju tauhid.
To be continued..
Rabu, 03 September 2008
Hari ke-3 Ramadhan dan Juz ke-2 dan ke-3
Hari Rabu, hari ke-3 puasa ramadhan, program khatam Al Qur'anku ternyata masih keteteran untuk masalah tafsirnya. Baca Qur'annya sih udah 4 juz, tapi tafsirnya masih sangat nihil dan tidak sistimatis. Ternyata bukan hal yang mudah. Dalam keterbatasan waktu yang ada, di tengah-tengah kesibukan kantor yang mulai padat, kondisi jalan yang seperti biasa selalu macet, perkara hukum yang masih belum tuntas namun dalam proses penyelesaian oleh lawyerku, mudah-mudahan aku masih bisa memprioritaskan programku ini. Mudah-mudahan mata hatiku dapat terbuka, terutama di bulan yang penuh berkah dan ampunan ini. Okelah, aku coba eksplor materi pada juz 2 dan 3 sekaligus, yang diri ini masih belum sistimatis dalam membaca, memahami, menangkat dan tentu saja dalam menyajikannya.
Ayat 164 merupakan peringatan kepada manusia tentang kekuasaan Allah. Inna fi khalqissamawati wal ardhi wakhtilafillaili wannahari wal fulkillatii tajrii bima yanfa’unnasa wama anzalallahu minassama’i…, Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya, keajaiban2 makhluk yang menempatinya, silih bergantinya malam dan siang dengan gelap dan terang, panas dan dingin, panjang dan pendek, saling memberikan pengaruh bagi keduanya, bahtera yang berlayar di laut dan berguna bagi manusia untuk alat transportasi dan untuk membawa barang dagangan dan lainnya, dan Allah turunkan dari awan berupa air, es dan lainnya, lalu dengan itu Dia hidupkan tumbuh-tumbuhan setelah keringnya dan Dia sebarkank ke seluruh penjuru, dan awan yang dikendalikan oleh kekuasanNya. Pada saat yang demikian itu, sungguh terdapat tanda-tanda wujud dan keesaan Allah swt bagi orang yang mau berpikir. Dilanjutkan pada selanjutnya, Adapun bagi orang-orang yang tidak berpikir tentang itu, yaitu kaum musyrikin yang telah menjadikan selain Allah sebagai sesembahan, baik dalam bentuk gambar, berhala, benda mati lainnya yang mereka mencintainya sebagaimana orang Mukmin mencintai Allah. Namun orang Mukmin tetap lebih mencintai Allah dibandingkan mereka mencintai tandingan dan tuhan buatan mereka itu. Seandainya orang-orang yang berbuat dzalim kepada dirinya itu, yang disebabkan oleh kekafiran dan kecintaan mereka terhadap tandingan Allah, melihat siksa di hari kiamat, maka mereka tidak akan mencintai tandingan-tandingannya itu. Mereka pasti mengakui bahwa seluruh kekuatan adalah milik Allah dantidak ada kekuatan selain kekuatan milikNya. Allah mempunyai siksa yang amat berat kepada mereka.
Selasa, 02 September 2008
Hari ke-2 Ramadhan
Tenggg..., semacam itulah, begitu signal tanda berakhirnya waktu kerja di kantor, jam 16.00 akupun segera mematikan komputer, dan sesegera mungkin berbenah untuk pulang ke rumah. Tak perlu berlama-lama lagi di kantor, yang lebih banyak membuang waktu secara 'tidak produktif', karena ada program sebulan ini yang harus aku selesaikan, dan itu tidak mungkin dilakukan di kantor. Ternyata di jalanan cukup macet, lebih dari hari sebelumnya. Namun, alhamdulillah, akhirnya ak masih bisa menjalani maghrib di masjid besar alum-alun Bekasi. Sampai rumah, buka puasa dan langsung tarawih. Begitu selesai tarawih, handphoneku berteriak, ternyata sms dari teman smp, pengelola blog, Yayuk. "Fiq, tolong elu kirim satu dua artikel hikmah ramadhan untuk ditayangkan besok ya. Please, saat ini panitia gak ada stok tulisan". Waduh!! Ini soal rencana reuni teman-teman smp, yang kita udah hampir 20 tahunan tidak ngumpul. Dalam satu dua bulan terakhir kita rame berbincang di dunia maia melalui blog yang dibuat oleh salah satu teman, Inti Purnomowati, yang tinggal di Malang. Waduh, aku bilang belum ada tulisan. Tapi aku sampaikan, malam ini akan kuusahakan menyelesaikan apa yang dia minta. Sepulang tarawih, aku masih ada agenda discuss dengan lawyerku, yang ternyata sampai jam 23.00. Tengah malam, di tengah-tengah rasa capek dan kantuk, aku coba selesaikan tulisan untuk teman-teman smp, sebagaimana yang aku janjikan untuk Yayuk dan Inti. Sekitar tengah malam, selesai aku bikin draft tulisan yang masih belum rapi, alhamdulillah masih bisa menyelesaikan program Khatam Al Qur'an dan Tafsirnya. Sudah sampai pada QS Ali Imran sekitar 30an ayat, berarti nyaris 4 juz. Lumayan, mengingat masih hari ke-2 puasa. Hanya saja memang, belum sempat baca dan memahami tafsirnya. Lalu otomatis, ketiduran. Dan pagi ini, sesampai di kantor, aku sudah bisa rapikan tulisan untuk teman smp dimaksud dan segera aku send tulisan itu. Inilah dia...
Jadikan Sabar Sebagai Hikmah Puasa Ramadhan
M. Taufiq El Rahman
Judul diatas semestinya adalah “Jadikan Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu” sebagaimana ayat Wasta’iinu bis shobri was sholat. Karena padanan kata sabar biasanya adalah shalat. Namun, demi memenuhi permintaan khusus dari rekan Yayuk dan Pengelola Blog untuk mengisi rubrik hikmah ramadhan di blog reunismpsatuwonogiri.com ini, agar tidak kehilangan relevansi dengan ibadah puasa yang sedang kita laksanakan, persoalan sabar saya coba jadikan target sebagai hikmah yang mestinya bisa kita dapatkan dalam puasa.
Selama ini orang seringkali salah menafsirkan kata sabar, dimana sikap ini dipandang sebagai sikap yang statis, pesimis, pasif dan no choice. Sehingga kata-kata sabar mengalami pergeseran dan pendangkalan makna yang luar biasa dan semakin jauh dari konteks yang sebenarnya. Kita lihat saja, biasanya orang mengatakan kepada temannya saat sedang sedih dengan kondisi yang ada, misalnya, ”Sudahlah teman, sabar saja.. Wonogiri emang daerah yang kering dan minus, jadi ya sabar saja. Habis mau gimana lagi”, atau dalam kata-kata lainnya, “Sudahlah, kemampuan kita emang hanya sampai segini, jadi ya sabar saja”. Sebuah nasihat yang tampaknya sangat bijak, namun apakah diucapkan dalam konteks dan makna yang tepat?
Padahal sesungguhnya sabar adalah suatu sikap aktif, dinamis, ada unsur gerak, action, dan bukannya diam, statis, pasif dan no choice sebagaimana kata-kata diatas. Dan sabar bukanlah sikap pasif dan jelas disebut dalam Al Qur’an sebagai hal yang tidak mudah untuk dilakukan, kecuali tentunya bagi orang yang beriman. Tidak kurang 50 ayat dalam Al Qur’an yang memerintahkan kepada umatnya untuk bersikap sabar. Apakah mungkin Allah memerintahkan manusia agar diam, pasif, statis dan no choice? Tidak mungkin bukan. Sabar ini sebenarnya merupakan ajaran yang sangat universal. Saudara-saudara kita yang beragama Budha misalnya, pun memiliki ajaran yang sama, dimana Sang Budha pernah mengatakan,”Kebencian tidak pernah bisa diredam dengan kebencian. Hanya dengan cinta kebencian bisa mereda. Ini adalah hukum alam”. Demikian juga saudara kita yang beragama Kristen/Katolik, ada ajarannya yang relevan dalam Lukas 6: 27-28,”Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membencimu, mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu, berdoalah bagi orang yang mencaci kamu”.
Bukankah itu pesan yang sangat indah, bahwa ketidaksabaran atau pelampiasan emosi hanya akan mendatangkan kepuasan sesaat saja, yang pada akhirnya akan mendatangkan penyesalan di kemudian hari. Bicara soal kepuasan sejati adalah spiritual happiness, yakni saat kita memberikan sesuatu kepada orang lain karena itu akan sangat menyentuh hati nurani kita, atau dalam bahasa lain God Spot, unconscious mind, soul, jiwo, atau etos kita. Sedangkan kebahagiaan pada level yang lebih rendah adalah physical happiness dan emotional happiness, yakni saat kita menerima sesuatu yang menyenangkan dari orang lain, bisa berbentuk penghargaan, perasaan atau fisik.
Makna Sabar
Apakah makna sabar itu? Dalam bahasa Arab, kata ini terdiri dari tiga makna. Pertama, al man’u, artinya menghindarkan diri. Dari apa? Dari semua hal yang membawa pada kesengsaraan, kemaksiatan dan kesalahan. Yang kedua, al hasbu, artinya mencegah. Dari apa? Dari semua perbuatan yang dilarang dan maksiat. Ketiga, asy syiddah, artinya sangat kuat, teguh, konsisten, istiqomah dalam sikap. Tentunya sikap dalam konteks kebaikan.
Bagaimana menggunakan sabar dan kapan mengimplementasikannya?
Sabar dapat dikategorikan menjadi dua, yakni pertama adalah sabar fisik dan kedua adalah sabar jiwa. Sabar fisik juga terbagi menjadi dua macam, yakni sabar terpaksa dan sabar sukarela.
Sabar fisik yang masuk kategori terpaksa, misalnya seseorang yang dilahirkan dalam keadaan tidak lengkap inderanya. Contoh lain misalnya kita sedang sakit, atau manusia yang semakin uzur sehingga kondisi fisiknya makin melemah. Demikian juga saat kita menghadapi bencana alam, gempa bumi, gunung meletus, tsunami dan lain sebagainya. Itu adalah suatu kondisi yang tidak bisa dihindari, sunnatullah dan tidak ada pilihan bagi objeknya untuk memilih. Pun, saat kondisi fisik manusia yang semakin tua dan uzur maka tidak akan bisa memilih kembali menjadi muda, atau saat ada gempa bumi, kita tidak bisa menolaknya. Oleh karena itu ini disebut sebagai sabar fisik yang terpaksa. Lalu bagaimana dengan sabar fisik yang sukarela? Yakni saat kita mempunyai pilihan apakah akan menggunakan fisik kita untuk bersikap sabar ataukah tidak. Ada pilihan (choice). Misalnya kendaraan kita mengalami tabrakan dengan kendaraan lain maka ada pilihan bagi kita apakah kita perlu memperturutkan emosi kita dan menggunakan fisik kita untuk hal yang tidak berguna, misalnya meninju lawan kita, menggertak, ataukah kita lebih memilih untuk bersabar diri untuk menghindari konflik.
Demikian juga sabar jiwa, ada dua, yakni sabar yang termasuk kategori terpaksa dan sabar yang termasuk kategori sukarela. Saat keluarga kita ada yang meninggal dunia maka kita terpaksa menerimanya karena memang tidak bisa kita tolak. Sedangkan sabar sukarela saat kita membersihkan jiwa kita dari hal-hal yang mengotorinya, misalnya iri, dengki, negative thinking, sos (senang melihat orang susah atau sebaliknya susah melihat orang senang), sinis, susah suka memvonis dan penyakit hati lainnya. Ini adalah sabar sukarela, karena ada proses internalisasi dan proses transformasi yang dibentuk dari dalam diri kita sendiri, merupakan pilihan kita sendiri, melalui proses kesadaran kita sendiri karena kita merasa bahwa ini adalah lebih baik bagi kita. Bukankah Allah telah berfirman dalam surat Asy Syams,”Allah mengilhamkan sukma kefasikan dan kebaikan. Beruntunglah bagi yang mensucikannya dan merugilah bagi yang mengotorinya”.
Bukan hanya manusia, bahkan hewan pun ternyata bisa bersabar. Bedanya, kesabaran hewan adalah dalam kategori sabar terpaksa. Misalnya saat berbagai jenis hewan mau kita sembelih untuk dimakan, maka hewan bersikap sabar. Kenapa? Karena memang mereka tidak punya pilihan (choice) dalam hidupnya dan tidak berdaya terhadap manusia, dan memang fithrah mereka untuk digunakan bagi kepentingan umat manusia. Karena manusia telah dilengkapi dengan inftrastruktur yang lebih sempurna dibanding hewan, maka semestinya kita renungkan, apakah kesabaran kita ini masih pada level terpaksa karena memang tidak punya pilihan, ataukah lebih dari itu, yakni sabar sukarela yang muncul dari kesadaran diri untuk memilih sabar sebagai sikap hidup.
Konteks Sabar dalam Kehidupan Kita
Dikaitkan dengan konteksnya, sabar ada tiga macam. Pertama, sabar dalam menjalankan perintah Allah. Dalam keseharian, melaksanakan sholat tepat waktu, membaca Al Qur’an, menghadiri pengajian, shalat malam, berpuasa dan lain sebagainya sesungguhnya bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan secara konsisten dan istiqomah. Kenapa? Banyak hal kesenangan yang harus kita korbankan, misalnya kita tidak bisa berleha-leha, bersantai ria dan sering juga kita mengalami kemalasan untuk melakukan itu. Adalah sebuah perjuangan untuk melawan rasa malas. Dan perjuangan itulah kesabaran. Bayangkan, saat kita puasa sekarang ini, betapa banyak hal kesenangan duniawi yang secara kasat mata kita korbankan, bukan hanya yang diharamkan bahkan terkadang yang halalpun kita korbankan. Itu semua perlu pengorbanan, dan inilah urgensi kesabaran dalam perjuangan itu.
Kedua, sabar dalam menjauhi larangan Allah. Mengapa kok banyak sekali larangan Allah dalam hidup kita? Kita dilarang berdusta, berjudi, membicarakan aib orang, menipu, berzina, meminum alcohol, berjudi, berselingkuh dan lain sebagainya. Padahal, perbuatan berselingkuh, minum alkohol, dan teman-temannya itu, --kata orang lho ya-- bukankah perbuatan yang menyenangkan bagi pelampiasan nafsu kita. Kenapa dilarang? Allah melarang karena perbuatan itu akan menimbulkan berbagai kerusakan dimuka bumi. Untuk itu, dibutuhkan kesabaran dan perjuangan yang kuat.
Ketiga, sabar dalam menerima taqdir Allah. Apapun yang menimpa kita, kita harus bersabar menghadapinya. Baik atau buruk, semua itu adalah ketentuan Allah yang selalu ada hikmahnya bagi kita.
Ketiga hal diatas harus kita pupuk dan kita pelihara untuk diimplementasikan dalam kondisi dan situasi apapun dan bagaimanapun. Kalau ketiga hal ini sudah bisa kita lakukan, setiap hari perintah Allah sudah kita laksanakan dengan penuh kesabaran, setiap hari kita menghindari semua larangan Allah dengan sikap sabar, dan setiap hari kita juga sabar menerima apapun ketentuan dan taqdir Allah maka hidup kita akan jauh lebih nyaman.
Objek Sabar
Lalu, apa saja objek yang kita harus sabar? Setidaknya ada 7 objek, yakni, pertama, kita harus sabar dalam mengelola syahwat kemaluan kita. Ini hal tidak mudah, namun harus diatasi. Organ-organ syahwat ini diciptakan untuk sesuatu yang baik, misalnya untuk berkembang biak, meneruskan keturunan, saling kasih-mengasihi, saling melengkapi dan lain sebagianya. Namun kita lihat, industrialisasi dan komersialisasi syahwat ini sedemikian menjadi bisnis yang tidak pernah mengalami resesi dan downturn dalam situasi ekonomi apapun. Mungkin hanya pada bulan ramadhan saja sedikit ada jeda, setelah itu biasanya rame lagi. Banyak problem sosial yang terjadi. Misalnya banyak anak-anak yang lahir tanpa jelas siapa orangtuanya, aborsi terjadi dimana-mana, skandal yang terjadi bahkan di tempat-tempat yang terhormat. Bayangkan berbagai problem sosial yang timbul sebagai dampak manusia tidak mampu mengelola syahwatnya, demi kenikmatan yang dirasakan hanya sesaat beberapa menit saja.
Kedua, kita diminta sabar dalam urusan syahwat perut. Organ-organ dalam perut dianugerahkan oleh Allah kepada kita dengan sangat sempurna dan memiliki presisi yang sangat tinggi, sampai pada sel-sel, atom, molekul, dan organ yang lebih kecil lainnya. Kalau kita tidak mampu mengelola syahwat perut maka sesuai dengan sabda Rasulullah bahwa perut adalah sumber dari segala penyakit. Makanya banyak berbagai penyakit karena ketidakmampuan dan ketidaksabaran manusia mengelola syahwat perut, diantaranya obesitas, kanker, stroke, jantung dan lain sebagainya. Karenanya beliau mencontohkan untuk makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Dan juga isi perut idealnya berisi dalam tiga bagian, sepertiga untuk makanan, sepertiga air dan sepertiga udara.
Ketiga, kita diminta sabar dalam mengelola syahwat ucapan. Kita harus sabar untuk tidak mengucapkan kata-kata yang hanya sekadar menimbulkan kemarahan orang lain, dusta, memburuk-burukkan orang lain dan lain sebagianya. Ini bukan perkara sepele dan bukan pula hal yang gampang untuk dilakukan. Perlu perjuangan dan kesabaran untuk menahan diri. Kita lihat, bukankah terkadang kita senang dan menikmati berbagai tayangan infotainment yang mengumbar aib seseorang sampai pada hal-hal yang sangat pribadi, dalam media cetak maupun elektronik. Kita membeli majalah, tabloid, dan turut menyebarkannya tanpa pernah peduli betapa malunya orang yang diberitakan aibnya makin beredar oleh kita.
Keempat, kita perlu sabar dalam mengelola syahwat kekuasaan. Ambisi adalah sesuatu hal yang positip namun ambisius cenderung negative. Kalau kita tidak bisa mengelola hal ini dan tidak bersikap sabar, yang timbul adalah sikap menghalalkan segala cara untuk mencapai ambisi kekuasaan itu.
Kelima, kita diminta untuk mengelola emosi kita. Emosi adalah anugerah, namun tetaplah harus dikelola dan dikontrol dengan baik. Karena kalau tidak, akan mengakibatkan berbagai kerusakan.
Keenam, sabar dalam mengelola syahwat harta. Kita dibolehkan mencari harta, bahkan sebanyak-banyaknya, namun harus diperoleh dengan proses yang baik, etik dan halal. Dan ada hak orang lain, yakni zakat. Harta yang diperoleh pun sesungguhnya akan dimintai pertanggungjawaban, dari proses untuk mendapatkannya, proses dalam mengalokasikannya dan memanfaatkannya. Betapa harta yang diperoleh akan justru menjadi boomerang saat kita tidak bisa mempergunakannya dengan baik, untuk peduli dan berbagi dengan sesama, untuk meningkatkan kualitas ibadah kita kepada Allah, untuk menafkahi keluarga pada hal-hal yang positip.
Ketujuh atau terakhir, sabar dalam mengelola syahwat hedonis, yakni kecenderungan untuk semata menikmati hal-hal yang menyenangkan dalam hidup. Hedonisme focus pada kesenangan, dan bisa memunculkan kemalasan, serba instant dan memilih jalan pintas.
Akhirnya, Eureka… Dapatkan Hikmah Sabar di Bulan Ramadhan ini..
Ramadhan adalah proses pembelajaran, continuous learning process bagi kita, yang kita terima tiap tahun. Sudahkah selama ini ada dampaknya bagi kita? Lalu apa implikasi sikap sabar dalam kehidupan kita? Sikap sabar biasanya menimbulkan optimisme dan sikap positif thinking dan positif feeling bagi kita. Orang yang sabar akan selalu punya pengharapan yang baik, optimisme dan hal ini akan mendorong untuk selalu berbuat yang terbaik, dinamis dan aktif.
Saat kita bisa melakukan sikap sabar dengan ikhlas, sebagaimana ikhlasnya kita melakukan shalat atau puasa, adalah merupakan perbuatan yang positip. Perasaan kesal, jengkel, penasaran atau tidak ikhlas adalah perbuatan yang negative. Menurut F. Bailes, Pikiran yang positif akan menyehatkan sel-sel tubh, sebaiknya pikiran yang negative akan merusak sel-sel tubuh. Pikiran yang positive, yang terbentuk, berproses, berinternalisasi dalam diri, bertransformasi dalam alam bawah sadar kita (unconscious mind), jiwa, soul, etos, maka akan menjadi doa yang didengar oleh para malaikat dan diamini, dan akan didengar langsung oleh Allah. Karena, bukankah sesuai firmannya, Allah sangat dekat dengan kita bahkan lebih dekat dari urat nadi kita. Sebaliknya saat seseorang selalu bersikap negatif thinking, pesimis, kecewa, frustasi, merasa kalah, merasa tidak bisa, itupun pada hakekatnya akan membelenggu suara hati, sehingga saat lisan berdoa untuk mendapatkan sesuatu yang baik sementara pikiran dan jiwa masih terbelenggu, bukankah itu menjadi hal yang kontradiktif.
Demikianlah, semoga dengan puasa ramadhan ini, banyak hal yang kita kelola berbagai syahwat diatas, dan hal itu akan menjadikan kita dalam kategori orang yang sabar. Sehingga saat selesai ramadhan kita akan menjadi jiwa yang fitri. Insya Allah.
Referensi:
Bahan Renungan Kalbu, Penghantar Mencapai Penderahan Jiwa, Ir. Permadi Alibasyah.
Sabar Sebagai Perisai Diri, Prof. Dr. Hj. Musdah Mulia, MA, APU