Hari itu, 24 September 2008, sepulang kantor aku menuju Masjid Al Azhar Kebayoran. Masjid ini telah lama dikenal sebagai salah satu pusat kajian Islam yang sangat populer di Jakarta, Indonesia, bahkan juga Asia Tenggara terutama di era Hamka. Nama Al Azhar sendiri diberikan oleh Rektor Universitas Al Azhar Kairo Mesir, sebuah Universitas Islam tertua di dunia, dalam sebuah kunjungan ke Indonesia untuk penganugarahan gelar Doktor Honoris Causa kepada Buya Hamka. Makanya salah satu peninggalan Buya Hamka yang sangat monumental, yakni tafsir Al Qur’an 30 juz, diberi nama Tafsir Al Azhar. Tafsir itu diselesaikannya semasa mendekam di penjara di jalam Orde Lama karena motif politik oleh lawan-lawan politik sosialis dan komunis pada era saat itu. Buya Hamka, bersama para tokoh Masyumi lainnya, waktu itu dipenjara selama 2-3 tahun oleh Soekarno, namun pada akhirnya memutuskan untuk bersedia menjadi Imam di shalat jenazah untuk mengantarkan Soekarno ke alam qubur. Mungkin waktu itu Buya Hamka justru berterima kasih kepada Soekarno, dengan penuh positive thinkingnya, bahwa gara-gara dipenjara itulah maka beliau berhasil menyelesaikan tafsir Al Azharnya.
Saat ini mungkin banyak masjid lain yang fungsinya seperti Al Azhar, bahkan lebih tinggi tingkat intensitas kajian-kajian dan dakwahnya. Pertama, karena faktor Buya Hamka yang telah lewat, kedua mungkin masjid lain banyak berkembang dengan dinamis. Aku sendiri selama ini, semenjak beberapa bulan terakhir ini lebih banyak mengikuti kajian maupun sekadar untuk shalat jamaah, atau i’tikaf di mesjid tersebut. Masjid inipun memiliki sejarah yang cukup panjang, salah satu masjid tertua di Jakarta. Dan saat ini mungkin menjadi salah satu masjid yang paling tinggi intensitas kajian dan dinamika aktifitasnya, yang diadakan oleh takmir masjid maupun remaja masjidnya. Kajian harian ba’da shalat maghrib sangat populer bagi para pekerja dan profesional di Jakarta. Para jamaah yang rata-rata berlatarbelakang sebagai pekerja dan profesional di kawasan ibukota, kebanyakan memilih untuk mampir ke masjid tersebut, daripada bermacet-macet ria saat pulang kantor. Jamaahnya bukan hanya yang tinggal di sekitar Menteng saja, melainkan di pinggiran kota Jakarta, seperti aku yang di Bekasi misalnya. Secara pribadi, aku pernah mengalami semacam pengalaman spriritual di masjid ini dan merasa ada daya tarik tersendiri, dan kerinduan saat sudah lama tidak mengunjungi masjid ini. Awalnya kita diajak oleh salah seorang pengurus takmir yang juga dosen di S2, Pak Irwan Adi Ekaputra, Doktor, yang mengundangku, Febrizal dan Boy untuk mengikuti kajian di masjid ini. Setelah sekali-sekali berkunjung saat masih kuliah, ternyata justru jauh hari setelah kuliah magnet panggilan untuk kesana semakin menguat. Aku merasakan adanya aura yang nyaman saat masuk ke ruang utama masjid. Mungkin karena ber ac sehingga redup dan nyaman, tapi suasana hati jelas bukan karena itu.
Waduh, kok jadi ngelantur membandingkan dua masjid ya.
Jadi kembali ke cerita awal, sepulang kantor aku ke masjid Al Azhar, karena ada janjian dengan seorang teman milis tahajjud calls. Milis ini terdiri dari orang-orang yang haus dan dahaga akan spiritualisme dan menghimpun diri dalam suatu milis yang saling mensupport dan mengingatkan untuk shalat malam melalui miscall. Beberapa yang aktif mengelola milis ini, dan kutahu sangat dinamis dalam diskusi soal keagamaan maupun rajin mengadakan pertemuan, diantaranya mas Agussyafi’i, seorang alumni dari UIN, yang dalam blognya populer dengan pendekatan parentingnya, lalu Neng Dedah, Meidy, Rini, Pak Polisi Mujiarto, Kang Herry, dan beberapa orang lainnya. Aku sendiri member yang gak terlalu aktif dalam milis tersebut, namun tetap mengikuti perkembangan dan mengetahui aktifitas milis ini. Makanya ketika salah satu anggota milis melaunch sebuah tiket pesawat ke Jogja, dan tidak ada yang meresponnya karena jadual waktu yang sangat mepet dengan lebaran, yakni H-1, maka akupun segera menyambutnya. Tadinya aku mau pulang sekitar tanggal 26-27 September 2008, via perjalanan darat. Namun setelah ada tawaran tiket pesawat tanggal 30, kupikir ada baiknya juga, sekalian menuntaskan pencarian hikmah 10 hari terakhir ramadhan. Soal Lailatul Qadar sih, bukannya aku tidak percaya bahwa malam itu benar-benar ada dan nyata bahwa ribuan malaikat turun ke bumi untuk memberikan berkah kepada para manusia yang sedang tekun dan khusyu beribadah, terutama bagi mereka yang beri’tikaf di masjid. Bukan aku tidak percaya. Namun mungkin terjemahan atau tafsirnya saja yang mungkin belum ketemu. Misalnya, apakah benar bahwa tanda-tanda saat lailatur qadar itu misalnya digambarkan orang menyaksikan seperti langit terbelah, atau pohon-pohon dan alam yang bersujud, atau hewan-hewan terdiam, manusia yang sedang terlelap, dan lain sebagainya. Ataukah, mungkin maksud ayat itu lebih ke perjalanan spiritual seseorang, dimana Allah pada malam itu mengilhamkan ketaqwaan yang langsung menghunjam kedalam kalbunya sehingga mendadak ada perubahan level ketakwaan dan perilakunya. Aku tidak tahu apakah fenomena alam yang dahsyat sebagaimana digambarkan dan diyakini oleh kebanyakan muslim di dunia itu benar-benar ada atau tidak, tapi yang jelas aku yakin bahwa 10 malam terakhir ramadhan adalah sangat utama sehingga seorang Rasulullah yang sudah terbebas dari dosa pun tidak pernah meninggalkan i’tikaf 10 hari di akhir ramadhan ini. Ini saja sudah bukti betapa muakadnya level sunnah i’tikaf ini, dan mungkin benar bahwa para malaikat turun berbondong-bondong pada malam ini, sebagaimana malam Nisyfu Sya’ban. Inilah menurutku relevansi Lailatul Qodar, bahwa pada malam ini Hidayah, Rahmat dan Taufiq Allah, yang merupakan hak prerogatif Allah, akan diturunkan kepada siapun yang dikehendakiNya. Sehingga tak heran pada 10 hari terakhir ramadhan ini semua masjid-masjid yang menggelar i’tikaf dipenuhi oleh jamaah yang tak ingin kehilangan perburuan hidayah lailatul qadar. Tentu bukan semata untuk melihat kedahsyatan fenomena alam sebagaimana digambarkan selama ini. Karena pada malam ini diperingati sebagai turunnya Al Qur’an pertama kali, surat Iqra’ ayat 1-5. Atau turunnya surat Al Qadar juga ya? Entahlah, aku belum sempat mencari penjelasannya ke Mr. Google tentang hal ini.
Saat aku sampai di masjid Al Azhar dan mengambil air wudhu, tiba-tiba ada yang memanggilku. Seorang wanita, yang aku langsung ingat. Henny. Adik kelas di fe ugm, beda jurusan, aku di studi pembangunan dan dia di akuntansi. Sejenak aku teringat bahwa pernah aku mboncengin dia dengan motor bmwku –bebek merah warnanye-- , dia yang saat itu pake rok panjang, mendadak kesrimpet roknya di jemari roda, sehingga roknya rusak. Aku selalu pengin minta maaf kepadanya saat teringat hal itu. Dia mengajakku salaman, namun melihatku sudah wudhu mendadak menarik tangganya. Aku bilang,”Udahlah Hen, salaman aja gak papa kok. Aku penganut mazhab bahwa salaman tidak membatalkan wudhu”, kataku sambil tersenyum. Begitu lama kami tidak ketemu. Dulu kami sama-sama aktif di Koperasi Mahasiswa UGM. Aku dan dia di Badan Pengawas, dan era saat itu kami sangat diametral dengan Badan Pengurus. Sampai-sampai kami sempat membuat beberapa orang Pengurus, Ahmad Ma’ruf, sekarang dosen di UMY, menangis saat pertanggungjawaban di RAT. Pengurus lainnya, Wisnu, tampak stress waktu itu, dan ternyata saat ini menjadi suami Henny. Pembelajaran yang kami peroleh saat itu cukup banyak, diantaranya adalah untuk menjaga amanah, good corporate governance, saat sebagai mahasiswa sekaligus belajar mengelola bisnis yang beraset milyaran dan memiliki hampir 100 karyawan.
Cukup lama kami ngobrol. Salah satu topik yang menyita waktu obrolan kami adalah saat dia nanyain kabar yang sekilas dia dengar tentang divorcenya aku dengan Hani. Dia sendiri tidak terlalu dekat, namun juga tidak terlalu asing dengan mantan isteriku tersebut, karena sama-sama dari SMA 1 Teladan Jogja, dan salah seorang kakaknya juga sekelas dengan Hani saat SMA. Sekali lagi aku harus mengungkap fakta yang terjadi, tentu saja tidak semuanya. Hal-hal yang penting saja dan aku batasi untuk diketahui oleh teman-teman terdekat saja hal ini terpaksa aku ekspos. Itupun sudah menimbulkan komentar Henny,”Wah, perjalanan Mas Taufiq lebih dari sekadar yang terjadi pada sinetron-sinetron di televisi, seandainya hal itu benar-benar terjadi”, begitu komentarnya. Sekitar setengah jam ngobrol di tanggal masjid, saat mau pamitan untuk shalat, --atau ta’jilan?-- dia menyampaikan ajakan untuk i’tikaf di masjid ini. “Aku Insya Allah i’tikaf disini selama 10 hari mas”, kata dia.
“Ohya, gimana dikau mandi, pakaian, dan segala tetek bengek peralatan perempuan lainnya”, kataku dengan nada heran, mengingat seorang Henny yang kukenal dulu. “Aku sudah mempersiapkan itu semua untuk 10 hari. Mandi di masjid saja, kenapa tidak”, jawab dia. Wah, salut banget dengan jawaban polos dan terkesan simpel. Aku terlalu kaget dengan hal itu sehingga belum sempat menanyakan gimana dengan Wisnu suaminya.
Habis itu aku keatas masjid, sejenak mencari komunitas tahajjud calls yang kabarnya diskusi –atau mengaji, entahlah—di serambi utama masjid. Ketemu. Aku langsung mengucap salam untuk mereka. Begitu membaur kesitu, seorang wanita yang kukenal sebagai neng Dedah, dari Bekasi juga, langsung menyampaikan nota protes,”Wah, mau Taufiq tuh di kereta tidur melulu, sampai-sampai ditegur dari depan mukanya pun gak sadar”, katanya. Tapi dia buru-buru menambahkan,”Berarti mas Taufiq ini tipe laki-laki setia”, katanya. Waduh. Mas Agussyafii sempat mendorongku untuk sharing soal materi esq. Katanya,”Banyak yang ingin merasakan seperti apa esq, sayangnya tarifnya yang Rp. 3 juta terlampau mahal”. Aku bilang soal tarif sih relatif, ada yang Rp. 3 juta, ada yang Rp. 1 juta, ada yang Rp. 500 ribu, bahkan ada yang gratis. Aku bilang, kalaupun aku seandainya kemaren aku terpaksa membayar Rp. 3 juta pun, namun yang aku peroleh dari esq itu jauh lebih bernilai dibandingkan dengan uang tersebut. Ada penghargaan dan momentum yang sedemikian penting bagitu saat pertamakali mengikuti esq. Mungkin momentumnya yang tepat, atau entah faktor lainnya, yang jelas waktu itu terasa betapa saat God Spot seseorang sudah tersentuh, maka memori saat itu akan terasa dalam waktu yang lama. Momentum yang tepat adalah saat aku mengalami ujian yang cukup berat dalam perjalanan hidupku, bahkan mungkin inilah ujian yang paling berat kurasakan, saat kapal rumah tangga oleh, saat mantan pasanganku melakukan berbagai upaya yang sangat tidak wajar terhadap diriku, saat proses penyelesaian memakan waktu lama yang sampai saat ini pun masih belum tuntas, saat aku terpaksa kehilangan kebersamaan dengan anak-anak, Huda dan Syifa yang sangat kusayangi, saat kemudian aku lari ke masjid Sunda Kelapa untuk mengadu kepadaNya, saat aku mengikuti i’tikaf pertama kali dan semakin disadarkan olehNya, bahwa semua yang kita miliki itu tidak abadi dan sewaktu-waktu akan hilang, apapun itu, harta, pangkat, jabatan, materi, anak, isteri. Saat aku begitu menikmati untaian syair Abunawas, lagu Istighfar yang dikemas dengan sangat baiknya, dzikir Asmaul Husna, lalu shalat Taubat, mengakui secara blak-blakan kepadaNya betapa banyaknya dosa-dosa besar yang telah kuperbuat, dan tiada yang bisa dilakukan kecuali sekadar mohon ampunan. Lalu dilanjutkan shalat qiyammullail, yang dilanjutkan dengan perenungan yang sangat menemukan relevansinya dengan perjalanan kehidupanku saat itu. Dalam suasana yang hening dan gelap, Pak Nasaruddin Umar menympaikan tausyiah dengan sangat menyentuh.
Rasanya pengalaman spiritual yang aku alami itu masih begitu membuatku melayang dan belum kembali ke bumi, 3 hari kemudian aku ikut training esq di tempat yang sama. Dan yang membuatku cukup bangga bahwa masjid inilah yang satu-satunya di Indonesia menggelar esq. Perjalanan spiritual disini tidak perlu diterangkan lagi, sejak outer journey, inner journey, dalamnya shalawat nabi setelah lalu perjalanan dan kisah para Nabi dan Rasul, proses Zero Mind Process, upaya pembersihan diri terhadap berbagai belenggu, upaya 5 langkah Rukun Islam dari sejak memperteguh syahadatain, upaya untuk membawa sholat sebagai character bulding, self controlling yang digambar melalui puasa, menanamkan bentuk kepedulian sosial melalui zakat, lalu total action yang digambarkan dalam ibadah haji. Enam prinsip yang terinspirasi daro Rukun Iman yang selalu dipegang teguh, dari star principle, angel principle, learning principle, leadership principle dan lainnya
Itulah perjalanan spiritual, yang digambarkan dilalui oleh dalam waktu puluhan tahun, namun bisa dikemas secara efektif dan efisien saat orang bisa melalui perjalanan spiritual itu dalam waktu hanya 2 atau 3 hari. Hidayah? Mungkin. Mungkin juga aku terlalu berlebihan kalau mengatakan itu sebagai hidayah. Tapi yang jelas, keterbukaan hati dan kalbu terhadap kebenaran, saat itu dan sampai saat ini pun masih sangat terasa.
To be continued...
Saat ini mungkin banyak masjid lain yang fungsinya seperti Al Azhar, bahkan lebih tinggi tingkat intensitas kajian-kajian dan dakwahnya. Pertama, karena faktor Buya Hamka yang telah lewat, kedua mungkin masjid lain banyak berkembang dengan dinamis. Aku sendiri selama ini, semenjak beberapa bulan terakhir ini lebih banyak mengikuti kajian maupun sekadar untuk shalat jamaah, atau i’tikaf di mesjid tersebut. Masjid inipun memiliki sejarah yang cukup panjang, salah satu masjid tertua di Jakarta. Dan saat ini mungkin menjadi salah satu masjid yang paling tinggi intensitas kajian dan dinamika aktifitasnya, yang diadakan oleh takmir masjid maupun remaja masjidnya. Kajian harian ba’da shalat maghrib sangat populer bagi para pekerja dan profesional di Jakarta. Para jamaah yang rata-rata berlatarbelakang sebagai pekerja dan profesional di kawasan ibukota, kebanyakan memilih untuk mampir ke masjid tersebut, daripada bermacet-macet ria saat pulang kantor. Jamaahnya bukan hanya yang tinggal di sekitar Menteng saja, melainkan di pinggiran kota Jakarta, seperti aku yang di Bekasi misalnya. Secara pribadi, aku pernah mengalami semacam pengalaman spriritual di masjid ini dan merasa ada daya tarik tersendiri, dan kerinduan saat sudah lama tidak mengunjungi masjid ini. Awalnya kita diajak oleh salah seorang pengurus takmir yang juga dosen di S2, Pak Irwan Adi Ekaputra, Doktor, yang mengundangku, Febrizal dan Boy untuk mengikuti kajian di masjid ini. Setelah sekali-sekali berkunjung saat masih kuliah, ternyata justru jauh hari setelah kuliah magnet panggilan untuk kesana semakin menguat. Aku merasakan adanya aura yang nyaman saat masuk ke ruang utama masjid. Mungkin karena ber ac sehingga redup dan nyaman, tapi suasana hati jelas bukan karena itu.
Waduh, kok jadi ngelantur membandingkan dua masjid ya.
Jadi kembali ke cerita awal, sepulang kantor aku ke masjid Al Azhar, karena ada janjian dengan seorang teman milis tahajjud calls. Milis ini terdiri dari orang-orang yang haus dan dahaga akan spiritualisme dan menghimpun diri dalam suatu milis yang saling mensupport dan mengingatkan untuk shalat malam melalui miscall. Beberapa yang aktif mengelola milis ini, dan kutahu sangat dinamis dalam diskusi soal keagamaan maupun rajin mengadakan pertemuan, diantaranya mas Agussyafi’i, seorang alumni dari UIN, yang dalam blognya populer dengan pendekatan parentingnya, lalu Neng Dedah, Meidy, Rini, Pak Polisi Mujiarto, Kang Herry, dan beberapa orang lainnya. Aku sendiri member yang gak terlalu aktif dalam milis tersebut, namun tetap mengikuti perkembangan dan mengetahui aktifitas milis ini. Makanya ketika salah satu anggota milis melaunch sebuah tiket pesawat ke Jogja, dan tidak ada yang meresponnya karena jadual waktu yang sangat mepet dengan lebaran, yakni H-1, maka akupun segera menyambutnya. Tadinya aku mau pulang sekitar tanggal 26-27 September 2008, via perjalanan darat. Namun setelah ada tawaran tiket pesawat tanggal 30, kupikir ada baiknya juga, sekalian menuntaskan pencarian hikmah 10 hari terakhir ramadhan. Soal Lailatul Qadar sih, bukannya aku tidak percaya bahwa malam itu benar-benar ada dan nyata bahwa ribuan malaikat turun ke bumi untuk memberikan berkah kepada para manusia yang sedang tekun dan khusyu beribadah, terutama bagi mereka yang beri’tikaf di masjid. Bukan aku tidak percaya. Namun mungkin terjemahan atau tafsirnya saja yang mungkin belum ketemu. Misalnya, apakah benar bahwa tanda-tanda saat lailatur qadar itu misalnya digambarkan orang menyaksikan seperti langit terbelah, atau pohon-pohon dan alam yang bersujud, atau hewan-hewan terdiam, manusia yang sedang terlelap, dan lain sebagainya. Ataukah, mungkin maksud ayat itu lebih ke perjalanan spiritual seseorang, dimana Allah pada malam itu mengilhamkan ketaqwaan yang langsung menghunjam kedalam kalbunya sehingga mendadak ada perubahan level ketakwaan dan perilakunya. Aku tidak tahu apakah fenomena alam yang dahsyat sebagaimana digambarkan dan diyakini oleh kebanyakan muslim di dunia itu benar-benar ada atau tidak, tapi yang jelas aku yakin bahwa 10 malam terakhir ramadhan adalah sangat utama sehingga seorang Rasulullah yang sudah terbebas dari dosa pun tidak pernah meninggalkan i’tikaf 10 hari di akhir ramadhan ini. Ini saja sudah bukti betapa muakadnya level sunnah i’tikaf ini, dan mungkin benar bahwa para malaikat turun berbondong-bondong pada malam ini, sebagaimana malam Nisyfu Sya’ban. Inilah menurutku relevansi Lailatul Qodar, bahwa pada malam ini Hidayah, Rahmat dan Taufiq Allah, yang merupakan hak prerogatif Allah, akan diturunkan kepada siapun yang dikehendakiNya. Sehingga tak heran pada 10 hari terakhir ramadhan ini semua masjid-masjid yang menggelar i’tikaf dipenuhi oleh jamaah yang tak ingin kehilangan perburuan hidayah lailatul qadar. Tentu bukan semata untuk melihat kedahsyatan fenomena alam sebagaimana digambarkan selama ini. Karena pada malam ini diperingati sebagai turunnya Al Qur’an pertama kali, surat Iqra’ ayat 1-5. Atau turunnya surat Al Qadar juga ya? Entahlah, aku belum sempat mencari penjelasannya ke Mr. Google tentang hal ini.
Saat aku sampai di masjid Al Azhar dan mengambil air wudhu, tiba-tiba ada yang memanggilku. Seorang wanita, yang aku langsung ingat. Henny. Adik kelas di fe ugm, beda jurusan, aku di studi pembangunan dan dia di akuntansi. Sejenak aku teringat bahwa pernah aku mboncengin dia dengan motor bmwku –bebek merah warnanye-- , dia yang saat itu pake rok panjang, mendadak kesrimpet roknya di jemari roda, sehingga roknya rusak. Aku selalu pengin minta maaf kepadanya saat teringat hal itu. Dia mengajakku salaman, namun melihatku sudah wudhu mendadak menarik tangganya. Aku bilang,”Udahlah Hen, salaman aja gak papa kok. Aku penganut mazhab bahwa salaman tidak membatalkan wudhu”, kataku sambil tersenyum. Begitu lama kami tidak ketemu. Dulu kami sama-sama aktif di Koperasi Mahasiswa UGM. Aku dan dia di Badan Pengawas, dan era saat itu kami sangat diametral dengan Badan Pengurus. Sampai-sampai kami sempat membuat beberapa orang Pengurus, Ahmad Ma’ruf, sekarang dosen di UMY, menangis saat pertanggungjawaban di RAT. Pengurus lainnya, Wisnu, tampak stress waktu itu, dan ternyata saat ini menjadi suami Henny. Pembelajaran yang kami peroleh saat itu cukup banyak, diantaranya adalah untuk menjaga amanah, good corporate governance, saat sebagai mahasiswa sekaligus belajar mengelola bisnis yang beraset milyaran dan memiliki hampir 100 karyawan.
Cukup lama kami ngobrol. Salah satu topik yang menyita waktu obrolan kami adalah saat dia nanyain kabar yang sekilas dia dengar tentang divorcenya aku dengan Hani. Dia sendiri tidak terlalu dekat, namun juga tidak terlalu asing dengan mantan isteriku tersebut, karena sama-sama dari SMA 1 Teladan Jogja, dan salah seorang kakaknya juga sekelas dengan Hani saat SMA. Sekali lagi aku harus mengungkap fakta yang terjadi, tentu saja tidak semuanya. Hal-hal yang penting saja dan aku batasi untuk diketahui oleh teman-teman terdekat saja hal ini terpaksa aku ekspos. Itupun sudah menimbulkan komentar Henny,”Wah, perjalanan Mas Taufiq lebih dari sekadar yang terjadi pada sinetron-sinetron di televisi, seandainya hal itu benar-benar terjadi”, begitu komentarnya. Sekitar setengah jam ngobrol di tanggal masjid, saat mau pamitan untuk shalat, --atau ta’jilan?-- dia menyampaikan ajakan untuk i’tikaf di masjid ini. “Aku Insya Allah i’tikaf disini selama 10 hari mas”, kata dia.
“Ohya, gimana dikau mandi, pakaian, dan segala tetek bengek peralatan perempuan lainnya”, kataku dengan nada heran, mengingat seorang Henny yang kukenal dulu. “Aku sudah mempersiapkan itu semua untuk 10 hari. Mandi di masjid saja, kenapa tidak”, jawab dia. Wah, salut banget dengan jawaban polos dan terkesan simpel. Aku terlalu kaget dengan hal itu sehingga belum sempat menanyakan gimana dengan Wisnu suaminya.
Habis itu aku keatas masjid, sejenak mencari komunitas tahajjud calls yang kabarnya diskusi –atau mengaji, entahlah—di serambi utama masjid. Ketemu. Aku langsung mengucap salam untuk mereka. Begitu membaur kesitu, seorang wanita yang kukenal sebagai neng Dedah, dari Bekasi juga, langsung menyampaikan nota protes,”Wah, mau Taufiq tuh di kereta tidur melulu, sampai-sampai ditegur dari depan mukanya pun gak sadar”, katanya. Tapi dia buru-buru menambahkan,”Berarti mas Taufiq ini tipe laki-laki setia”, katanya. Waduh. Mas Agussyafii sempat mendorongku untuk sharing soal materi esq. Katanya,”Banyak yang ingin merasakan seperti apa esq, sayangnya tarifnya yang Rp. 3 juta terlampau mahal”. Aku bilang soal tarif sih relatif, ada yang Rp. 3 juta, ada yang Rp. 1 juta, ada yang Rp. 500 ribu, bahkan ada yang gratis. Aku bilang, kalaupun aku seandainya kemaren aku terpaksa membayar Rp. 3 juta pun, namun yang aku peroleh dari esq itu jauh lebih bernilai dibandingkan dengan uang tersebut. Ada penghargaan dan momentum yang sedemikian penting bagitu saat pertamakali mengikuti esq. Mungkin momentumnya yang tepat, atau entah faktor lainnya, yang jelas waktu itu terasa betapa saat God Spot seseorang sudah tersentuh, maka memori saat itu akan terasa dalam waktu yang lama. Momentum yang tepat adalah saat aku mengalami ujian yang cukup berat dalam perjalanan hidupku, bahkan mungkin inilah ujian yang paling berat kurasakan, saat kapal rumah tangga oleh, saat mantan pasanganku melakukan berbagai upaya yang sangat tidak wajar terhadap diriku, saat proses penyelesaian memakan waktu lama yang sampai saat ini pun masih belum tuntas, saat aku terpaksa kehilangan kebersamaan dengan anak-anak, Huda dan Syifa yang sangat kusayangi, saat kemudian aku lari ke masjid Sunda Kelapa untuk mengadu kepadaNya, saat aku mengikuti i’tikaf pertama kali dan semakin disadarkan olehNya, bahwa semua yang kita miliki itu tidak abadi dan sewaktu-waktu akan hilang, apapun itu, harta, pangkat, jabatan, materi, anak, isteri. Saat aku begitu menikmati untaian syair Abunawas, lagu Istighfar yang dikemas dengan sangat baiknya, dzikir Asmaul Husna, lalu shalat Taubat, mengakui secara blak-blakan kepadaNya betapa banyaknya dosa-dosa besar yang telah kuperbuat, dan tiada yang bisa dilakukan kecuali sekadar mohon ampunan. Lalu dilanjutkan shalat qiyammullail, yang dilanjutkan dengan perenungan yang sangat menemukan relevansinya dengan perjalanan kehidupanku saat itu. Dalam suasana yang hening dan gelap, Pak Nasaruddin Umar menympaikan tausyiah dengan sangat menyentuh.
Rasanya pengalaman spiritual yang aku alami itu masih begitu membuatku melayang dan belum kembali ke bumi, 3 hari kemudian aku ikut training esq di tempat yang sama. Dan yang membuatku cukup bangga bahwa masjid inilah yang satu-satunya di Indonesia menggelar esq. Perjalanan spiritual disini tidak perlu diterangkan lagi, sejak outer journey, inner journey, dalamnya shalawat nabi setelah lalu perjalanan dan kisah para Nabi dan Rasul, proses Zero Mind Process, upaya pembersihan diri terhadap berbagai belenggu, upaya 5 langkah Rukun Islam dari sejak memperteguh syahadatain, upaya untuk membawa sholat sebagai character bulding, self controlling yang digambar melalui puasa, menanamkan bentuk kepedulian sosial melalui zakat, lalu total action yang digambarkan dalam ibadah haji. Enam prinsip yang terinspirasi daro Rukun Iman yang selalu dipegang teguh, dari star principle, angel principle, learning principle, leadership principle dan lainnya
Itulah perjalanan spiritual, yang digambarkan dilalui oleh dalam waktu puluhan tahun, namun bisa dikemas secara efektif dan efisien saat orang bisa melalui perjalanan spiritual itu dalam waktu hanya 2 atau 3 hari. Hidayah? Mungkin. Mungkin juga aku terlalu berlebihan kalau mengatakan itu sebagai hidayah. Tapi yang jelas, keterbukaan hati dan kalbu terhadap kebenaran, saat itu dan sampai saat ini pun masih sangat terasa.
To be continued...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar